
Pukul delapan malam Kalila baru saja sampai rumah, wanita itu pulang dengan menggunakan taksi.
"Non mau bibi siapakan makan malam?" Tanya pelayan rumah Rayan.
"Tidak usah bi, saya tadi sudah makan." Sahut Kalila dengan senyum.
"Kalau begitu bibi pamit pulang Non."
Kalila hanya mengaguk. "Hati-hati bi."
Pelayanan yang membersihkan rumah dan masak memang tidak menginap, Rayan sengaja memperkerjakan bi Asih namanya hanya pagi sampai dia pulang paling malam jam delapan.
Selain itu Rayan juga tidak ingin diganggu dengan aktivitasnya dengan Kalila.
Merebahkan dirinya di ranjang, Kalila menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Wanita itu mengingat pesan yang Brian kirim.
"Semoga saja ini keputusan yang terbaik."
Sedangkan diluar Rayan bertemu klien dan selesai pukul setengah sembilan malam, mereka cukup lama membahas pekerjaan hingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, karena banyak yang mereka bahas dan pertimbangkan jadi diskusi mereka cukup memakan waktu.
"Nal, saya pulang sendiri saja." Rayan meminta kunci mobil pada Ronal asistennya.
Tanpa lama Ronal langsung memberikannya. "Hati-hati tuan." Ucap Ronal ketika Rayan memasuki mobil.
Rayan mengemudi mobilnya dengan meninggalkan asistennya yang berdiri didepan restoran yang sebentar lagi tutup.
Pria bertubuh tinggi dan tegap itu hanya bisa menghela napas.
Rayan yang pulang menuju rumah berhenti sebentar di pinggir jalan, dia masih melihat toko bunga yang buka dan berniat untuk membelikan sang istri.
"Terima kasih." Rayan membayarnya dan pergi, sejujurnya dia tidak tahu bunga kesukaan Kalila apa, dan dia memilih bunga mawar merah untuk sang istri.
__ADS_1
Kembali memasuki mobil, setelah menaruh bunga yang dia beli dikursi penumpang sebelah, Rayan kembali mengemudikan mobilnya.
Mobil Rayan memasuki halaman rumah pukul sembilan lewat, rumah sudah dalam keadaan gelap dan pasti Kalila sudah istirahat.
Kaki jenjangnya, membawanya menuju lantai atas dimana kamar utama yang sudah dua hari dia tempati bersama sang istri.
Ceklek
Membuka pintu Rayan melihat Kalila yang sudah terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada.
"Pasti kamu kelelahan karena aktifitas tadi pagi." Ucap Rayan yang sudah berjongkok didepan wajah Kalila.
Tangannya mengelus kepala Kalila dan mendaratkan kecupan di kening. "Good night honey." Rayan tersenyum, dirinya beranjak berdiri dan menaruh Buket bunga di meja samping Kalila tidur. Tumbuhnya terasa lelah dan lengket Rayan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kalila yang belum tidur, membuka matanya setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, dan suara air gemericik, itu berarti Rayan sudah mandi.
Bergerak untuk duduk, Kalila melihat ada bunga diatas meja.
Tangannya mengambilkan buket bunga itu dan menciumnya. Ada perasaan haru yang Kalila rasakan, ketika Rayan benar-benar menunjukan rasa sayang dan cintanya.
"Semoga kamu selalu bahagia kak." Ucapnya dengan membawa buket bunga mawar tadi keluar.
Kurang dari tiga puluh menit Rayan keluar dari kamar mandi, dirinya tidak melihat Kalila diatas ranjang, tapi melihat pakaian ganti yang tergeletak di atas ranjang membuat Rayan menyunggingkan senyum.
Ini kali kedua Kalila menyiapkan pakaian ganti untuknya, setelah tadi siang saat berangkat kekantor.
Rayan bergegas memakai pakaian yang disiapkan Kalila, dan segera keluar kamar untuk mencari istrinya dibawah.
Kalila yang sedang menaruh beberapa tangkai bunga mawar tadi tersentak ketika tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang.
"Kamu suka bunganya?" Tanya Rayan yang sudah memeluk tubuh Kalila dari belakang, menciumi bahu dan leher Kalila yang jenjang karena semua rambutnya diikat keatas.
__ADS_1
"Hm," Kalila terseyum, "Suka, terima kasih Kak." tangan kanan Kalila mengusap pipi Rayan yang kepala bersadar dibahu sang Istri.
Rayan tersenyum. "Syukur deh kalau kamu suka, aku tidak tahu bunga kesukaan kamu maaf." Ucap Rayan lirih.
"Tidak apa, aku menyukainya."
Keduanya tersenyum, dengan Rayan yang masih memeluk dengan posisi yang sama, sedangkan Kalila menyelesaikan bunga yang belum semua dia masukkan kedalam vas bunga yang berisi air.
"Kak aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Kalila dengan membalikkan tubuhnya, menghadap Rayan.
Rayan membalas tatapan teduh istrinya, tatapan yang sejujurnya membuat hatinya berdesir.
"Katakan?" Jemari Rayan mengusap pipi Kalila yang mulus, matanya tidak bosan menatap wajah sang istri.
"Em," Kalila sedikit ragu, tapi dia hanya ingin memastikan ucapan Rayan waktu itu.
"Setelah waktu dua bulan selesai, apa aku akan mendapatkan tanda tangan surat perceraian kita." Tanya Kalila dengan menatap lekat bola mata Rayan.
Sekejap tubuh Rayan menegang, matanya memancarkan tatapan yang susah diartikan.
"Kak Ray sudah berjanji." Lanjut Kalila lagi semakin membuat rahang Rayan mengeras.
Rayan lupa hal itu, baru dua hari dua hari dia sudah terlena dengan kebahagian yang dia rasakan, dan mengingat perkataan Kalila Rayan menjadi sedikit takut jika dirinya tidak bisa membuat Kalila hamil, maka dirinya sudah pasti akan ditinggalkan Kalila. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Rayan mencoba menyakinkan dirinya jika Kalila pasti akan hamil sebelum dua bulan.
"Em, janji ku tidak akan lupa sayang." Rayan mencoba untuk tetap tenang, tapi hatinya merasakan keindahan yang kian membesar.
.
.
__ADS_1
Disini karya otor masih sepi, selalu dukung Author yaa gaes, biar semangat 🥰🥰