
"Katakan anak siapa yang kau kandung?" Tanya Rayan dengan menatap tajam Jia.
"Anak kita Mas, memangnya anak siapa?" Jawab Jia dengan yakin.
Sejak kejadian dikantor itu, Rayan memang sering berhubungan dengan Jia selama lima bulan ini meskipun Rayan tidak sering mungkin dan Jia yakin jika anak yang dia kandung adalah anak Rayan.
Bibir Rayan menyunggingkan senyum sinis. "Yakin dia anakku." Ucap Rayan dengan berdiri didepan Jia yang duduk disofa.
Jia menggaguk mantap. "Mas kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" Tanya Jia yang merasa jika Rayan tidak yakin dengan anak yang dia kandung.
Rayan malah tertawa keras mendengar pertanyaan dari Jia.
"Kenapa? apa aku salah bertanya? apa kamu memang menyembunyikan sesuatu dariku?" Tatapan Rayan begitu mengintimidasi Jia, membuat tubuh Jia gemetar.
"Heh, terserah apa yang kau lakukan, karena aku tidak perduli." Rayan berjalan kembali menuju kursi kebesarannya.
"Ray_"
Rayan mengangkat tangannya bertanda jika Jia harus diam.
"Dengarkan aku baik-baik." Rayan menatap Jia dengan tajam. "Anak yang kau kandung bukanlah darah daging ku, karena aku tidak akan memiliki anak dari wanita manapun termasuk kamu." Ucapan Rayan membuat Jia membulatkan kedua matanya.
"Ray, kamu gila! aku istrimu dan kamu tidak mengakui_"
__ADS_1
"Aku melakukan Visektomi apa kau puas!!" Bentak Rayan dengan suara keras.
Jederr
Jia menutup mulutnya tak percaya, kepalanya menggeleng tidak mungkin Rayan melalukan ini.
"Tidak." Tubuh Jia bergetar dengan air mata yang yang mengalir deras, apa yang dia takutkan terjadi.
"Jadi lebih baik kau minta pria yang sudah tidur denganmu untuk mengakui itu bayinya."
Tubuh Jia merosot kelantai, ini adalah kenyataan menyakitkan untuk dirinya. Bagiamana bisa dirinya hamil anak orang lain sedangkan dirinya memiliki suami.
Bayangan malam panas yang pernah dia lakukan dengan pria asing yang tidak dia kenal kembali berkelebat dikepelanya. Jia menyentuh kepalanya yang terasa pusing mengingat malam panjang yang pernah dia lakukan dengan pria asing saat frustrasi oleh perlakuan Rayan yang tidak mau menyentuhnya.
"Heh, jangan mimpi." Rayan pergi meninggalkan Jia yang berteriak memanggil namanya, tapi Rayan sama sekali tidak menghiraukan tangisan dan teriakan Jia.
.
.
Moscow
Brian terseyum saat melihat Kalila datang dengan membawa secangkir kopi keruang kerjanya, wanita yang semakin cantik dan seksi diusia kehamilanya yang memasuki trimester terakhir, Kalila semakin cantik dan tumbuhnya semakin membuat Brian candu.
__ADS_1
"Kopinya sayang." Kalila menaruh cangkir kopi yang atas meja kerja suaminya.
"Terima kasih Mommy." Brian terseyum, dan mengulurkan tangannya untuk menyuruh Kalila mendekat.
Kalila terseyum dan dengan senang hati dirinya duduk diatas pangkuan suaminya.
"Jagoan Daddy." Brian mengecup perut buncit sang istri dengan lembut.
"Apa kamu merasa tegang, menyambut kelahiran anak kita." Tanya Brian pada Kalila yang mengelus rambut Brian.
"Hm, mungkin iya kak. Karena ini pertama kali untukku." Jawab Kalila dengan senyum.
Tangan Brian mengusap pipi Kalila, "Aku akan menemanimu menjelang anak kita lahir, setelah acara penting kantor minggu depan aku akan cuti untuk menemanimu."
Brian memang sudah merencanakan hal ini, dirinya akan mengambil cuti setelah pertemuan antar pembisnis untuk mencari perusahaan mana yang pantas untuk melakukan kerja sama proyek besar dieropa ini.
Tidak banyak perusahaan yang Dominique undang, hanya perusahaan-perusahaan yang berkompeten.
"Terima kasih kak." Kalian mencium pipi Brian.
"Kenapa hanya dipipi, aku mau juga disini." Brian menujuk bibirnya, bertanda ingin dicium dibibir.
Cup
__ADS_1
Kalila mencium bibir Brian sekilas, tapi Brian tidak menyia-nyiakan kesempatan menekan tengkuk Kalila, untuk memperdalam cumbuan keduanya.