Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Plak (Bunyi apa)


__ADS_3

"Apa?"


Rayan terkejut mendengar ucapan asistennya Ronal.


"Kalila sudah bebas?" Tanya Rayan tak percaya.


"Iya tuan, Nona mendapat jaminan dari seseorang yang bernama Brian Bold, dan polisi juga mendapatkan rekaman cctv saat kecelakaan itu terjadi, jadi nona tidak sepenuhnya bersalah, karena_"


Ronal tidak lagi melanjutkan ucapannya, dua takut jika tuanya akan marah dan kembali mengingat kecelakaan yang terjadi dulu, dan Ronal tidak ingin Rayan kembali membenci Kalila, jika mengingat kecelakaan itu.


"Karena apa?" tanya Rayan dengan kesal, karena Ronal tidak melanjutkan ucapanya.


"Tidak apa-apa." Ronal memilih diam.


Rayan mengusap wajahnya kasar, entah mengapa mendengar nama seorang pria disebut membuat Rayan kesal.


Jika Kalila sudah bebas lalu pergi kemana wanita itu, kenapa belum sampai rumah.


Setelah dari danau Brian mengajak Kalila untuk singgah di sebuah restoran yang cocok dengan makanan kesukaan Kalila, bahkan Kalila tidak tahu jika pria yang dia panggil kakak itu sangat mengetahui makanan kesukaannya.


"Kakak tau makanan kesukaan ku." Kalila tersenyum lebar, melihat deretan makanan kesukaan dia semua.


"Apa yang tidak aku ketahui." Brian tersenyum.


Kedatangan Brian ke Indonesia bukan tanpa sebab, bahkan Kalila tidak tahu jika Brian menempatkan seseorang untuk melaporkan apa saja kegiatan dan yang terjadi pada Kalila.


Sehingga waktu Brian mendengar jika ada orang yang menuntut kasus Kalila ke polisi, Brian langsung terbang ke ibu kota hanya untuk membantu wanita yang tidak peka dengan perasaan Brian.


Brian sudah mengantongi lama bukti rekaman cctv itu, sejak mendengar kecelakaan yang di alami Kalila Brian langsung menyuruh orangnya untuk mencari bukti, dan beruntung waktu itu keluarga Rayan tidak menuntut dan Brian cukup terkejut jika Kalila di nikahkan dengan Rayan. Brian pun hanya bisa berlapang dada, anggap saja Brian memang mencintai dalam diam, melindungi dengan caranya sendiri. Dan disaat Kalila membutuhkan bantuan, dirinya yang bisa menolong tepat waktu.


"Kak Bri, memang kakak terbaikku." Tanpa sadar Kalila menyentuh tangan Brian yang berada diatas meja. Pria itu cukup terpaku, harinya berdesir untuk pertama kali Kalila sendiri menyentuh tangannya.


"Hm, padahal aku ingin lebih dari kakak." Ucap Brian dengan wajah pura-pura cemberut.


Kalila masih tertawa. "Lebih dari kakak, jangan bilang kak Bri juga_"


"Menjadi suami kamu boleh?" Tanya Brian dengan terkekeh, meskipun ucapanya serius tapi Brian menyampaikannya dengan bercanda agar Kalila tidak merasa tersinggung.

__ADS_1


"Dih, jangankan dua suami, satu aja bikin aku kesal." Ucap Kalila dengan wajah cemberut.


Brian hanya geleng kepala. "Lagian, kamu mau saja dinikahkan dengan pria menyebalkan itu." Ledek Brian sambil menyuapkan makanan yang dia pesan.


"Mau bagiamana lagi, mungkin sudah takdirku." Jawab Kalila enteng.


Brian menatap lekat wajah Kalila, meskipun wanita itu tidak bilang, tapi Brian tahu jika Kalila mencintai Rayan sejak dulu.


Keduanya makan sambil berbincang ringan, bahkan Kalila bisa tertawa mendengar Brian bercerita tentang masa kecilnya yang menurut Kalila lucu.


Kalila tidak menyadari jika di rumah seseorang sudah menunggu kedatangannya, bahkan Rayan begitu kesal karena Kalila pergi tanpa ijin darinya.


"Ray.." Cantika tiba-tiba masuk kedalam rumah Rayan.


Wanita itu datang dengan wajah kesalnya.


"Ray, kamu tahu wanita pembunuh itu sudah bebas, aku tidak terima jika wanita itu hidup bebas tanpa hukuman." Cantika mengoceh dengan wajah kesal bercampur marah.


