
Plak
Plak
Bukan hanya sekali bahkan dua kali tamparan membuat Kalila jatuh kelantai, wanita itu jatuh dengan wajah mengenaskan, dengan sudut bibirnya yang berdarah dan pipi yang memar.
Rayan menatap tangannya yang merasakan panas, pria itu baru saja menampar Kalila.
"Kak, aku." Rayan tidak sanggup untuk melanjutkan ucapanya, ditatap Kalila dengan sorot mata yang penuh kekecewaan membuatnya tak bisa berkata-kata.
Kalila berdiri, dan pergi meninggalkan Rayan dengan penuh penyesalan.
"Arrgh." Rayan meremas rambutnya kasar, pria itu menyesali perbuatannya.
"Kalila, dengarkan aku." Rayan mengejar Kalila yang masuk kedalam kamar, Kalila pun langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
"Kalila buka pintunya."Rayan menggedor pintu kamar Kalila, "Kal, keluar aku mau bicara." Ucap Rayan dengan suara keras.
Kalila menangis dibelakang pintu, wanita itu nersakan dadanya sungguh sesak.
Mengapa mencintai sepihak sesakit ini, bukan hanya hati, tapi Rayan juga tega melukai fisiknya. Kalila semakin terisak dengan menutup kedua telinganya, mendengar Rayan yang terus berteriak dan menggedor pintu kamarnya.
Kalila berlari dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang dengan tengkurap, wanita itu menangis dengan wajah tengelam dibantal.
Rayan hanya bisa menghela napas pasrah, dirinya hilang kendali dan tidak bisa mengendalikan emosinya ketika untuk pertama kali dirinya ditampar oleh seorang wanita, dan itu sangat melukai harga diri bagi Rayan, hanya saja Rayan tidak sadar jika Kalila seperti itu karena perkataanya.
Keduanya sama-sama merasakan sakit, sakit hati atas apa yang mereka ucapkan, dan tanpa sadar melukai harga diri mereka masing-masing.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi, sejak tadi malam Kalila praktis tidak keluar dari kamar, dan Rayan sampai tertidur di sofa depan tv, pria itu menunggu Kalila keluar kamar tapi nyatanya sampai pagi pun Kalila sama sekali tidak keluar membuat Rayan semakin frustasi dengan rasa bersalahnya.
Ting tong.. ting tong..
Rayan mendengar bel rumah berbunyi nampak bingung, biasanya jika Ronal datang tidak mungkin pria itu menekan bel rumah.
"Ck, siapa sih." Rayan pun beranjak dari duduknya, pria itu tidak menyadari penampilannya yang kacau sejak tadi malam.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka lebar, menampilkan dua orang paruh baya yang membuat jantung Rayan berhenti sejenak.
"Pa-papa Ardian." Rayan terkejut melihat kedua orang tua Kalila berdiri didepan pintu rumahnya.
"Nak Rayan, apa kabar?" Ardian terseyum, pria paruh baya itu melihat wajah Rayan yang terkejut.
"B-baik Pah."
"Ya, sepertinya begitu dan kami ternyata mendapatkan kejutan melihat nak Rayan sudah kembali berjalan seperti semula." Ardian tertawa, dirinya senang melihat Rayan yang sudah bisa kambali berjalan seperti biasa, ini sungguh kejutan dan anugrah dari Tuhan yang luar biasa.
"Kalila Dimana nak?" tanya Kania, "Tadi kami kerumah sakit kami pikir Kalila sudah kembali bekerja setelah sakit, dan ternyata Kalila tidak ada di rumah sakit." Tutur Kania panjang lebar, Rayan menelan salivanya susah, dia tidak tahu harus bicara apa.
Mereka dipersilahkan masuk oleh Rayan, kedua orang paruh baya itu, untuk pertama kali memasuki rumah menantunya dan anaknya tinggal.
"Ray, apa Kalila masih tidur." Tanya Kania lagi dengan senyum, pikiran wanita itu sudah berkelana, apalagi melihat penampilan Rayan yang masih berantakan.
Rayan benar-benar terpojok, dia tidak tahu harus bicara, apa pada kedua orang tua Kalila, dia takut jika Kalila tiba-tiba keluar jika dia berbohong Kalila tidak ada di rumah.
