Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Kalila bebas


__ADS_3

Ronal datang kerumah Rayan, setelah melaksanakan apa yang pria itu perintahkan. Ronal juga sudah bertemu dengan Kalila, dan benar wanita itu sudah sejak kemarin mendekam di balik jeruji besi.


Ronal memasuki rumah Rayan dirinya melihat Rayan yang sedang mengobrol dengan seorang dibalik telepon.


"Tuan." Rayan Berbalik ketika dirinya mendengar suara Ronal.


"Bagaimana?" Tanya Rayan mendekati Ronal yang berdiri didepannya dengan jarak lumayan jauh.


"Nona berada didalam tahanan sejak kemarin." Ucap Ronald wajah menunduk.


Rayan memejamkan mata, entah mengapa dirinya merasa bersalah.


"Apa dia baik-baik saja." Tanya Rayan lagi dengan penasaran.


"Nona baik-baik saja tuan."


Rayan menghela napas lega, setidaknya ada perasaan sedikit lega dihatinya.


Sejak tadi dirinya tidak bisa tenang, memikirkan keadaan Kalila. Rayan merasa khawatir dan bersalah.


"Pak Wahyu sebentar lagi datang, kamu temani dia untuk bertemu Kalila." Ucap Rayan yang langsung diangguki oleh Ronal.


Hanya ini yang bisa Rayan lakukan. Rayan juga merasa aneh dengan perasaannya, rasa benci yang dulu tertanam lama-lama menjadi rasa yang tidak membuat Rayan mengerti, dirinya tidak bisa melihat Kalila menderita. Hanya dia yang boleh melakukan itu pada Kalila, hanya Rayan yang boleh menghukum Kalila.


Ronal yang melihat pengacara yang Rayan sewa datang segera mengajaknya kekantor polisi. Agar masalah Kalila cepat di atasi dan bisa membebaskan istri dari tuanya itu.


"Kak terima kasih." Kalila terseyum tulus.


Brian mengangguk. "Beruntung aku berada di Jakarta, dan aku mengetahui keadaan kamu." Ucap Brian dengan membalas senyum Kalila.

__ADS_1


"Aku banyak hutang budi sama kak Bri." Ucap Kalila yang merasa dirinya selalu menyisihkan Brian sejak dulu. "Lagi pula dari mana kakak bisa mendapatkan rekaman cctv itu, padahal kecelakaan itu sudah cukup lama." Ucap Kalila yang mengingat bagaimana Brian dan pengacaranya memberikan bukti jika mobil yang waktu malam itu sama-sama dalam keadaan keluar jalur. Jadi kecelakaan itu adalah murni kesalahan keduanya dan tidak ada yang bisa menyimpulkan jika mobil Kalila yang menabrak mobil yang dikendarai Rayan.


"Tidak usah dipikirkan, yang penting kamu bebas dan baik-baik saja." Brian menatap wajah Kalila lekat. Keduanya berada dalam mobil Brian yang belum berjalan.


Brian membantu Kalila untuk bebas, dan berkat Brian dan pengacaranya Kalila langsung bisa dibebaskan dengan bukti yang memang lebih kuat, dari pada hanya sebuah laporan dari Cantika.


"Baiklah, mau aku antar kemana tuan putri"? tanya Brian dengan senyum yang mampu meluluhkan hati wanita manapun yang melihatnya, tapi kecuali pada Kalila.


Kalila terseyum, Brian memang selalu bisa membuatnya nyaman jika berada disampingnya.


"Terserah kakak, yang jelas aku belum mau pulang kerumah." Ucap Kalila menatap lurus ke depan.


Brian hanya mengaguk dan menghidupkan mesin mobilnya untuk meninggalkan kantor polisi.


Mobil Brian yang baru saja keluar, berpapasan dengan mobil yang dikendarai Ronal bersama pengacara yang Rayan sewa.


Mereka keluar dari dalam mobil dan segera masuk kedalam untuk menemui kliennya.


"Tuan Brian Bold yang sudah membebaskan saudara Kalila." Jawab petugas kepolisian itu.


Ronal hanya mengangguk. "Baik pak, terima kasih." Ronal pun pergi diikuti kak Wisnu. Mereka sama-sama keluar dengan tangan kosong.


"Brian Bold." Gumam Ronal, yang merasa tidak asing dengan nama itu.


Keduanya kembali memasuki mobil untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi pada Rayan. Ronal juga tidak menyangka jika Kalila memiliki orang yang bisa memberikan bukti dan jaminan untuk membebaskan dirinya.


.


.

__ADS_1


"Kak, kamu membawaku kesini?" Kalila tidak percaya apa yang sedang dia lihat.


danau dengan air yang begitu jernih, dan ada perahu yang bisa mereka naik.


Kalila baru pertama mendatangai tempat ini, sungguh dirinya merasa senang.


"Ya, siapa tahu kamu bisa menghilangkan penat kamu." Brian mengandeng tangan Kalila untuk mendekati bibir danau yang terdapat kayu untuk tempat duduk ataupun berdiri, lebih tepatnya untuk membatu agar bisa naik ke atas perahu.


"Mau coba naik?" Tanya Brian menujuk perahu yang berjejer.


"Hu'um." Kalila mengangguk. Dirinya memang belum pernah menaiki perahu kayu dan mengayuh sendiri.


Brian naik ke atas perahu lebih dulu, dia membatu Kalila menaiki perahu yang sama dengannya.


"Kak, aku takut." Kalila memegangi tangan Brian begitu erat, karena perahu yang goyang akibat dirinya naik. Membuat Kalila begitu takut.


"Tidak apa-apa, duduklah." Brian menyuruh Kalila duduk agar tenang.


Kalila menurut, wanita itu duduk dengan diam.


Brian mulai mengayuh perahu kayu yang mereka naiki.


"Bagaimana, bagus bukan." Ucap Brian yang menatap wajah Kalila.


Bagi Brian hanya wajah Kalila yang menarik di matanya, meskipun pemandangan sekitar danau begitu indah tapi Brian menyukai keindahan yang berada di paras cantik Kalila.


"Bagus kak, aku suka." Kalila tersenyum bahagia.


Mematangkan tangan, Kalila menghirup udara sejuk sebanyak-banyaknya karena rasanya beban yang dia pikirkan hilang seketika.

__ADS_1


Ini adalah pertama kali keduanya begitu dekat, dan Brian begitu menyukai kebersamaan mereka seperti ini.


"Kal, andai kamu bisa aku miliki, maka aku berjanji tidak bakan membuatmu merasakan terluka dan bersedih." Batin Brian dalam hati.


__ADS_2