
Kalila duduk bersandar di ranjang pasien, wanita itu dengan senang hati menerima suapan demi suapan dari tangan sang ibu. Ibu yang sudah melahirkannya dan membesarkannya dengan kasih sayang, ibu yang tidak pernah memukul ataupun memarahinya.
"Kamu pasti kangen masakan Mama." ucap Kania yang senang melihat putrinya begitu lahap memakan masakan yang dia bawa dari rumah.
Niatnya tadi ingin makan siang bersama dirumah bersama Kalila, tapi malah menjadi makan di rumah sakit.
"Iya Mah, Kalila kangen masakan Mama, kangen banget malah." Bibir Kalila tersenyum, tapi pancaran kedua matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Sudah nak, setelah ini tidak ada yang akan menyakitimu lagi." Kania mengelus rambut putrinya dengan sayang. Sebagai seorang ibu, secara naluri dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan putrinya.
Kalila hanya terseyum. " Iya mah."
Ceklek
Ardian masuk, pria paruh baya itu tersenyum.
"Sudah lebih baik." Ardian mengecup kening putrinya. Meskipun yang Ardian tahu jika Kalila pernah memiliki masa lalu yang buruk, tapi pria itu tidak bisa menyakiti putrinya. Dia mendidik kedua putrinya dengan penuh kasih sayang, meskipun Karina sedikit keras dan urakan, tapi Ardian tidak pernah berlaku kasar pada Karina, bahkan kedua putrinya belum pernah tersentuh tanganya menggunakan kekerasan.
"Sudah Pah, terima kasih sudah mau menjenguk Kalila."
Kalila tidak tahu jika kedua orang tuanya yang membawa dirinya kerumah sakit, dan kalila masih bersikap biasa layaknya tidak memiliki masalah dalam rumah tangganya.
Ardian dan Kania saling tatap.
"Iya nak, sebaiknya kamu istirahat agar cepat sembuh, dan bisa pulang." Kania mengusap lengan putrinya.
Ardian duduk disofa, dengan ponsel ditanganya, sedangkan Kania menemani Kalila agar istirahat.
__ADS_1
"Pah bagaimana?" Kania duduk disamping Ardian ketika Kalila sudah terlelap.
"Tian akan mengurus surat perceraian mereka, papa sudah tidak bisa lagi membiarkan Kalila disakiti Rayan lagi Mah."
Ardian menatap putrinya yang berbaring tidur, sungguh Ardian merasa gagal menjadi seorang ayah, dengan membiarkan putrinya menikah dengan pria yang dia anggap baik dan akan melindungi putrinya tapi apa yang dia lihat membuat hatinya ikut sedih.
"Bagaimana kalau mas Roy tidak menerima Pah." Tanya Kania yang mengingat Tuan Roy yang begitu menginginkan Kalila menjadi menantunya. "Mas Roy sangat ingin memilki menantu seperti Kalila." Ucap Kania lagi.
"Kalila bisa menjadi anaknya, tapi tidak lagi menjadi menantunya, mereka masih bisa mengaggap Kalila anak jika mereka mau."
Kania mengangguk.
Rayan sejak tadi menunggu diluar, pria itu duduk dikursi tunggu sejak Kalila dipindahkan diruang rawat.
Rayan yang ingin masuk tidak memiliki keberanian, dia cukup sadar diri dengan apa yang sudah dia perbuat pada Kalila, tapi dia juga tidak ingin pernikahannya berantakan, Rayan tidak ingin ada perceraian.
Katakan saja egois, ketika dia menyakiti Kalila, Rayan tidak sadar jika perbuatanya akan berdampak pada pernikahannya, meskipun bukan Kalila yang memutuskan, tapi ada keluarga yang siap membantu Kalila jika terjadi sesuatu, dan kini Rayan baru menyadari jika Kalila wanita yang sudah membuat perasaanya tak karuan, dan Rayan sendiri tidak bisa untuk mengendalikan dirinya.
Brian yang berjalan dari lorong melihat Rayan tak lain adalah suami dari wanita yang dia cintai, dia melihat Rayan yang menunduk dengan jemarinya untuk menyangga di bagian kening, Rayan seperti seseorang yang sedang bingung.