Rayan yang sudah kesal bertambah kesal mendengar Cantika yang mengoceh, apalagi Kalila yang Cantika bahas.


"Ray, aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus buat wanita itu mendekam di penjara."


"Lebih baik kamu pergi jika hanya ingi membuatku bertambah kesal." Ucap Rayan yang menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


Cantika yang masih terkejut karena dibentak mengerjap tidak percaya.


"Ray aku_"


"Cukup Can." Rayan mengangkat tangannya agar Cantika mau diam.


Cantika yang melihatnya hanya bisa menahan kemarahannya, wanita itu pergi tanpa pamit seperti ketika datang tanpa diundang.


"Aarrgh.."


Brak


Rayan menendang meja didepanya, hingga menghantam tembok yang tidak jauh dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Rayan yakin jika Kalila menghabiskan waktu dengan pria bernama Brian itu, pria yang pernah mengajak Kalila makan siang, selain itu Brian juga terkenal pria sukses di luar negeri dan Rayan tahu siapa Brian Bold itu.


Kekayaan mereka memang setara dan milik Ardana dibawah satu tingkat dengan keluarga Bold. Maka dari itu Rayan kesal jika ada yang dekat dengan Kalila apalagi pria seperti Brian.


"Terima kasih kak." Kalila berdiri disamping mobil Brian, wanita itu baru saja sampai dikediaman rumah suaminya.


"Percayalah Kal, suatu saat tuhan pasti mengirimkan kebahagiaan untukmu." Ucap Brian dengan senyum. "Masuklah sudah malam." Setelah mengatakan itu Brian berlalu dengan mobilnya. Bahkan Kalila yang akan menjawab ucapan Brian tadi tidak sempat, karena pria itu sudah menancap pedal gas mobilnya.


"Apa maksudmu kak." Ucap Kalila lirih.


Kalila memang merasakan jika Brian memiliki perasaan padanya, tapi Kalila menepis pikiranya itu. Karena menurut Kalila, kasih sayang Brian adalah bentuk kasih sayang kepada adiknya dan tidak lebih.


Kalila masuk kedalam rumah, seperti biasa sepi dan seperti tidak ada penghuni didalamnya.


"Bagus, berapa kali kau melayani pria itu sampai dia berani mengeluarkan uang banyak untuk membebaskanmu." Ucap Rayan penuh penekanan dengan tatapan dingin menatap Kalila yang berhenti berjalan.


Kalila berbalik dia menatap Rayan yang berdiri tanpa menggunakan tongkat.


"Kak, kau..!" Kalila terkejut dan juga merasa senang, melihat Rayan yang sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa menggunakan bantuan tongkat.


"Katakan berapa kali kau melayani pria itu .!" Tegas Rayan lagi, tanpa mengindahkan keterkejutan Kalila.


Rayan yang sebenarnya sudah bisa berjalan dua Minggu lalu, tapi pria itu memiliki cara lain agar dirinya tetap terlihat belum bisa berjalan, entah apa maksud Rayan melajukan hal itu. Membohongi Kalila dan keluarga.


"Maksud kamu apa kak?" Hati Kalila mencolos mendengar perkataan Rayan barusan, dirinya seperti dianggap wanita gampangan.


Rayan menatap Kalila remah, "Mana ada pria yang memberikan uang cuma-cuma jika tidak menginginkannya sesuatu." Rayan berjalan pelan mendekati Kalila yang diam mematung dengan perasaan terluka.


"Apakah aku serendah itu dimatamu kak." Kalila dengan berani menatap kedua bola mata Rayan yang juga menatapnya. "Apa aku sebegitu hina didepanmu, lalu bagaimana dengan dirimu yang melukai harga diriku sebagai seorang istri." Kalila tidak mengeluarkan air mata sama sekali, wanita itu akan menumpahkan isi hatinya selama ini. "Bagaimana jika seorang istri diperlakukan kasar dan semena-mena, bahkan tanpa rasa kasihan kau merenggut mahkotaku secara paksa tanpa rasa_"


"Cukup.." Rayan mengangkat tangannya menatap Kalila tajam. "Kau tidak perlu mengatakan hal yang memang seharusnya kau dapatkan, karena kau memang wanita murahan."


Plak


Tanpa rasa takut Kalila melayangkan tanganya di wajah pria yang berstatus suaminya itu.


"Kau..!"

__ADS_1


Plak


Plak


__ADS_2