Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Ajakan pergi


__ADS_3

"Makasih Kak."


Kalila menerima minuman kaleng yang Brian berikan.


Keduanya sedang duduk didepan minimarket yang tidak jauh dari rumah Kalila, wanita itu minta untuk berhenti sejenak di minimarket terdekat, dan disini mereka berdua, duduk di kursi depan minimarket, menatap lalu lintas yang masih ramai.


"Kamu sedih?" Tanya Brian setelah menenggak minumannya.


Kalila hanya diam, wanita itu menatap lurus ke depan.


Ingatannya kembali pada kejadian tadi dimana kata-kata Cantika masih teringat jelas dikepelanya.


Kalila tidak menyangka jika Rayan semudah itu mengatakan jika dirinya frustasi sampai melakukan hubungan dengan Cantika. Sebagai seorang istri Kalila benar-benar merasa sakit.


"Apa kesedihanku berarti." Jawab Kalila tanpa mengalihkan tatapannya yang lurus kedepan.


Brian menoleh sekilas. "Tidak bagi orang yang membuatmu kecewa dan bersedih. Tapi sangat berarti untuk orang yang mencintai kamu dengan tulus."


Kalila menoleh pada Brian yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


Brian pun melakukan hal yang sama. "Apa kamu masih mencintainya?" tanya Brian dengan menatap Kalila lekat.


Kalila mengembuskan napas dalam, dan kembali menatap kedepan. "Tidak tahu, tapi rasanya aku ingin menghilangkan bayangan dan wajahnya dari ingatanku, aku tidak ingin kejadian buruk itu selalu aku ingat."


Brian masih menatap Kalila dari samping.


"Pergilah denganku, kamu bisa menjadi dokter dan bekerja disana, dan kamu bisa melupakan pria itu dari ingatanmu."


Brian hanya ingin membantu Kalian, itupun kalau dia ingin. Tapi Brian juga tidak bisa memaksa karena semua ada pada Kalila


Kalila nampak berpikir, jika dirinya pergi dari negara ini, otomatis dirinya tidak akan bertemu dengan Rayan. Tapi dirinya juga bingung apa keputusannya sudah tepat.


Kalila terseyum, dia sadar jika pria yang dia sebut kakak itu memiliki sorot mata yang berbeda, Kalila melihat ada cinta untuknya di mata pria itu.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang." Brian berdiri, dan mengulurkan tangannya untuk menyambut Kalila berdiri.


Wanita itu tersenyum tangannya menyambut uluran tangan Brian. "Terima kasih kak."


Brian tersenyum tipis.

__ADS_1


Kalila merasakan hangat yang menjalar di hatinya, perlakuan Brian jelas berbeda dengan perlakuan Rayan, karena memang pria itu berbeda. Dia menyukai Rayan sejak masa sekolah, meskipun Rayan tidak pernah melihatnya tapi Kalila mengagumi pria itu.


Sedangkan Brian mereka tidak dekat, tapi jika ada pertemuan keluarga mereka juga bermain bersama hanya saja dulu Brian orangnya pemalu, tapi kini pria pemalu itu berubah menjadi pria yang hangat dan lembut.


"Kak, apa kakak tidak punya pacar?" Tanya Kalila dengan memiringkan sedikit tumbuhnya untuk menghadap Brian.


Mereka berada didalam mobil, pulang mengantar Kalila. Sejak tadi Kalila sibuk dengan ponselnya, dan tiba-tiba wanita itu bertanya demikian.


Brian menautkan alisnya, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Jawab Brian balik bertanya.


"Lihat." Kalila menunjukkan layar ponselnya.


Brian melihat dan membaca pesan chat dari papanya


"Ck, kalian itu." Brian menggerutu.


Kalila tertawa. "Ayolah kak kasihan om Jimmy yang sudah ingin menggendong cucu, apalagi dia hanya sendiri dan sering kakak tinggal pergi." Kalila menatap Brian. "Pasti Om Jimmy kesepian." Kalila menggoda Brian yang wajahnya masam. Pria itu kesal.


Tunggu kak, sebentar lagi aku akan membawa menantu untuk papa, dan aku tidak ingin membawa orang lain kecuali dirimu..

__ADS_1


Brian menatap Kalila dengan tersenyum.


__ADS_2