
Sampainya di Moscow, Brian membawa Kalila kerumah besarnya lebih dulu. Karena di sana hanya ada Jimmy Daddy Brian yang menempatinya. Mommy Brian sudah sudah tidak ada sejak dirinya remaja, mengidap pernyakit kanker sampai merenggut nyawanya. Mommy Brian asli berdarah Asia, karena yang berkerabat adalah mommy Brian, tapi karena Daddy-nya mencintai mendiang istrinya. Semenjak ditinggal Jimmy tidak mau kembali membina rumah tangga meskipun Brian sudah menyuruh Daddy-nya untuk mencari pengganti sang mommy.
Dan Jimmy yang usianya lebih tua dari Ardian papa Kalila.
"Sayang ayo.." Brian mengandeng tangan Kalila untuk masuk kerumah kedua orangtuanya dulu. Brian sebenarnya sudah menyiapkan rumah untuk keduanya, hanya saja Kalila meminta datang kerumah Daddy-nya, karena Kalila pikir Daddy Jimmy kasihan jika hanya tinggal sendiri di rumah besar menjelang hari tuanya.
Keduanya memasuki rumah, atau lebih tepatnya mansion besar milik keluarga Dominique. Brian adalah pewaris satu-satunya yang mewarisi kerajaan bisnis di Eropa ini.
Sampainya didepan pintu keduanya di sambut dengan para maid yang membuahkan pintu.
"Selamat datang tuan dan Nona." Para maid memberi hormat, berjejer rapi sekitar tujuh orang, dan yang satu memakai pakaian paling berbeda.
"Sayang dia Ela, ketua maid disini. Ela sudah sudah disini sejak aku belum lahir." Terang Brian memperkenalkan Ela sebagai kepala pelayan.
"Selamat datang nona muda." Ela sedikit menunduk.
Kalila terseyum manis. "Saya Kalila bik."
"Tuan besar sudah menunggu anda di taman tuan muda."
__ADS_1
Brian mengaguk. "Baiklah, terima kasih." Brian kembali mengandeng tangan Kalila.
Kalila keduanya memang tidak membawa barang apapun, kecuali hanya tas yang Kalila bawa. Semua barang Kalila masih diaparteman.
Sampainya di taman belakang yang luas dengan kolam ikan dan tumbuhan bunga. Brian bisa melihat Daddy-nya yang sedang memberi makan ikan peliharaannya.
Setelah selesai acara, Jimmy memang langsung pulang ke negaranya.
"Daddy." Panggil Brian, membuat Jimmy yang melemparkan makanan ikan menoleh kebelakang.
Jimmy terseyum melihat anak dan juga menantunya tiba di mansionnya.
"Selamat datang di keluarga Dominique nak." Jimmy mencium kening Kalila penuh sayang.
"Iya Om_ Eh Daddy." Ucap Kalila yang keceplosan.
Jimmy teekekeh, sedangkan Brian mendelik dengan tawa.
"Semoga kamu betah tinggal dirumah Brian, jangan sungkan Daddy sudah menganggapmu seperti anak Daddy sendiri." Ucap Jimmy pada menantunya.
__ADS_1
Kalila terseyum haru. Dirinya begitu beruntung memiliki Mertua yang begitu baik dan penyayang, dulu Kalila juga mendapatkan mertua yang juga baik.
"Terima kasih Daddy." Ucap Brian dengan tersenyum.
"Daddy punya hadiah untuk menantu Daddy." Jimmy memeberikan amplop putih yang diatasnya berlogo rumah sakit tempat Kalila bekerja.
Kalila yang penasaran membuka amplop itu. "Daddy ini_" Kalila menatap Daddy Jimmy tak percaya setelah membaca surat cutinya yang diperpanjang selama satu minggu.
"Ya, anggap saja itu hadiah untuk Kalila agar cepat membuat cucu untuk Daddy." Jimmy tertawa, sedangkan Kalila tersipu malu.
Brian senang bukan kepalang. Pasalnya memang susah mendapatkan cuti lama untuk dokter seperti Kalila, tapi sebelumnya Brian berniat untuk menambah cuti untuk Kalila. Tapi kini keinginannya itu sudah diwujudkan oleh Daddy-nya. Keluarga Dominique memang memiliki saham lima puluh persen dirumah sakit tempat Kalila bekerja jadi sangat mudah untuk Daddy Jimmy memeberikan surat itu pada Kalila.
"Sayang lebih baik selama kamu cuti, kita tinggal di rumah lain saja." Ucap Brian yang memilki ide.
Plak
"Apa kamu tidak kasihan daddymu ini." Kesal Jimmy, yang mengerti arti ucapan putranya. "Tapi kalau kamu pergi untuk bebas membuat cucu banyak, Daddy ijinkan."
Gubrak
__ADS_1