Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Permintaan Saras


__ADS_3

"Ray, apa Mama boleh minta sesuatu darimu." Ucap Mama Saras pada putranya.


Malam ini seperti biasa Rayan datang kerumah kedua orangtuanya hanya untuk sekedar makan malam seperti biasanya dua hari sekali.


Ini sudah satu Minggu semejak mamanya membawa wanita bernama Jia itu, dan satu Minggu juga Rayan belum sempat datang kerumah orangtuanya, dia sibuk mengurusi proyek diluar kota.


Rayan berhenti mengunyah, dan menatap Mamanya dengan tatapan ingin tahu.


"Mah." Tuan Roy menggelengkan kepalanya, agar istirnya mengurungkan niatnya untuk bicara hal yang mungkin tidak Rayan terima. Tuan Roy tahu apa yang akan dibicarakan istrinya, karena sebelumnya Saras meminta pendapat pada suaminya, hanya saja beliau kurang yakin dengan permintaan istrinya itu.


"Umur Mama semakin berkurang, Mama_"


"Mah, Mama baik-baik saja. Jangan asal bicara." Sentak Rayan dengan pelan.


Saras hanya mengaguk. "Memang Mama masih sehat, tapi umur seseorang tidak ada yang tahu, begitupun dengan Mama." Lanjutnya dengan menatap Rayan sendu.


"Sebenarnya apa yang ingin Mama katakan, jangan jadikan umur sebagai alasan." Ucap Rayan yang tidak suka mendengarkan perkataan Mamanya.


Saras hanya menghela napas. "Mama hanya ingin melihat kamu menikah, dan memiliki keluarga, tidak ada yang lain." Akhirnya sesuatu yang beliau ingin ungkapnya terlaksana.


Rayan menghela napas, sampai kapan dirinya akan diteror oleh Mamanya sendiri dengan urusan menikah.

__ADS_1


"Mah, biarkan Rayan memilih hidupnya sendiri." Ucap tuan Roy yang tidak ingin melihat putranya tertekan akan perihal pernikahan. Tuan Roy tahu jika waktu lima tahun belum bisa membuat putranya membuka lembaran baru, meskipun dirinya juga menginginkan Rayan kembali memiliki keluarga.


"Tapi Pah, Mama hanya ingin menimang cucu sebelum Mama tiada."


"Mah!"


"Mah!"


Rayan dan tuan Roy sama-sama bersuara.


"Tapi benar kan yang Mama bilang, jika Tuhan sudah berkehendak bisa saja sekarang Mama_"


"Cukup Mah!" Tegas Rayan yang malah semakin kesal. "Jika itu permintaan Mama, oke Ray akan turuti."


Saras terseyum senang. "Kamu serius Ray, mau mengabulkan permintaan Mama?" Tanya Saras dengan mata berbinar.


Rayan menghela napas dalam. " Hanya menikah, selebihnya Mama tidak usah ikut campur dalam rumah tangga Ray." Putusnya tidak terbantahkan.


"Iya Ray, Mama mau kamu menikah dengan Jia."


Meskipun terkesan egois dan memaksa, seorang ibu hanya ingin melihat putranya bahagia di usianya yang sudah tua. Semua orang tua ingin melihat anaknya memiliki keluarga dimana setelah menikah pasti mereka akan menuntut untuk diberikan cucu. Karena sejatinya orang tua tidak akan berhenti jika keinginanya terpenuhi dan masih akan berlanjut ketahap selanjutnya begitupun seterusnya.

__ADS_1


Apa salahnya menuruti permintaan Mamanya toh hanya menikah, Rayan tidak keberatan. Sudah cukup dirinya menegaskan jika tidak boleh ikut campur dalam rumah tangganya. Dan Rayan akan mengabulkan permintaannya Mamanya untuk menikahi wanita yang menjadi pilihan Mamanya.


Dibelahan bumi yang berbeda, Kalila sendang berada di dalam ruangan dokter Obgyn, saat ini Kalila sedang melakukan cekup rutin setiap bulan.


Usia kandungannya sudah memasuki bulan keempat, mual dan muntah dipagi hari sudah berkurang ketika pagi.


Dan Kalila sudah bisa menikmati sedikit makanan yang sebelumnya tidak bisa Ia sentuh.


"Terima kasih dokter." Brian tentu saja bahagia ketika bayi yang Kalila kandung berjenis kelamin laki-laki. Niatnya mereka hanya ingin cekup rutin, tapi tak di sangka jika dokter mengatakan jenin kelamin bayi mereka.


Brian berjalan beriringan dengan istrinya, mengandeng tangan Kalila dengan lembut.


"Sayang, aku ada metting penting dikantor. Jadi aku tidak bisa menemanimu dirumah." Ucap Brian dengan wajah penuh sesal.


Padahal Kalila hari ini tidak ada jadwal dirumah sakit, tapi dirinya yang malah sibuk dan tidak bisa berduaan bersama istri tercinta.


"Tidak apa kak, selesaikan dulu pekerjaan mu aku menunggu untuk makan malam di rumah." Ucap Kalila dengan senyum.


Brian ikut tersenyum, "Pasti sayang, aku tidak akan pulang telat. Aku ingin menu malam ku masakan yang kamu buat." Ucap Brian sambil menyengir.


Kalila hanya geleng kepala. "Baiklah permintaan yang mulia akan saya kabulkan."

__ADS_1


Ucapan Kalila membuat Brian tertawa, sambil mengusap perut Kalila yang sudah menonjol.


"Terima kasih permaisuri ku."


__ADS_2