
Kalila mengerjakan matanya pelan, tubuhnya terasa berat ketika dirinya dirinya ingin bangun, dan benar saja ketika matanya sudah terbuka, sebuah tangan kekar sedang memeluk dirinya.
Kalila melihat kesamping dimana wajahnya berhadapan dengan wajah Rayan, pria itu masih terlelap terlihat damani.
Mata Kalila melihat kesekeliling, dimana ruangan kamar yang asing tapi Kalila masih mengingat dimana dirinya.
"Dia membawaku ke lantai atas." Ucap Kalila dalam hati.
Kalila ingat jika kamar yang dia tempati adalah kamar utama dirumah Rayan, kamar yang tidak pernah dia tempati, tapi Kalila selalu membersihkannya setiap hari, ketika masih berada dirumah ini dulu.
Perlahan Kalila menyentuh tangan Rayan yang melingkar di atas perutnya, tapi tangan itu malah semakin erat memeluknya.
"Mau kemana sayang."
Suara serak khas bangun tidur, membuat Kalila terdiam dan menoleh, "Kak kau sudah bangun." Kalila melihat wajah Rayan yang masih terlelap, jadi tadi siapa yang bicara?.
Kalila kembali menyingkirkan tangan Rayan, tapi tetap tidak bisa.
"Mau kemana?" Kali ini Rayan sedikit menarik tangannya dan membuat Kalila kembali terlentang di atas bantal.
"Kak, aku mau bangun." Kalila masih berusaha melepaskan diri, tapi Rayan malah semakin mengeratkan pelukannya, hingga Kalila tidak bisa bergerak.
"Nanti sayang, aku masih ingin memelukmu." Rayan bergeser ke bawah sedikit agar tingginya bibawah kepala Kalila, dan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Kalila.
Kalila terdiam, mendengar panggilan sayang yang Rayan berikan entah mengapa tidak ada gelayar aneh lagi dihatinya, rasanya biasa saja.
Perlahan tangan Kalila terangkat untuk mengusap rambut Rayan lembut, Kalila berfikir apa perasaanya sudah mati untuk suaminya, karena semejak Kalila pergi dari rumah ini dia benar-benar membenci Rayan pada saat itu.
__ADS_1
Rayan tersenyum merasakan nyaman ketika berada di dekapan Kalila, dan dia baru merasakan ketenangan ketika diperlakukan Kalila seperti ini, Rayan sungguh menyesali perbuatannya yang dulu, yang suka menghina dan menyakiti Kalila secara hati dan fisik.
"Kak aku mau masak untuk sarapan pagi." Ucap Kalila pelan, dengan tangan yang masih bergerak mengusap kepala Rayan.
Rayan mendongak, menatap wajah Kalila yang juga menatapnya. "Ada pelayan yang memasak," Ucap Rayan yang masih menatap Kalila.
Kalila yang ditatap lekat oleh Rayan merasa kikuk.
"Em, kalau begitu aku ingin kekamar mandi." Kalila mencoba melepaskan tangannya Rayan yang tiba-tiba berada di punggungnya.
Rayan sedikit mengangkat tubuhnya agar lebih tinggi dari Kalila, Tangan satunya menopang tubuhnya agar tidak menindih Kalila.
"Kenapa?" Tanya Kalila yang melihat Rayan terus saja menatapnya. Reflek Kalila mengucek matanya menggunakan jari takut jika ada kotoran di sudut matanya.
Rayan malah terkekeh. "Tidak ada apa-apa." Ucapnya didekat wajah Kalila.
Kalila memanyunkan bibirnya, "Ish, jangan liatin aku kayak gitu." Lama-lama Kalila merasa salting juga, wanita itu memalingkan wajahnya yang bersemu.
Cup
Rayan mengecup pipi Kalila yang berada di depannya, karena wajah Kalila yang menoleh kesamping.
Kalila sontak menoleh, tapi malah membuat Rayan semakin berkesempatan.
Emph
Kalila membulatkan matanya ketika bibirnya langsung diserang dengan kecupan dan lumattan yang Rayan lakukan.
__ADS_1
Rayan menyesap dan melumatt benda kenyal tipis itu bergantian, Kalila yang terbuai memejamkan matanya memeberikan akses untuk Rayan dengan membuka mulutnya.
"Enghh.." Kalila meleguh ketika lidah Rayan melesak masuk kedalam mulutnya, mengapsen setiap inci deretan giginya dan membelit lidahnya lalu menyesapnya kuat.
"Ahhh, engh." Kalila bergerak gelisah, ketika tangan Rayan mulai mengelus lengan dan merambat ke dada menyentuh dia gundukan yang masih terbungkus rapat.
"Kak, shh." Kalila mengeluarkan suara yang begitu indah terdengar oleh Rayan, pria itu dengan semangat mengekplor cumbuannya keleher hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Tangan Rayan tidak diam, perlahan dia membuka kancing kemeja Kalila satu persatu, hingga terlepas dari kaitannya semua, terlihat dua gundukan yang masih tertutup b"ra berwarna hitam. Karena Kalila tertidur lebih dulu, maka dia tidak sempat untuk mengganti pakaiannya dan melepas onderdil yang biasa dia lepas, karena jika tidur malam Kalila tidak pernah memakai dalaman pada bagian atas tubuhnya.
"Kak engh." Kalila semakin mengeluarkan suara erotisnya ketika kelembutannya dimainkan dengan tangan dan juga mulut Rayan.
Kalila sungguh tak bisa lagi menahan hasratnya. Jika dulu Rayan memperlakukannya dengan kasar sekarang pria itu melakukanya dengan lembut, dan Rayan cukup lama bermain di atas tubuh Kalila hingga membuat Kalila lemas setelah mendapat pelepasan pertama dengan mengunakan bibir Rayan.
Napas Kalila menderu, dadanya naik turun seperti habis lari maraton puluhan kilo. Rayan mendongak dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kalila yang sayu dan basah oleh keringat.
"Enak hm." Jemari Rayan mengusap peluh dikening Kalila, menyingkirkan anak rambut yang nempel Karena keringat.
Kalila menatap wajah Rayan dengan tatapan sayu. Rayan tersenyum, "Aku boleh melaluinya."
Kali pertama Rayan meminta ijin dan Kalila merasakan dadanya kembali berdebar mendengar ucapan Rayan.
.
.
.
__ADS_1
Untuk cerita "My Husband Om-Om" Author udah update 2bab dari 2hari yang lalu, dan sampai sekarang masih review belum juga lolos😭
Yang nungguin sabar yaaa,, author juga bingung kenapa nggak lolos-lolos, padahal ngak ada negara api menyembur...😭🙏