Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Brian yang menyembunyikan sesuatu


__ADS_3

Jia tidak bisa menutupi kesedihannya, wanita itu juga tidak ingin memiliki anak dari pria lain selain Rayan.


"Tidak Ray, ini anak kita. bukan pria itu." Jia menangis, meratapi kenyataan yang tidak bisa dirinya terima.


Karena selalu panas saat ditanya kapan dirinya hamil, membuat Jia frustasi. Pernikahannya tak seindah dan seharmonis yang mereka lihat. Dalam rumah tangganya Rayan sama sekali tidak pernah tidur seranjang dengannya, bahkan untuk bercinta saja Jia harus menjebak Rayan dengan obat dan karena kebutuhan biologis Jia tidak tersalurkan dia memiliki pergi dan mencari kesenangan diluar. Tapi pikiran Jia tidak berharap memiliki anak dari pria lain selain Rayan, dan Jia selalu meminta teman ranjangnya untuk menggunakan pengaman saat melakukannya, tapi kenapa masih kecolongan, dan Rayan sejak kapan pria itu melakukan operasi untuk tidak memiliki anak. Jia sangat frustasi dengan semua yang terjadi padanya satelah menikah dengan Rayan.


"Semua sudah siap tuan." Ronal berdiri disamping mobil saat Rayan keluar dari rumahnya.


Hari ini Rayan akan menghadiri undangan Dominique untuk berkompetisi di mana siapa yang pantas untuk menjalin kerja sama dalam proyek besar yang mereka rencanakan.


"Baiklah kita berangkat." Rayan masuk ke mobil dan duduk dikursi penumpang, sedangkan Ronal duduk di kursi penumpang samping kemudi, karena Ronal juga akan menemani Rayan untuk pergi ke Moscow.


Dalam perjalanan Rayan memikirkan bagaimana kabar Kalila sekarang, apakah wanita itu bahagia dengan pernikahannya. Banyak yang Rayan pikirkan tentang mantan Istrinya itu, dan Rayan yang sebenarnya merindukan Kalila berkesempatan datang dengan acara yang Dominique selenggarakan.


Tidak bisa dipungkiri, hati Rayan masih ada nama Kalila, pria itu tidak akan menghapus nama wanita yang mencintainya dulu, tapi dirinya yang sudah menyia-nyiakan cinta tulus Kalila, dan kini Rayan kehilangan Kalila karena dirinya sendiri.


"Semoga kita bisa bertemu kal." Ucap Rayan dalam hati.


Sampainya di bandara Rayan dan Ronal langsung menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Moscow, karena sepuluh menit lagi pasawat yang mereka tumpangi akan berangkat.


Perjalanan mereka memakan waktu sekitar enam belas jam, dan pagi ini mereka berangkat kemungkinan akan sampai tengah sore hari, karena perbedaan waktu Indonesia kebih cepat dari Moscow.


Sedangkan Brian disibukan dengan Kalila yang akan melahirkan, perkiraan dokter dua minggu lagi, tapi ini kurang satu minggu bayi Kalila sudah ingin meminta keluar.


"Emm, kak." Kalila menarik napas dalam den mengeluarkan perlahan, sakitnya yang sudah sering kali datang membuat Kalila harus tetap tenang.


Dokter sudah memeriksa dan Kalila masih pembukaan tujuh dan Kalila masih harus menunggu bukaan sepuluh.


"Anak Daddy, jangan buat mommy kesakitan." Brian mengelus dan mencium perut buncit Kalila tanpa penghalang, diruangan bersalin hanya ada keduanya suster pun menunggu diluar dan beberapa saat masuk untuk mengecek keadaan Kalila.

__ADS_1


"Sayang apa tidak sebaiknya_"


"Tidak kak, aku ingin melahirkan normal." potong Kalila cepat, sudah banyak kali Brian mengatakan untuk melakukan tindakan operasi tapi Kalila kekeh ingin melahirkan normal.


"Tapi aku tidak bisa melihatmu kesakitan seperti ini sayang." Brian menatap Kalila dengan sendu, dirinya tidak kuasa melihat Kalila merintih menahan sakit apalagi Kalila mencekram tangannya kuat saat rasa sakit itu datang.


"Ah, kak sakit." Kalila memejamkan mata tiba-tiba perutnya terasa sakit yang begitu kuat, dirinya sampai tidak bisa membendung rasa sakitnya.


Brian memanggil suster yang berjaga, agar mengecek keadaan Kalila.


