
Kalila menatap tajam Rayan, yang tersenyum menyeringai.
"Bagaimana?"
Mereka mengabaikan Cantika yang sejak tadi berdiri kesal, wanita itu geram.
"Ray, ayo kita sudah terlambat pergi ke dokter kandungan."
Deg
Lagi-lagi hati Kalila teriris, bagaimana bisa dirinya menerima syarat dari Rayan, jika wanita yang didepanya saja sudah mengandung.
"Aku_"
"Pikirkan lagi dengan baik, jika ingin aku menandatangani surat itu." Rayan mengelus pipi Kalila, dan meninggalkan kecupan di kening wanitanya, lalu Rayan pergi dengan Cantika yang tersenyum sinis pada Kalila.
Kalila diam mematung, map yang dia pegang diremasnya kuat.
Kalila tidak ingin menuruti syarat dari Rayan, tapi dia juga ingin lepas dari pria yang sudah tidak lagi dia harapkan, karena Kalila merasakan jika perasaan sudah semakin memudar, dan Kalila tidak tahu apa yang terjadi, mengapa begitu cepat perasaan itu memudar tidak seperti dulu, sebelum Rayan berubah seperti sekarang.
Jika Rayan ingin mendekat, justru Kalila yang ingin menjauh, dan inilah yang terjadi pada mereka.
__ADS_1
Kalila memutuskan untuk keluar dari kantor Rayan, wanita itu kesal dan juga bingung dengan syarat yang diberikan Rayan, dan Kalila butuh seseorang untuk memberinya solusi.
Kalila menaiki taksi, wanita itu ingin menemui sahabatnya Ana, yang masih di Jakarta, karena esok Ana sudah akan kembali ke Lombok untuk bertugas.
Sepanjang perjalanan Kalila memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil, jika menuruti permintaan Rayan, maka Kalila akan menyiapkannya sematang mungkin, tidak mungkin jika Rayan hanya menginginkannya untuk tinggal di rumahnya tanpa melakukan apapun, karena bagaimanapun Kalila masih sah sebagai Istrinya.
Tak lama mobil taksi yang Kalila tumpangi berhenti didepan gerbang rumah Ana, atau rumah kedua orang tua Ana.
"Terima kasih pak." Kalila memberikan ongkos taksi dan keluar untuk menemui sahabatnya itu, tadi Ana sudah mengirim pesan jika dia ada di rumah.
"Kal.." Ana langsung menyambut Kalila didepan pintu ketika melihat Kalila turun dari taksi, dan kedua wanita itu saling berpelukan dan cipika cipiki.
"Masuk, kebetulan nyokap sama bokap ngak dirumah, jadi kita aman bergosip." Ana tergelak, gadis yang berprofesi sebagai dokter itu masih saja memilki sifat bar-bar jika tidak sendang bertugas.
"Aku tau kamu pasti pengen sesuatu dari gue." Ana menaik turunkan alisnya menatap Kalila pongah.
Kalila mendelik. "Kamu udah kayak cenayang An," Kalila duduk di ranjang Ana, mengambil posisi duduk bersila dengan boneka terong yang dia peluk.
"Cie, yang kangen terong." Ledek Ana melihat Kalila yang memeluk boneka miliknya berbentuk terong.
Kalila mendelik dengan memutar kedua matanya malas. "Ngak lucu An." Jawabnya dengan kesal.
__ADS_1
Ana hanya mengaguk setuju. "Kenapa? suamimu minta balikan lagi?" Tanya Ana yang kini dalam mood serius.
Kalila menghela napas. "Dia punya syarat kalau aku mau dapat tanda tangannya." Ucap Kalila lemas.
Dirinya ingin tanda tangan Rayan, tapi Kalila tidak ingin tinggal dengan Rayan selama dua bulan.
"Lalu?" tanya Ana lagi yang sudah duduk berhadapan didepan Kalila.
Kalila menatap wajah sahabatnya dengan sendu.
"Syaratnya, jika aku mau tanda tanyanya. Maka aku harus tinggal bersamanya selama dua bulan." Jawab Kalila dengan wajah masam.
Sedangkan Ana malah tertawa. "Fik, ucapan aku terbukti, pasti Rayan mengunakan itu untuk mengikatmu, jika kamu hamil maka kamu tidak akan bisa cerai denganya." Ucap Ana panjang lebar. "Maka jalan satu-satunya adalah_" Ana terseyum menyeringai menatap wajah Kalila penuh arti.
.
.
.
Mak Otor ada cerita 'AMERR UNTUK GWEN" Di Apk f*z Anak dari (Aaron dan Sena) Cuss yuk singgah yang punya apk_nya.
__ADS_1
Ketik aja Nama Pena Author 'LAUTAN BIRU'. 🥰