
Dengan tidak tahu diri, Cantika tetap berada dirumah itu, dia tidak ingin pergi karena dia juga berhak atas apa yang di miliki Rayan, Cantika telah mengandung anak dari Rayan, dan Rayan dengan seenaknya mengabaikannya hanya karena ada wanita yang sudah membuatnya benci sejak tahu siapa Kalila.
Cantika duduk manis diruangan televisi, dia duduk dengan makanan dan minuman yang baru saja disiapkan oleh asisten dirumah itu, Cantika juga bilang pada asisten dirumah Rayan jika dirinya juga seorang nyonya dirumah itu, dan sendang mengandung keturunan Ardana.
Berita Rayan yang menghamili seorang wanita memang belum terdengar oleh keluarga tuan Roy dan juga Ardian, dan Cantika sudah merencanakan sesuatu jika dalam waktu dekat Rayan tidak segera menikahinya maka dia akan terpaksa membuat keluarga besar Rayan tahu siapa dirinya.
Cantika sudah kesal dan bosan, sudah satu jam dia duduk tapi tidak melihat dua orang yang sengaja meninggalkannya turun, padahal ini sudah hampir jam dua belas siang, dan mereka naik di jam sebelas kurang.
Karena kesal, Cantika beranjak dari duduknya dan kakinya berjalan untuk menaiki tangga, menuju kamar Rayan. Walaupun tidak tahu di sebelah mana Cantika akan mencarinya.
"Ck, apa mereka lupa jika ada aku dirumah ini, dasar wanita tidak punya malu, masih saja menempel pada Rayan." Gerutu Cantika mengumpati Kalila.
Sebarnya ucapan Cantika lebih pantas untuk dirinya sendiri, tapi wanita itu tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan.
"Ini mungkin kamarnya." Cantika mencoba untuk menekan handel pintu, tapi ternyata dikunci dari dalam." Rese banget lagi pakai dikunci." Cantika bertambah kesal. Karena penasaran Cantika mencoba untuk menempelkan telinganya di daun pintu.
"Ahhh, kak aku sudah tidak arrghh.." Kalila tidak bisa lagi mengontrol mulutnya untuk tidak bersuara, tumbuhnya bergetar, dengan Rayan yang tidak berhenti menghujam miliknya dari belakang.
"Ugh.. tubuh mu sangat enak sayang aku sampai.. arrrggghh." Erangan panjang Rayan mengakhiri aksi percintaan mereka disiang ini.
"Sialan..!!"
Brak
Cantika menendang pintu kamar Rayan dengan kesal, wajah wanita itu merah padam dengan hati yang terbakar. Bagaimana bisa mereka bercinta disiang hari dan ada dirinya dirumah ini, Cantika merasa dirinya tidak dihargai sama sekali.
__ADS_1
"Ray, kamu akan tahu akibatnya." Geramnya dengan terseyum licik.
"Ah, Kak sudah." Kalila mendorong tubuh kekar Rayan yang menindihnya, kini Kalila baru menyadari jika tubuh Rayan sudah lebih kekar dan berotot dari saat Rayan masih belum bisa berjalan.
Rayan mengulirkan tubuhnya dari punggung Kalila kesamping. pria itu berusaha menetralkan napasnya yang belum teratur.
"Kak kau bisa membuatku telat." Gerutu Kalila, yang beranjak dari tidurnya, Rayan terkekeh.
"Mandi bersama sayang, biar mempersingkat waktu." Rayan sedikit berteriak karena Kalila sudah berlari masuk kedalam kamar mandi, dan Rayan pun ikut bangkit menyusul sang Istri.
.
.
Pukul dua kurang sepuluh menit, mobil Rayan baru saja berhenti di lobby rumah sakit.
"Jangan terus ditekuk, kamu terlihat makin cantik." Ucap Rayan menggoda Kalila yang sejak tadi jutek dan berwajah masam.
Kalila tidak menjawab, tanganya membuka sealbead dan segera turun.
"Eh, tunggu dulu." Rayan menahan tangan Kalila yang akan keluar.
"Apalagi sih kak, aku sudah terlambat." Ketusnya dengan wajah sinis.
Rayan malah tersenyum, kepalanya mendekat dan_
__ADS_1
Cup
"Kecupan agar semangat bekerja." Rayan mengusap sudut bibir Kalila yang sedikit basah karena lumattannya barusan.
Wajah Kalila sedikit bersemu, tanganya meriah tangan Rayan yang berada diatas pahanya, dan mengecupnya.
"Hati-hati di jalan." Setelah itu Kalila turun dan sedikit berlari kecil untuk meninggalkan mobil Rayan.
Rayan tersenyum, dirinya merasa senang, menatap punggung tangannya yang dikecup untuk pertama kali setelah menikah.
Cup
Rayan sudah seperti orang tidak waras, mengecup tangannya sendiri, bekas kecupan Kalila tadi.
Mobilnya bergerak keluar dari area rumah sakit, untuk menuju ke kantornya, karena Ronal sudah menunggunya untuk metting yang sudah dia undur dari pagi hingga siang ini, dan itu semua karena Rayan ingin selalu dekat dengan Kalila.
"Lu udah gila Ray, karena Kalila." Ucapnya pada diri sendiri. Sekarang Rayan benar-benar merasa bahagia, dia lebih bisa membebaskan dirinya saat bersama Kalila, dan Rayan selalu menumpahkan gelora dan hasratnya yang sebenarnya tinggi, dan ketika bersama Cintya dulu, Rayan tidak bisa leluasa melampiaskannya karena jika sudah dua ronde Cintya akan mengeluh leleh dan terus mengomel.
Sedangkan Kalila, wanita itu tidak bisa menolak keinginannya meskipun bibirnya berkata lelah tapi tubuhnya mampu memberi kenikmatan yang Rayan inginkan.
"Loh, kal baru datang." Tanya Fani yang berpapasan dengan Kalila.
"Iya mbak, aku dapet jatah siang." Kalila terseyum.
"Oh, oke semangat." Fani memberi semangat dengan mengepalkan tangannya untuk Kalila. Dan Kalila membalasnya dengan hal yang sama.
__ADS_1
"Semangat..!"
Meskipun tubuhnya terasa remuk dan lelah, Kalila tetap konsisten, bagaimana tidak lelah jika pagi sampai siang dia digempur Rayan sampai tiga kali, dan hanya istirahat sebentar. Beruntung Kalila sudah antisipasi, jika tidak mungkin dirinya akan cepat hamil.