Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Ingin melihat Rayan bahagia


__ADS_3

"Sayang minum dulu susunya." Brian memberikan segelas susu untuk Kalila yang baru saja selesai membersihkannya diri.


Seperti biasa, Brian selalu menyiapkan susu ibu hamil untuk Istrinya itu.


Setelah pulang dari rumah sakit Kalila langsung membersihkan diri, sedangkan Brian berjalan menuju dapur untuk membuatkan susu untuk Kalila sendiri.


"Aku bisa buat sendiri, kak Bri pasti capek." Ucap Kalila menerima segelas susu buatan Rayan.


"Hanya segelas susu, bukan setumpuk berkas." Jawab Brian sambil mengusap kepala Kalila dengan lembut.


"Terima kasih kak, air hangatnya sudah aku siapkan."


Brian tersenyum, Kalila memebantu melepas kemeja kerja yang Brian pakai. Semejak menikah Kalila berusaha mengurus Brian apapun itu, dari hal kecil Kalila selalu mengingatkan Brian.


Brian menatap wajah Kalila dengan penuh cinta, untuk Brian dirinya begitu beruntung memiliki Istri seperti Kalila. Dan begitu pula sebaliknya.


"Sudah." Ucap Kalila yang sudah berhasil melepas kemeja dan celana panjang yang Brian pakai, hanya tinggal menyisakan celana boxer putih yang Brian kenakan.


"Terima kasih sayang." Brian terseyum, dan memberikan kecupan dipipi Kalila.


"Tidak ingin mandi bersama." Ucap Brian ketika sudah diambang pintu kamar mandi.


Kalila yang sedang menaruh baju kotor dikeranjang menoleh.


"Aku sudah mandi kak." Jawabnya dengan terkekeh. "Abis kamu ditungguin lama Sayang." Lanjutnya lagi dengan geleng kepala.

__ADS_1


Bibir Brian mencebik. "Aku lama buatkan susu istriku tercinta." Brian mendengus.


"Ya sudah buruan mandi, aku sudah lapar." Kalila malah merengek, membuat Brian mengembuskan napas kasar.


"Baiklah." Brian pun mau tidak mau masuk kedalam kamar mandi, dan Kalila hanya terseyum dan geleng kepala.


"Punya suami sama-sama mesum." Gumamnya yang mengingat dulu.


"Tapi dia lebih baik." Bibirnya tersenyum, membayangkan Brian yang begitu baik dan mencintainya begitu besar.


.


.


"Tuan laporan hari ini." Ronal memberikan berkas pada atasnya Rayan yang sendang berkutat dengan pekerjaannya.


Ronal menaruh laporan yang dia bawa disamping tangan Rayan.


"Diluar ada Nyonya besar ingin bertemu dengan anda."


Rayan mendongak mendengar ucapan asistennya itu.


"Suruh Mama masuk."


Ronal mengaguk, semejak lima tahun lalu, Rayan memang menegaskan siapapun orangnya tidak terkecuali jika ingin masuk harus melalui persetujuannya, meskipun kedua orangtuanya tapi Rayan tetap memperlakukan sama.

__ADS_1


Mereka yang mengerti keadaan Rayan tidak masalah, meskipun sempat sebal karena saat pertama kali nyonya Saras datang sempat dicegah oleh sekertaris Rayan meskipun dengan wajah tidak enak.


"Ray."


Rayan mendongak ketika mendengar suara yang begitu dia kenal, senyum tipis terbit dibibir Rayan melihat Mamanya datang.


"Mah," Rayan segera beranjak dan memeluk Mamanya, tapi setelah melihat seseorang dibelakang mamanya senyum tipis Rayan menghilang berganti dengan ekspresi wajah seperti biasa, datar dan dingin.


"Mama mau ngajakin kamu makan siang, kebetulan Jia sedang tidak sibuk."


Wanita yang disebut Jia tersenyum menatap pria yang tanpa ekspresi didepanya.


"Ray, banyak pekerjaan Mah." Ucapnya sambil duduk di sofa singel.


Nyonya Saras juga ikut duduk begitupun dengan wanita yang bernama Jia.


"Apa tidak bisa meluangkan waktu?" Tanya Saras dengan menatap lekat wajah putranya, beliau tahu jika Rayan tidak suka ada orang lain, apalagi seorang wanita.


Rayan menggeleng, "Mama tahu alasannya." Ucap Rayan bergantian menatap wajah Mamanya.


"Tapi kamu juga butuh kebahagiaan nak, tidak seperti ini terus." Nyonya Saras menatap sendu putranya. "Dia sudah bahagia dengan orang yang mencintainya nak, iklaskan Kalila."


Rayan hanya diam tatapannya berubah sangat dingin.


"Ingat nak, hanya kamu yang Mama dan papa miliki, kami ingin melihatmu bahagia membina rumah tangga dan memiliki anak."

__ADS_1


Mendengar kata terakhir Mamanya, membuat Rayan tiba-tiba tersenyum tipis.


"Anak."


__ADS_2