
Lima bulan berlalu....
"Tuan ada undangan dari Tuan Dominique Corp untuk pembisnis." Ronal menyerahkan tablet yang dia pengang.
Rayan yang sedang duduk dengan layar datar didepanya mendongak, dan menerima tablet yang Ronal berikan.
Dominique Corp adalah perusahaan keluarga Dominique yaitu Jimmy Dominique, atau sekarang diwariskan pada Brian Dominique.
Para wakil pembisnis yang meraih penghargaan diundang untuk bersaing untuk memenangkan tender di Eropa dan perusahaan Dominique adalah pemegang saham yang akan mencari rekan kerja yang pasti berkompeten dan lebih baik dari yang terbaik.
Kening Rayan mengerut, apa-apa ini? kenapa mereka seolah membuat dirinya menderita dengan melihat kebahagiaan mereka.
Apakah ini rencana Brian untuk membuatnya iri?
Rayan menggeleng, dia tahu Brian Dominique bukanlah pria seperti itu, dan Brian tidak mungkin melakukan itu hanya untuk membalasnya.
"Siapkan saja keperluannya." Ucap Rayan sambil mengembalikan tablet asistennya.
"Baik tuan." Ronal hanya mengaguk, dan pergi.
Rayan menghela napas, kakinya melangkah mendekati jendela kaca besar yang bisa melihat pemandangan gedung tinggi pencakar langit.
Kedua tangannya Ia masukkan ke dalam saku, matanya menatap lurus hamparan Awan putih dilangit.
"Kalila."
__ADS_1
Satu nama yang selalu membuat dadanya sesak. Tidak bisakah Kalila kembali kepadanya, tidak bisakah Tuhan mempersatukan dirinya dengan Kalila lagi.
"Ray!"
Suara familiar membuat Rayan menoleh, pria itu hanya menghela napas melihat Mamanya datang bersama Jia.
"Mama punya kabar baik." Ucap Saras dengan wajah berbinar.
Rayan hanya menanggapi dengan senyum tipis, melihat wajah sang ibu yang sangat bahagia. Melirik Jia wanita itu hanya diam dengan jemari yang saling bertaut.
"Kabar apa mah." ucap Rayan dengan duduk di sofa single.
Saras meraih tangan Jia dan menggenggamnya.
"Jia hamil, selamat Nak."
Rayan menatap Jia tajam, sedangkan Jia hanya menunduk dengan wajah pias.
"Hamil?" Tatapan Rayan tidak lepas dari wajah Jia.
"Iya Ray, tadi Mama antar Jia kedokter karena sejak pagi Jia muntah-muntah." Tutur Saras yang masih dengan ekspresi wajah bahagia.
Saras tidak tahu jika wajah putranya sudah menahan amarah, dan Jia yang bisa melihat begitu takut.
"Heh." Rayan terseyum miring, "Sudah berapa bulan mah?" Tanya Rayan lagi dengan santai, kali ini wajahnya sudah kembali seperti semula, tapi bagi Jia wajah Rayan semakin menakutkan.
__ADS_1
"Enam Minggu Ray." Jawaban Saras semakin membuat Rayan terseyum menyeringai, berbeda dengan Jia yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
Tidak disangka saat dirinya mengalami mual Mama mertuanya datang kerumah, dan Jia yang tidak tahu jika sedang berbadan dua memilih menurut ketika mertuanya mengajaknya ke rumah sakit untuk periksa.
Dan disinilah dirinya, mendapat tatapan tajam Rayan yang mengerikan.
"Jia ingat pesan dokter, kamu tidak boleh lelah dan stress." Ucap Saras pada Jia, "Dan kamu Ray, kurangi jatah mainya jika tidak ingin terjadi sesuatu pada Calon bayimu." Saras menatap Rayan bergantian dengan Jia.
Rayan membuang muka, pria itu merasa hidupnya miris.
"Yasudah Mama pulang dulu, Jia kamu pulang bersama Ray saja, sebentar lagi jam kantor selesai."
"Tapi mah Jia_"
"Mama pulang saja, biar dia pulang bersama Ray." Rayan terseyum menyeringai ketika Jia menatapnya.
"Baiklah kalau begitu mama pulang, jaga diri dan calon cucu Mama baik-baik." Saras mengelus perut rata Jia dengan lembut, membuat Jia terseyum kikuk.
"Hati-hati Mah?" Ucap Rayan ketika mengantarkan Mamanya sampai depan pintu.
Jia duduk gelisah dengan wajah yang sudah pucat, kedua tangannya saling bertautan dengan degub jantung tak beraturan.
Brak
Rayan menutup pintu dengan keras, membuat Jia berjingkat kaget.
__ADS_1
"Apa aku melewatkan hal penting dalam dirimu?"
Pertanyaan Rayan semakin membuat Jia menciut, wanita itu, menuduk dengan ketakutan.