Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Berharap yang tidak pasti


__ADS_3

Keseharian Kalila disibukkan dengan pekerjaannya di rumah sakit. Meskipun begitu Kalila selalu mendapat perhatian dari Brian. Sebelum jam makan siang Kalila selalu mendapat kiriman makanan dan minuman untuk makan siangnya, tidak lupa sebuah ucapan yang langsung masuk diponselnya setelah makanan itu tiba. Dan saat pulang Brian akan menunggu Kalila di parkiran, menjemput pujaan hati yang sudah beberapa hari menjadi kekasihnya, bahkan Rayan akan melamar dan menikahi Kalila dalam waktu dekat, setelah acara besar yang digelar di negaranya itu.


Kalila yang mendapat perlakuan manis dan perhatian dari Brian merasa bahagia. Sedikit demi sedikit dia bisa melupakan pria yang sudah lama bertahta dihatinya, mungkin bukan melupakan hanya saja Kalila menempatkan nama Rayan disisi hatinya yang lain


Selama ini Kalila berpikir, mungkin Rayan sudah bahagia bersama keluarga kecilnya saat dia tinggalkan, Dimana Cantika yang sudah menjadi istrinya dan sedang mengandung buah hati mereka. Kalila pikir hidup Rayan lebih lengkap dan menjadi keluarga harmonis, mengingat Rayan sangat menginginkan seorang anak. Tanpa Kalila sadari, dia meninggalkan seseorang yang begitu mencintainya, dan sangat terpukul hingga hidupnya terpuruk diambang kematian. Kalila tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Rayan selama dirinya pergi, dan Kalila tidak pernah tahu jika pria itu mencari dan menunggunya hingga sekarang.


"Sus, apa antrian pasien sudah habis?" Tanya Kalila pada suster yang baru masuk.


"Sudah dok." Jawab suster itu dengan merapikan tempat yang untuk melakukan terapi.


Kalila mengangguk, dan merapikan meja kerjanya, masih jam lima sore Kalila masih ada waktu untuk bersiap dan merias diri untuk menemani Brian.


"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu." Ucap Kalila menggunakan bahasa asing untuk bicara dengan asisten suster yang membantunya.

__ADS_1


"Hati-hati dok."


Kalila hanya terseyum, dan meninggalkan ruanganya.


.


.


Kedua pria yang usianya tidak beda jauh itu berjalan beriringan untuk masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka, Ronal duduk dikursi penumpang bagian depan, sedangkan Rayan dibagian belakang.


Jalanan kota yang terkenal kota paling indah itu nampak ramai disore hari, banyak orang-orang yang berjalan kaki, ataupun bersepeda di jalur yang seharusnya untuk mereka. Rayan terseyum saat melihat keluarga kecil dengan satu orang anak laki-laki sekitar umur tiga tahun sedang berjalan kaki bersama, anak kecil itu nampak bahagia kala sang ayah menggendongnya di atas bahu yang kokoh dan tinggi.


"Apa kita memiliki anak Kal." Batin Rayan dengan dada yang kembali membuncah, membayangkan bagaimana jika Kalila pergi dengan membawa sesuatu yang berharga dalam hidupnya, dan Rayan begitu mengharapakan jika mereka memiliki anak setelah hampir dua bulan tinggal bersama.

__ADS_1


Tapi Rayan tidak tahu jika harapannya itu tidak akan pernah terwujud.


"Tuan kita sudah sudah sampai." Ucap Ronal, yang sudah membukakan pintu mobil yang diduduki Rayan, karena melamun Rayan sampai tidak sadar.


Rayan segera keluar dari dalam mobil, menatap bangunan tinggi bertingkat yang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Apartemen yang anda minta tuan." Ucap Ronal yang memang menyiapkan keperluan Rayan.


Rayan tidak ingin tinggal dihotel yang sudah disediakan, dia memilih untuk menyewa apartemen yang lebih nyaman untuknya tinggal.


Rayan mengaguk, dan berjalan untuk masuk ke dalam Lobby untuk mengkonfirmasi kedatanganya,.


Setalah Rayan masuk kedalam lift, seorang wanita baru saja turun dari taksi. Kalila baru saja sampai diaparteman setelah pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2