Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Kemarahan Cantika


__ADS_3

Kalila terdiam kaku, sebelum dirinya menyadari jika Rayan ternyata hanya mengigau, pria itu kembali terlelap.


Ronal hanya diam tanpa bicara, sebenarnya sejak dibawa ke rumah sakit diperjalanan Rayan selalu mengingau seperti tadi, tapi Ronal pun tidak tahu siapa yang berada dialam bawah sadar Rayan.


"Kak, cepat sembuh." Kalila ingin melepas tangannya yang digenggam Rayan, tapi pria itu terlalu kuat menggenggamnya sehingga Kalila kesulitan untuk melepasnya.


"Sebaiknya, nona menunggu tuan sampai sadar." Ucap Ronal yang merasa jika tuanya membutuhkan Istrinya.


Kalila menghela napas, Ronal tidak tahu saja jika Rayan sudah membuka mata pasti dirinya akan di usir.


Kalila tidak ada pilihan lain, wanita itu duduk disamping ranjang Rayan, tangganya masih belum dilepaskan Rayan dan Kalila hanya pasrah.


"Kak apa papa dan Mama Saras tidak di beri tahu?" Tanya Kalila tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah suaminya yang terlelap.


"Em, maaf nona. Saya belum memberi kabar, Nona sakit, tuan juga jadi membuat saya bingung." Jawab Ronal jujur. Karena Ronal tidak ingin memperlihatkan rumah tangga tuanya yang memang kurang harmonis pada tuan Roy.


Kalila mengangguk, dia tahu maksud dari yang Ronal katakan.


Kalila juga tidak ingin kedua mertunya melihat bagaimana rumah tangga mereka yang memang tidak harmonis seperti yang mereka inginkan ataupun mereka lihat. Karena memang pernikahan ini tidak diinginkan oleh Rayan, dan Rayan juga begitu membencinya atas apa yang sudah menimpa tunangannya dulu.


Ceklek


Pintu rawat dibuka dari luar, dan masuklah wanita yang tidak asing bagi mereka.


Kalila yang sendang duduk pun berdiri dan menarik kasar tanganya dari genggaman tangan Rayan yang terlelap, hingga membuat Rayan terbangun karena merasa kaget.


"Kau..!!" Cantika menatap tajam Kalila yang berdiri disamping ranjang Rayan, wanita itu sangat ingat pada Kalila, karena Kalila dia kehilangan saudari satu-satunya.


Plak


Cantika langsung menampar pipi Kalila kuat, wanita itu seperti menyimpan dendam dan siap untuk dilampiaskan.


"Nona.."


"Kal."


Rayan dan Ronal sama-sama terkejut, sedangkan Kalila terdiam dengan serangan yang dilakukan Cantika tiba-tiba.

__ADS_1


"Berani kau ada disini, ingat aku sudah mengumpulkan bukti jika kau seharusnya dihukum, dengan apa yang sudah kau lakukan hingga merenggut nyawa adikku..!!" Cantika menatap Kalila tajam dengan napas menggebu-gebu. "Bersiaplah, karena polisi akan membawamu ketempat yang seharusnya."


Cantika tidak perduli jika dirinya berada dirumah sakit, dia hanya ingin melampiaskan amarahnya pada wanita yang sudah menyebabkan kembarannya meninggalkan, dan Cantika tidak menyangka akan bertemu Kalila disini.


"Can, apa yang kamu katakan?" Tanya Rayan yang bingung dengan apa yang Cantika ucapkan.


Ronal, berdiri disamping Kalila. membawa wanita itu sedikit jauh dari wanita licik dimata Ronal.


"Ray, apa kamu tidak mau membuat wanita yang sudah membuat Cintya pergi mendapat hukuman?" Tanya Cantika tidak percaya, dengan apa yang Rayan tanyakan. "Dia sudah membuat tunanganmu pergi untuk selama-lamanya, hingga membuat kamu cacat seperti ini, dan kamu hanya diam saja melihat wanita pembunuh ini berkeliaran di sini..!!" Jari telunjuk Cantika menunjuk pada Kalila.


"Aku bukan pembunuh..!!" Kalila berucap tegas.


Cantika langsung menatap Kalila semakin tajam. "Lalu disebut apa jika kau bukan pembunuh hah..!! disebut apa?! karena kau adik ku meninggal tanpa busa aku lihat untuk yang terakhir kali jawab..!!" Cantika mendorong bahu Kalila kuat, hingga Kalila sampai terhuyung ke belakang, beruntung Ronal berada di belakangnya.


