Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Rayan yang dingin dan kaku


__ADS_3

Siapa orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, Saras dan juga Roy ingin melihat putra satu-satunya itu bahagia dengan memiliki keluarga kecil, mereka sudah tua dan ingin meminang cucu dari putranya. Tapi melihat Rayan yang enggan untuk kembali membina rumah tangga, membuat Saras ingin mencarikan putranya pendamping hidup.


Tapi lihatlah, Rayan saja sama sekali tidak tertarik dengan wanita cantik yang Saras bawa.


Tapi demi Mamanya Rayan menerima ajakan makan siang dan sekarang mereka duduk bertiga dengan satu meja.


Jia sejak tadi selalu mencuri pandang pada duda tampan didepanya ini, Rayan yang cuek pura-pura tidak tahu padahal dirinya risih.


Dulu memang dirinya pria yang brengsekk dan tidak punya hati, tapi kehilangan dan kepergian Kalila membuat Rayan mengerti sesuatu dan merubah semua semua sifat buruknya hingga ingin menjadi orang yang bisa membuat wanitanya kembali. Tapi semua itu tidak mungkin.


"Halo Pah." Saras menerima telpon dari suaminya.


"Mama sedang direstoran xx bersama Ray dan Jia."


"...."


"Baiklah Mama kesana."


Rayan hanya menatap Mamanya sekilas lalu, kembali pada gawai yang dia pegang sepertinya lebih menarik dari pada bicara pada wanita cantik yang duduk didepannya.


"Ada apa Tante?" Tanya Jia yang melihat Saras memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Tante harus pergi Jia, rekan suami Tante ada yang masuk rumah sakit, dan tente akan menemani suami Tante."


Jia menggaguk, Saras bergantian menatap Rayan.


"Ray, Mama minta tolong antarkan Jia pulang ya." Ucap Mama Rayan dengan tatapan memohon, dirinya tahu jika putranya hanya terpaksa mengiyakan permintaannya.

__ADS_1


"Hm." Rayan hanya berdehem.


Saras terseyum, "Baiklah, Mama pergi dulu."


"Hati-hati Mah, salam untuk papa." Rayan mencium pipi mamanya.


"Iya Nak."


"Jia, Tante pamit." Bergantian memeluk dan cipika-cipiki, Saras pun pamit pergi meninggalkan kedua orang yang saling diam dan canggung, terutama Jia yang merasa seperti kacang, dicueki.


"Em, Mas. Mau nambah?" Ucap Jia basa basi.


Rayan hanya melirik sekilas. "Tidak."


Jia menjadi kikuk, tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rayan yang kaku dan dingin.


"Kantor, jika masih lama aku duluan." Ucap Rayan berniat untuk pergi.


"Tunggu Mas." Jia ikut berdiri, dan mengambil tasnya, "Kau ikut." Lanjutnya segera mengekori Rayan yang lebih dulu berjalan.


"Sumpah, bikin orang penasaran aja." Gumam Jia dengan menatap punggung tegak Rayan dari belakang.


Meskipun sudah diberi tahu oleh Saras jika Rayan kaku dan dingin. Jia berpikir akan mudah menaklukkan pria itu seperti pria yang sudah dia taklukkan, tapi ternyata pria didepanya ini diibaratkan seperti gunung Es yang mampu membuat orang disekitarnya ikut beku.


Rayan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan Jia yang duduk anteng di kursi penumpang sampingnya, tak lama ponsel Rayan bergetar, tanda panggilan masuk.


"Ya." Jawabnya dengan suara rendah.

__ADS_1


Rayan menatap jam ditanganya, sambil mendengar asistennya bicara dari earphone bluetooth yang tersemat ditelinga.


"Sepuluh menit saya akan sampai."


Tut


Ciittt


Rayan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Membuat Jia bingung.


"Kenapa berhenti Mas."


"Turunlah, saya ada metting penting." Ucap Rayan dengan menatap Jia sekilas.


Jia membelalakkan matanya. "Tapi ini masih_"


"Naik taksi yang ada dibelakang." Ucap Rayan tegas.


Mau tidak mau, dengan perasaan kesal dan dongkol, Jia akhirnya keluar dari mobil Rayan dengan membanting pintu keras.


Brak


Bruummm


Rayan segera melesat pergi, setelah pintu mobilnya tertutup, tidak perduli dengan wanita yang dia turunkan dipinggir jalan dengan perasaan kesal dan dongkol.


"Pria nyebelin." Jia mengehentakkan kedua kakinya menatap mobil Rayan yang sudah tidak terlihat, akhirnya dia memilih menghentikan taksi.

__ADS_1


__ADS_2