
Kalila bekerja seperti biasa, wanita cantik itu selalu bisa membuat pasiennya terseyum dan semangat, mereka menyukai cara Kalila memberi mereka terapi dokter cantik yang masih muda itu banyak yang menginginkannya menjadi menantu, atau cucu menantu.
"Saya kira dokter belum menikah." Ucap pria yang sekitar enam puluh lima tahunan itu dengan senyum. "Dan saya berpikir untuk mengenalkan dokter dengan putra saya, tapi ternyata dokter sudah memiliki suami." Pria itu terkekeh.
Kalila hanya terseyum. "Hem, sayangnya saya sudah menikah, coba kalau belum." Ucap Kalila menimpalinya dengan bercanda.
"Ya, Kalau belum saya sudah bawa anak saya kerumah orang tua anda untuk melamar."
Keduanya tertawa, bukan hanya sekali dia mendapat pertanyaan seperti barusan, Kalila sudah sering kali dan dia menanggapinya dengan candaan, yang bisa membuat pasiennya tertawa.
"Bapak dirumah kalau berlatih tidak perlu terlalu lama, pelan-pelan saja yang terpenting aktif untuk menggerakkan kakinya agar otot-ototnya kambali merespon."
Pria itu menggaguk terseyum, mendengar nasehat dari Kalila.
"Baiklah ayo saya antar." Kalila membantu mendorong kursi roda yang duduki pria itu, mengantarnya keluar ruanganya.
Setelah itu Kalila kembali masuk ketika pasiennya sudah pulang dengan keluarganya dan dia melihat ponselnya berkedip tanda panggilan masuk..Kalila memang mensilent ponselnya jika sedang ada pasien.
"Halo kak.."
"Kamu sedang apa sayang.." Rayan bertanya dengan senyum meskipun Kalila tidak melihatnya.
"Baru selesai terapi pasien kak, ini giliran selanjutnya." Jawab Kalila sambil melihat data nama pasien selanjutnya.
"Baiklah, jangan lupa makan, dan jagan terlalu capek, nanti malam aku jemput."
__ADS_1
Kalila hanya mengaguk. "Iya kak."
"Se you my wife.."
Kalila tersenyum, "Bye." Dan mematikan sambungan telepon.
Kalila menyadarkan tubuhnya di bahu kursi, memejamkan mata sejenak karena merasa lelah. Tidak ada yang tahu jika Kalila sudah menyiapkan berkas untuk kepindahannya ke Eropa, dan dia akan meminta bantuan Brian untuk ini.
Kalila sudah bertekad, dia akan meninggalkan semua disini, dia akan bilang kepada kedua orangtuanya nanti setelah semua siap.
Kalila bukannya tidak tahu tujuan Rayan meminta waktu dua bulan untuk tinggal bersama, Kalila tahu jika Rayan menginginkannya hamil. Pada saat Rayan bicara dengan papanya, Kalila sudah berada disana dan Kalila hanya terseyum tipis.
Mengingat itu Kalila teringat akan Cantika yang hamil, dia tidak mau membuat Cantika dan janin yang dia kandung jiah dari Rayan, Kalila tahu benar bagaimana seorang wanita hamil yang butuh perhatian suami, dan Kalila tidak melihat Rayan yang peduli dengan Cantika, Meskipun Rayan sudah membuat Cantika hamil.
"Kenapa kau tidak lakukan sendiri hem." Pria itu menatap Cantika yang wajahnya cemberut sejak datang tadi.
"Kalau aku bisa, aku tidak akan meminta bantuan Daddy." Ketusnya dengan kesal.
Cantika bisa saja melakukanya tadi dia pasti akan ketahuan juga, dan meminta bantuan Daddynya adalah hal tepat. Karena Daddy-nya bisa membatu tanpa harus takut ketahuan.
"Baiklah, jika Daddy membantu apa imbalan untuk Daddy." Ucap pria itu dengan tersenyum menyeringai, Fred adalah nama pria yang sudah mengadopsi Cantika sejak kecil dan membawanya ke LN.
"Apapun Daddy." Cantika terseyum manis.
Wanita itu senang bukan main ketika memikirkannya keinginannya akan segera terwujud.
__ADS_1
Dan ditempat lain Rayan sedang berkutat pada pekerjaan yang harus cepat dia selesaikan, karena Rayan akan menjemput Kalila dua jam lagi.
"Tuan, ada pertemuan mendadak dari Perusahaan Xxx, beliau meminta bos menemuinya satu jam lagi" Ucap Ronal yang baru saja masuk, memberi tahu jika ada jadwal mendadak yang baru dia terima.
Rayan menatap Ronal. "Bukankah masih besok pertemuan dengan mereka?" Tanya Rayan dengan kesal.
"Mereka memajukan jadwal, dan mereka besok akan terbang ke Dubai." Jelas Ronal memberi tahu alasannya.
Rayan langsung menghempaskan tubuhnya kasar disandarkan sofa. Dia bekerja lebih cepat agar bisa segera selesai, tapi malah mendapat jadwal yang tiba-tiba.
"Baiklah, kau atur saja." Jawabnya lemas.
"Baik tuan." Ronal pamit dengan sedikit menunduk memberi hormat dan pergi.
Rayan meraih ponselnya untuk menghubungi Kalila, dia akan memberi tahu jika tidak bisa menjemputnya pulang.
Deringan pertama tidak diangkat, Rayan mencoba lagi dan masih sama tidak ada jawaban.
"Em, mungkin dia sibuk." Ucap Rayan pada diri sendiri.
"Sayang maaf aku tidak bisa menjemputmu, karena ada pertemuan penting dengan klien, hati-hati jika pulang dan jangan marah..."
Rayan mengirim pesan di tambah dengan emot cium, membuatnya ikut tersenyum.
Sedangkan dirumah sakit, Kalila sedang bertemu dengan pemilik atau kepala yayasan di rumah sakit itu, Kalila mengajukan surat pemindahannya menjelang dua bulan kedepan, dan kepala yayasan disana sangat menyayangkan keputusan Kalila, karena mereka butuh dokter yang bisa membuat pasiennya sembuh dan juga senang dengan pelayanan rumah sakit, tapi mau bagiamana lagi, mereka hanya bisa mendukung para dokter untuk mengabdikan diri mereka dimana pun mereka bekerja.
__ADS_1