"Kal.." Reflek Rayan ingin membantu Kalila, tapi pria itu sadar jika kakinya masih susah digerakkan.


"Nona jika anda ingin membuat keributan sebaiknya anda pergi." Ucap Ronal tegas dengan tatapan tajam. Ronal sejak tadi diam, tapi melihat istri tuanya di aniaya membuatnya harus bertindak.


"Kau berani mengusirku..!" Cantika berbalik menatap Ronal tajam, keduanya saling adu kekuatan lewat tatapan. "Seharusnya kau mengusir pembunuh itu, bukan aku..!" Tegas Cantika membuat Kalila langsung pergi.


Ronal menggelengkan kepala, berlalu pergi meninggalkan kedua orang yang mungkin saja berpikiran sama.


Rayan tidak bisa berbuat apa-apa, pria dengan keterbatasannya itu hanya nersakan nyeri ketika melihat Kalila yang dipojokkan seperti itu.


"Ray, kau masuk rumah sakit tidak memberitahu." Tanya Cantika yang sudah dalam mode cantik.


Rayan menatap Cantika lekat, membuat Cantika merasa malu diperhatikan seperti itu oleh Rayan.


"Apa yang kau maksud dari ucapan mu tadi?" Tanya Rayan sekali lagi.


Cantika nampak bingung, Ia lupa apa maksud dari pertanyaan Rayan. "Maksud kamu, ucapanku yang mana Ray?" Jawab Cantika bingung.


"Kantor polisi, laporan?" Tanya Rayan tegas.


Cantika tersenyum remeh, "Jadi kamu belum mengerti." Wanita itu menatap Rayan intens. "Aku sidah membuat laporan kecelakaan enam bulan lalu, dan aku sudah mengumpulkan bukti bersama pengacaraku untuk kasus Cintya."


Rayan membulatkan kedua matanya. "Can, kau tidak berhak melakukan itu." Ucap Rayan sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Kenapa? apa aku tidak berhak untuk menuntut orang yang sudah membuat Cintya-ku meninggal, apa aku tidak berhak? katakan dimana yang tidak berhak..!!" Cantika malah emosi dan membentak Rayan.


"Can, sebaiknya kau keluar." Pinta Rayan tanpa melihat wajah Cantika yang semakin kesal.


"Kau mengusirku..?"


"Aku hanya ingin istirahat, dan tidak ingin diganggu." Ucap Rayan dengan dingin, membuat Cantika tidak bisa berkata-kata lagi, wanita itu pergi dengan kekesalannya yang menggunung. Tidak terima jika Kalila masih hidup bebas menghirup udara segar, Cantika ingin wanita itu mendapat hukuman yang setimpal atas apa yang sudah dia perbuat.


Rayan meremas selimut dan menghentakkan, pria itu merasa tidak berguna. "Sialan..!!"


Rayan tidak tahu jika Cantika membuat laporan pada Kalila, padahal kasus mereka sudah ditutup karena Cintya yang mereka tahu gadis yatim piatu, tapi ternyata Cintya memiliki kembaran.


Tujuan Cantika ke negara ini adalah ingin bertemu Cintya, dan Cantika yang sebenarnya sudah bertemu sekali dengan Cintya tidak mengakui didepan Kalila. Cantika sudah mengumpulkan bukti kecelakaan itu dibantu pengacara Daddy-nya, dan Cantika sudah memprosesnya lewat hukum.


Ceklek


Pintu kembali terbuka dari luar, Rayan pun yang kesal langsung menatap Ronal yang masuk.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Ronal yang melihat Rayan berantakan, terutama rambut pria itu.


"Ron, apa yang terjadi pada Kalila? kenapa dia memakai pakaian rumah sakit?" Tanya Rayan yang sejak tadi memikirkan hal itu.


Ronal mengehela napas dalam sebelum menjawab.


"Nona dirawat sejak kemarin, karena itu Nona tidak bisa melakukan terapi dan pulang kerumah tadi malam." Jawab Ronal lengkap dan lugas.


Tenggorokan Rayan tiba-tiba tercekat. "Sakit?" Tanyanya lagi.


"Ya, Nona juga baru tahu tadi pagi sekali, jika anda dirawat." Tambah Ronal.


Rayan hanya diam dengan pikiran yang entah kemana, dia merasa bersalah. Tapi masih tidak ingin mengakuinya.


.


.


Dukung terus karya otor ya sayang-sayang kuhhh... CUKUP LIKE...KOMEN..RATE BINTANG 5, SELEBIHNYA SEIKHLASNYA...🥰🥰🥰🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2