
"Kak gaun untuk apa ini?" Kalila menatap gaun hitam yang elegan dan mewah yang ada di tangannya.
"Lusa ada pertemuan dengan para pembisnis sukses sedunia, aku ingin kamu menemaniku dan memakainya sayang." Brian terseyum menatap Kalila yang tersenyum lebar.
"Kau mengajakku, kak Bri tidak malu membawaku kepesta penting itu." Tanya Kalila dengan menatap Brian yang juga menatapnya.
"Kenapa malu, justru aku ingin mengenalkanmu keseluruh dunia jika kamu wanita yang paling aku cintai." Brian maju dan merangkul pinggang Kalila dari belakang. Pria itu mencium bahu Kalila.
"Tapi aku malu kak." Ucap Kalila jujur, dia tidak pernah datang kepesta seperti yang Brian katakan, apalagi pesta para pengusahaan terkenal dipenjuru dunia, dan Kalila merasa dirinya tidak pantas.
"Kamu tahu?" Brian melonggarkan pelukannya, dan memutar tubuh Kalila. Kini keduanya berhadapan. "Aku beruntung memiliki kamu, wanita cantik, baik dan juga seorang dokter yang baik, kamu adalah wanita terhebatku." Brian terseyum, sambil mengelus pipi Kalila. Brian bicara dengan jujur bahkan dirinya ingin sekali berteriak sekeras mungkin jika dirinya bahagia.
"Terima kasih kak, sudah mau menerima aku yang_"
__ADS_1
"Ssstt.." Brian menempelkan jari telunjuknya di bibir Kalila. "Baik buruknya kamu, yang terpenting sekarang kamu bersamaku, aku akan datang kerumah Tante Kania dan meminta restu untuk menikahimu." Pancaran mata Brian begitu bahagia ketika mengucapkannya, dan Kalila bisa melihat pancaran cinta yang begitu besar di kedua mata Brian.
"Terima kasih kak." Kalila menubruk dada bidang Brian dan masuk dalam pelukannya.
Brian menyambut dengan senang hati, mengelus punggung Kalila dan mengecup pucuk kepala Kalila berulang kali.
.
.
Beruntung saat Rayan sekarat karena pernyakit hati yang dia derita, saat itu ada orang baik yang rela mendonorkan hati untuk Rayan, dan karena itu Rayan tidak akan mengulangi perbuatannya untuk kedua kali. Dirinya hanya ingin menemukan Kalila, dan kembali hidup bersama dengan Kalila.
"Pah." Rayan menghampiri meja makan, yang sudah ada kedua orang tuanya duduk. Mendekati Mamanya Rayan mencium pipi Saras.
__ADS_1
"Makan nak, kamu dari mana?" tanya Saras pada putra semata wayangnya.
Rayan duduk disamping Mamanya, sedangkan tuan Roy duduk dikursi bagian kepala keluarga.
"Em, Ray dari kantor Mah." Jawab Rayan dengan senyum tipis. Dirinya tidak mungkin mengatakan dari kediaman Ardian, Rayan tidak ingin membuat Mamanya sedih kembali.
Tuan Roy hanya melirik sekilas, dia tahu jika putranya mendatangi kediaman mantan besanya.
Rayan bergabung makan malam dengan kedua orangtuanya, Rayan akan datang dua hari sekali. Karena Rayan masih menempati rumah yang pernah dirinya dan Kalila tempati.
"Lusa Rayan akan Rusia dengan Ronal, Rayan minta bantuan papa untuk menghandle pekerjaan di kantor." Ucap Rayan setelah selesai menyantap makan malam bersama.
"Rusia." Tanya tuan Roy, yang langsung diangguki oleh Rayan.
__ADS_1
Tuan Roy berpikir sejenak menatap putranya yang sedang bicara pada Saras. " Apa mereka akan bertemu." pikir tuan Roy.
Bukan hanya Rayan yang selalu mendatangi kediaman Ardian. Tapi tuan Roy juga berusaha untuk mendapatkan alamat Kalila tinggal, dan tuan Roy berjanji tidak akan memberi tahu Rayan, dan saat itu Ardian yang percaya memberi tahu dinegara mana Kalila tinggal, tapi tuan Roy hanya diam saja.