"Em, Kalila."
Prang
"Suara apa itu." Ardian langsung berdiri dan berjalan menuju tempat suara benda jatuh tadi, begitupun dengan Kania yang mengikuti langkah suaminya.
Rayan mengusap wajahnya kasar, selain juga penasaran Rayan juga memiliki ketakutan jika kedua orang tuannya tahu keadaan putrinya.
"Kalila..!" Ardian berteriak ketika melihat putrinya tergeletak di lantai, dengan benda pecah di sampingnya.
Kania menatap putrinya tak percaya, air matanya jatuh seketika. "Kalila sayang."
Rayan menatap tubuh Kalila yang tergeletak di lantai, tak sadarkan diri, tumbuhnya mematung.
"Ray, bantu angkat..!" Ardian berteriak menyadarkan Rayan yang berdiri mematung.
"I-iya Pah." Rayan segera mengendong tubuh Kalila, dan membawanya menuju mobil untuk dibawa kerumah sakit.
"Pah, Kalila kenapa." Kania menangis di pelukan suaminya, wanita itu tidak tega melihat kondisi putrinya yang dia sayangi.
"Rayan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Geram Ardian yang melihat wajah putrinya lebam.
__ADS_1
Ardian tidak menyangka jika putra dari sahabatnya itu, tega memerlukan putrinya seperti itu, tanpa Ardian bertanya dia tahu jika putrinya mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dan Ardian tidak akan tinggal diam jika benar Rayan melakukan hal itu.
Mobil yang dikendarai Rayan dengan kecepatan tinggi, pria itu menunjukan wajah khawatir, tapi tidak membuat Ardian merasa simpati.
Hampir tiga puluh menit, mobil mereka sampai dirumah sakit tempat Kalila bekerja.
Rayan segera menggendong Kalila kembali untuk masuk kedalam dan mencari suster atau perawat.
"Dokter tolong istri saya." Ucap Rayan ketika Kalila dibawa masuk keruang UGD.
Rayan menatap sendu pintu besar yang tertutup rapat, didalam sana ada Kalila yang terbaring lemah.
Bugh
"Papah." Kania menjerit, ketika melihat Rayan tersungkur ke lantai, setelah mendapat pukulan diwajah dari suaminya.
"Kau apakan anakku, ba*ji*gan, kau apakan dia brengsekk."
Bugh
Ardian memeluk Rayan membabi buta, Rayan tidak membalas dirinya memang salah.
"Pah, aku_"
Bugh
Ardian mencekram kerah baju Rayan kuat." Aku menikahkan kau dengan putriku, bukan untuk kau sakiti dan pukuli, kau benar-benar tidak pantas mendapatkan cinta dari putriku, Aku menyesal menikahkan kau dengan Kalila..!! aku menyesal..!!"
Bugh
Kesekian kali Rayan mendapat pukulan dari mertunya, Rayan tidak bisa melakukan perlawanan, dirinya sadar jika sudah menyakiti Kalila. Dan sekarang diirinya merasakan sakit dihatinya.
"Pah, sudah ini dirumah sakit." Ucap Kania yang mencoba melerai suaminya.
Wanita itu tidak ada perkataan untuk Rayan, hanya rasa kecewa dan terluka dengan apa yang dilakukan pada Kalila.
Ardian mencari ponselnya di saku celana, pria paruh baya itu mencoba menghubungi tuan Roy, siapa yang tidak sakit hati dan terluka jika melihat putrinya diperlukan kasar oleh pria yang statusnya sebagai suami, Ardian tidak terima.
"Halo Roy." Ucap Ardian tanpa embel-embel Mas, seperti biasanya.
"Pah, aku mohon maafkan aku. jangan bicarakan masalah ini pada papa." Rayan pun langsung memohon pada Ardian, jika papanya sudah bertindak Rayan tidak bisa lagi ikut campur, Rayan mulai takut jika kedua orangtuanya akan memisahkannya pada Kalila, kali ini Rayan benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
"Pah, aku mohon." Rayan menangkupkan kedua tangannya, didepan dada, memohon agar Ardian tidak memperpanjang masalahnya pada kedua orang tuanya.