Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Hanya membayangkan jika Ellard punya adik lagi


__ADS_3

"Cucu grandpa." Jimmy menggendong cucu pertamanya, pria yang sudah berumur diatas lima puluh tahun itu begitu senang melihat cucu pertamanya lahir.


"Dia tampan sepeti Daddy nya grandpa." Ucap Brian dengan senyum.


Kalila masih berbaring diatas brankar dengan posisi setengah duduk, sedangkan Brian duduk disamping Kalila, dipinggir ranjang.


"Ya, dia persis saat kamu bayi." Jawab Jimmy dengan wajah bahagia.


"Em, berarti waktu kecil kamu tampan seperti Ellard kak." Ucap Kalila menoleh pada Brian.


Brian membalas tatapan sang istri. "Tentu saja sayang." Jawab Brian dengan bangga.


Ketakutan Kalila kini tak berarti setelah dirinya tahu jika Ellard adalah putra mereka, dan harapan Kalila menjadi nyata menghilangkan katakutan selama dirinya belum mengetahui jika Ellard adalah buah cintanya dengan sang suami.


Kalila pikir kejadian yang hampir satu tahun lalu membuat sesuatu yang tinggal dalam dirinya, ternyata ketakutannya tidak menjadi kenyataan membuat Kalila begitu senang, tidak dihantui rasa bersalah pada suaminya.


Meskipun Brian sudah mengatakan akan menerima apapun takdir tuhan yang diberi, tetap saja Kalila tidak akan merasa bahagia karena selalu dihantui rasa bersalah.


"Kapan Ardian akan menjenguk cucu tampanya ini." Tanya Jimmy pada kedua anaknya.


"Besok papa dan Mama akan berkunjung dad." Ucap Brian sambil mengelus rambut Kalila.


"Ya, mereka pasti senang melihat cucu yang tampan ini." Jimny benar-benar bahagia mendapatkan cucu laki-laki diusianya yang sudah tak lagi muda dan sisa hidupnya.


Kalila terseyum, dirinya juga merasa bahagia diberi malaikat kecil di tengah keluarga kecilnya sebagai penguat rumah tangganya.


"Sayang, kamu ingin sesuatu?" Tanya Brian ketika baru saja menaruh Ellard di box bayi diruangan VVIP itu.

__ADS_1


"Tidak kak, aku hanya ingin ditemani." Jawab Kalila sambil merentangkan tangannya.


Brian tersenyum, dirinya senang melihat Kalila selalu manja dengannya. Brian menyukai Kalila yang tergantung padanya.


"Kenapa hm?" tanya Brian yang sudah duduk dengan Kalila diatas ranjang, tangannya mengusap lengan Kalila yang bersandar di dada Brian.


"Hanya ingin dipeluk." Jawab Kalila manja.


"Apakah seperti ini begitu nyaman untukmu." Brian mengecup pucuk kepala Kalila, dan memeluk Wanitanya erat.


"Sangat nyaman, bahkan kamu tahu kak, Kalau aku tidak bisa tidur jika tidak kamu peluk." Ungkap Kalila jujur.


"Ya aku tahu."


Brian begitu terenyuh hatinya, Kalila memang tidak bisa tidur nyenyak, tanpa merasakan pelukannya, dan begitu dengan dirinya.


Brian menerawang jauh, bagaimana jika dirinya sudah tidak bisa lagi memeluk tubuh wanita yang dia cintai ini, sungguh Brian belum siap jika tuhan mengambil nyawanya saat ini, dirinya masih ingin menemani istri dan juga anaknya, melalui dan menjalani kehidupan yang bahagia dengan kelaurga kecilnya.


"Em, ya sayang." Brian sedikit tersentak dengan panggilan Kalila yang sedikit keras.


"Kamu melamun?" Tanya Kalila dengan wajah mendongak.


Brian menunduk, membalas tatapan Kalila.


"Tidak, hanya membayangkan jika Ellard memiliki adik lagi." Kelakar Brian membuat cubitan mendarat sempurna di perutnya.


"Auwws sayang sakit." Brian mengaduh ketika rasa panas terasa di permukaan kulit perutnya.

__ADS_1


"Lagian, Ellard belum ada sehari lahir udah bicara aneh-aneh." Omel Kalila sebal.


Brian malah terseyum. "Apa salahnya kita program lagi setelah kamu sembuh."


Bugh


"Kenapa kamu suka sekali kdrt sih." Brian mengusap lenganya yang menjadi sasaran kedua Kalila.


"Habisnya kalau ngomong nggak dipikir dulu, rasa sakitnya aja masih terasa malah ngomong yang bikin aku kesal." Kalila memanyunkan bibirnya lima senti, membuat Brian gemas untuk menggigitnya.


"Iya deh maaf," Ucap Brian sambil mencium kening Kalila.


"Tapi kamu maukan mengandung adik Ellard lagi?" Tanya Brian dengan serius.


"Tentu saja, tapi tidak untuk sekarang."


Brian tersenyum lebar. "Kamu memang wanita terbaik yang aku cintai." Jemari Brian mengusap bibir bawah Kalila, dan wajah keduanya semakin dekat hingga bibir keduanya saling bertaut menikamati sapuan lembut benda kenyal keduanya.


"Ini kamar tuan." Ronal membukakan pintu hotel untuk Rayan.


"Saya dikamar sebelah anda." Ucap Ronal lagi yang diangguki Rayan.


Ronal pun pergi setelah menaruh koper milik Rayan didalam. Sedangkan Rayan langsung duduk dipinggir ranjang dengan menatap layar ponselnya.


"Apa kabar kamu Kalila." Ucap Rayan sambil menatap layar ponselnya yang menunjukan foto pernikahan mereka dulu.


"Semoga kamu selalu bahagia, meskipun aku tidak."

__ADS_1


Rayan menatap sendu, dengan jemarinya yang mengusap layar ponsel miliknya.


Hidupnya kembali tanpa arah ketika Kalila pergi dari hidupnya, hanya ada bekerja dan bekerja di kehidupan Rayan yang sekarang.


__ADS_2