"Untuk apa kau menunggu orang yang kau sakiti." Brian berhenti tepat didepan Rayan, pria itu berdiri dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celana.
Rayan mendongak, dan menatap tajam Brian yang menatapnya datar.
"Kau..!" Rayan langsung berdiri dan mencekram kerah kemeja Brian kuat. "Ini semua karena kau yang berani membawa Kalila pergi,"
Brian hanya diam, tapi tatapan matanya berubah tajam ketika Rayan menyebut nama Kalila.
__ADS_1
Brian menepis tangan Rayan yang mencekram kerah bajunya hingga terlepas.
"Berpikirlah sebelum bicara, suami tidak ada yang tega membiarkan istrinya mendekam di penjara dan_"
"Penjara? siapa yang masuk penjara Bri?" Tanya Ardian yang baru saja ingin keluar, tapi hanya diam di ambang pintu ketika melihat dua orang pria yang saling beradu permusuhan.
Rayan terkejut melihat papa Kalila berdiri disana, sedangkan Brian santai menatap wajah Rayan yang panik dan juga takut.
"Katakan siapa yang dipenjara? istri? apa yang kamu maksud_"
"Ya, Kalila mendekam di penjara selama dua hari setelah Kalila pulang dari rumah sakit."
Bukan Brian maupun Rayan, Karina tiba-tiba muncul dibelakang kedua pria itu.
"Karina.."Rayan menatap Karina dengan isyarat menggeleng, agar Karina tidak mengatakan yang sejujurnya.
"Apa? lu masih mau perlakukan adik gue dengan kelakuan toxic lu itu." Karina menunjuk wajah Rayan. "Asal lu tau Ray." Karina menarik napas dalam sebelum di kembali bicara untuk mengungkap apa yang seharusnya mereka tahu dari awal. "Gue," Karina menujuk dirinya sendiri. "Gue yang udah bikin celaka kalian waktu itu, gue yang mengemudikan mobil itu dan karena gue Kalila juga yang harus gue kambing hitamkan soal dia yang mengalami keguguran, asal lu tau gue yang mengalami hal itu dan Kalila rela menanggung ini semua demi gue, dan lu." Karina menunjuk wajah Rayan dengan air mata bercucuran. "Lu pria yang dia cintai sejak sekolah, ku cinta pertamanya tapi ku juga orang pertama yang menyakiti dia Ray, lu pria brengsekk." Karina memukuli dada Rayan membabi buta, Brian yang melihatnya langsung merangkul Karina agar berhenti.
"Sudah Rin," Ucap Brian yang memang sudah tahu kejadiannya seperti apa, tapi Brian juga terkejut dan merasa sedih ternyata Kalila rela menderita demi menutupi aib kakaknya.
Ardian selaku ayah Karina begitu syok, dia pikir putrinya yang Ia sayangi itu benar melakukan hal tercela itu, tapi ternayata disini Kalila lah yang paling menderita.
Rayan tahu jika Kalila berbohong ketika yang mereka tahu jika Kalila mengalami keguguran. Karena dimalam panas itu, Rayan sadar jika dirinya yang pertama untuk Kalila. Tapi Rayan baru mengetahui satu fakta jika kecelakaan itu bukan karena Kalila yang mengemudi tapi Karina lah yang mengemudi.
"Dan kamu harus tau Ray, kamu tidak pantas mendapatkan cinta Kalila, kamu tidak pantas..!" Karina masih terus mengeluarkan kemarahan dengan mengutrakan kekecewaannya pada Rayan.
Deg
__ADS_1
Bibir Rayan terasa kelu, jantungnya kian berpacu cepat. Tumbuhnya terhuyung kebelakang hingga terdengar bunyi nyaring ketika tubuhnya jatuh duduk diatas kursi.
Ardian menatap Rayan dengan tatapan kecewa, kali ini rasa kecewanya begitu besar, dan tekatnya semakin bulat jika Kalila benar harus berpisah dari Rayan.