"Pembukaannya sudah lengkap Nyonya, anda akan segera melahirkan." Ucap suster itu sambil menyuruh suster satunya untuk memanggil dokter.


"Yang kuat sayang, kamu pasti kuat. I love you." Brian mencium kening dan mata Kalila yang terpejam karena menahan sakit, tangan Brian tak melepaskan genggaman tangan Kalila.


"Nyonya ikuti instruksi saya." Ucap dokter yang sudah bersiap dibawah Kalila dengan dibantu suster disampingnya.


"Tarik napas, keluarkan perlahan, ketika saya bilang dorong nyonya harus mengejan." Instruksi dokter Kalila dengarkan dan lakukan.


Wanita yang sudah bercucuran keringat itu mulai melakukan apa yang dokter perintahkan hingga, Brian yang disampingnya terus memberi semangat dan ucapan cinta yang begitu tulus.


Kalila sampai menitikkan air mata, mendengar betapa Brian begitu besar mencintainya, bahkan pria yang memberinya semangat sampai ikut menitikan air matanya karena tidak sanggup melihat dirinya kesakitan melahirkan putra pertama mereka.


"Arrrggghh.."


Oeekk...Oeekk..


Suara tangisan bayi menggema diruangan persalinan itu, Brian menatap haru bayi merah yang masih menagis kencang setelah keluar dari rahim sang Istri.


"Terima kasih sayang, terima kasih." Brian menangis sambil menciumi wajah Kalila yang bercucuran keringat, Kalila begitu lelah karena mengeluarkan tenaga untuk melahirkan putra mereka.

__ADS_1


"Sama-sama kak." napas Kalila masih memburu, air matanya juga mengalir begitu saja.


"Lihatlah putra kalian sangat tampan." Suster memberikan bayi yang tertutup selimut setelah dibersihkan, dan menaruh diatas dada Kalila yang terbuka agar mencari sumber kehidupannya disana.


"Kak anak kita." Ucap Kalila terharu, dan mencium lembut pucuk kepala putranya.


"Iya sayang, putra kita." Brian mencium kening putranya dengan sayang, satu tetes air matanya kembali menetes.


"Terima kasih Tuhan, sudah memeberikan kebahagiaan di keluarga kecil kami." Brian mengucap syukur, pria beruntung yang mendapatkan wanita seperti Kalila, dan Brian semakin beruntung karena mendapatkan seorang putra yang begitu tampan.


Brian terseyum saat bibir mungil putranya mencari-cari sumber kehidupannya, sedangkan Kalila hanya memperhatikan dengan senyum.


Dibawah sana dokter masih melakukan tugasnya untuk ibu baru melahirkan, dan rasa sakit Kalila terbayarkan setelah melihat buah hatinya dalam dekapannya.


"Sayang, kamu sudah punya nama untuk putra kita?" Tanya Kalila pada Brian, tatapannya tak lepas dari bibir mungil yang sendang menyesap sumber kehidupannya dengan kuat.


"Sudah, Ellard Dominique." Ucap Brian terseyum bangga, dengan mengusap lembut kepala putranya. "Kelak dia akan menjadi pria yang pemberani."


Nama yang Brian siapakan untuk putranya, Ellard Dominique, kelak Brian berharap putranya akan menjadi pria pemberani, Berani dalam menagmbil keputusan besar, dan berani melindunginya keluarganya terutama sang ibu.


"Nama yang bagus." Ucap Kalila dengan senyum bahagia. "Ellard anak Mommy."


"Anak Daddy juga." Brian memeluk keduanya dengan haru, dirinya bahagia dengan kehadiran malaikat kecil dirumah tangganya, Brian tidak menyangka disisa hidupnya diberikan kebahagiaan yang tiada tara hingga dirinya merasa tidak pantas lagi untuk meminta. Tapi Brian berharap disisa hidupnya dia bisa melihat kedua orang yang dia cintai bahagia, dirinya berharap putra dan sang istri selalu bahagia dalam kehidupannya.


"Terima kasih Tuhan telah memberikan putra dan seorang istri yang sempura, disisa hidupku aku hanya ingin melihat mereka hidup bahagia aku berjanji tidak akan membuat mereka bersedih dan menderita disaat aku masih ada." Brian berucap dalam hati, air matanya tak bisa ia sembunyikan. Air mata kebagian dan juga kesedihan, Brian takut jika hidupnya tidak akan lama lagi.


Meskipun begitu Brian tidak memberi tahu Kalila, dia tidak ingin membuat istrinya bersedih karena kondisinya.


"Maafku aku Kalila."

__ADS_1


__ADS_2