
Dilorong rumah sakit, Kalila berlari menuju UGD, dimana dirinya mendapat telepon jika suaminya dilarikan dirumah sakit kota Moscow.
"Mommy." Ellard berteriak ketika melihat Kalila berlari kearahnya.
Ellard yang duduk disamping Rayan langsung berdiri dan menyongsong Kalila yang semakin mendekat.
"El." Kalila memeluk putranya dengan erat, kini air mata yang sejak tadi dia tahan tumpah begitu saja.
"Daddy Mom, Daddy jatuh pingsan." Ucap Ellard dengan serak.
"Daddy pasti baik-baik saja sayang, Daddy Ellard kuat." Ucap Kalila yang tak kuasa menahan sesak dengan air mata yang mengalir deras.
Baru saja dirinya menemukan sesuatu yang membuatnya curiga, belum sempat tersadar Kalila sudah mendapatkan kabar jika suaminya dilarikan kerumah sakit.
Rayan yang melihat dua orang yang begitu dia cintai merasa teriris, betapa mereka sangat mencintai dan menyayangi Brian, sungguh Rayan merasa sesak mendapati kenyataan itu.
"Keluarga pasien." Panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
Kalila yang mendengar langsung berdiri dan mendekati dokter itu.
"Saya istrinya dok, bagaimana keadaan suami saya." Kalila mengusap air matanya kasar, berharap Brian suaminya hanya kelehan tidak seperti yang dia pikirkan.
Mereka berbicara dengan bahasa asing, "Kondisi pasien sedang tidak stabil, tapi pasien ingin bertemu dengan Istrinya." Ucap dokter pria paruh baya berperawakan tinggi itu.
"Tapi dia baik-baik saja kan dok?" Tanya Kalila yang kembali menangis.
"Mommy." Ellard yang melihat Kalila menangis ikut bersedih.
"El sana uncle." Ucap Rayan pelan disamping Ellard.
Kalila belum menyadari kehadiran Rayan disana, dirinya terlalu panik dan khawatir hingga tidak menyadari ada orang lain yang sangat dia kenal.
Ellard mengangguk, Rayan menggendong Ellard untuk mengajaknya keluar dari sana.
Dokter yang menangani Brian dari awal hanya menghela napas. "Sepertinya beliau sudah lelah karena penyakit yang beliau derita sudah menjalar keseluruh_"
__ADS_1
"Apa?" Kalila menutup mulutnya tidak percaya, dirinya tidak percaya jika selama ini Brian menderita penyakit yang mematikan.
Tubuh Kalila luruh kebawah wanita itu begitu terpukul mendengar apa yang dokter katakan.
"Nyonya anda baik-baik saja." suster membantu Kalila agar kembali berdiri.
Dada Kalila terasa diremas, dirinya tidak percaya dengan apa yang berada didepan matanya.
"Lebih baik anda temui, beliau. karena sejak tadi tuan Brian menunggu anda." Ucap dokter itu lagi yang juga merasa iba.
Tangis pilu Kalila tak bisa dibendung, dirinya benar-benar merasa tak berguna.
Setelah memakai pakaian khusus untuk masuk kedalam, Kalila nampak tak kuasa untuk membendung rasa sedihnya, bagaimana bisa dirinya tidak tahu jika suaminya menderita seperti ini, sungguh Kalila merasa menjadi istri yang tidak berguna.
"Kak." Suara Kalila tercekat melihat tubuh Brian yang begitu banyak terdapat alat yang menempel ditubuhnya, jika seperti ini Brian terlihat begitu kurus.
Kalila menutup mulutnya menangis dalam diam, dirinya benar tak kuasa melihat Brian yang terbaring tak berdaya, apalagi melihat kepala Brian yang tanpa sehelai rambut, jadi selama ini. Kalila menggeleng, betapa bodoh dirinya yang tidak menyadari jika selama ini suaminya berbohong, berbohong menutupi pernyakit nya.
"Sayang.." Suara Brian begitu lemah, matanya yang terpejam berusaha untuk dia buka. Nalurinya merasakan jika belahan jiwanya sedang berdiri tak jauh darinya, dan itu benar. Saat dirinya membuka mata Brian melihat Kalila yang berdiri diam tak jauh darinya.
Tangan Brian terulur, menyuruh Kalila mendekat. Tanpa kata Kalila langsung menyambut tangan dingin Brian.
"Sstttt jangan menangis." Ucap Brian dengan senyum dibibir pusatnya, tanganya mengelus kepala Kalila yang berada diatas dengannya. Ingin rasanya Brian memeluk erat Wanita yang dia cintai menghirup aroma tubuh Kalila yang begitu membuatnya candu. Mengingat itu Brian sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.
"Kamu jahat kak, kamu tidak mencintaiku lagi." Kalila sesenggukan, rasanya ingin sekali Kalila marah, marah pada dirinya sendiri yang tidak peka dengan penderitaan suaminya.
"Aku mencintaimu sayang, sangat." Brian tak kuasa menahan lagi air matanya, dirinya tidak sanggup melihat Kalila seperti ini. Sungguh inilah yang Brian takutkan, membuat wanitanya bersedih dan menangis.
"Honey, please don't cry anymore."
Kalila semakin terisak, Brian memejamkan mata merasakan dadanya yang begitu sesak.
"Hey dengarkan aku." Brian mencoba untuk berusaha kuat dirinya ingin mengatakan kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.
"Honey, tatap mataku." Pinta Brian dengan penuh harapan.
__ADS_1
Kalila belum beranjak dari posisinya yang menunduk dilengan Brian.
"Honey, please give me a chance to see you." Pinta Brian dengan suara lemah.
Kalila yang mendengarnya langsung menatap wajah pucat Brian dengan linangan air mata.
Brian tersenyum simpul. "Wanita ku memang paling cantik, paling baik yang sangat aku cintai."
Kalila hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Brian yang melihat tatapan Kalila begitu terluka. Dirinya tahu wanitanya sedang menahan amarah.
"Jangan salahkan dirimu, ini sudah takdir tuhan untukku." Ucap Brian dengan lembut. Tangannya terus membelai wajah cantik Kalila.
"Terima kasih sudah menemaniku dan menghadirkan kehidupan yang bahagia, Terumatama Ellard dan Elaara." Brian menarik napas dalam, Kalila tak bersuara tapi air matanya yang sejak tadi tidak berhenti mengalir menggambarkan bagaimana perasaanya sekarang.
"Sayang dengarkan aku baik-baik, aku minta maaf jika selama ini menyembunyikan sesuatu yang besar darimu. Percayalah aku hanya ingin membuatmu bahagia tanpa adanya rasa bersalah." Kalila semakin tersedu-sedu. Kenapa disaat seperti ini kenyataan berat datang padanya. "Dan sebelum aku pergi, aku ingin mengakui sesuatu yang selama ini aku sembunyikan, tapi percayalah cintaku pada kalian tidak akan pernah berubah."
Keduanya saling menatap dengan tatapan berbeda, Brian menatap sendu wajah Kalila yang berderai air mata, sedangkan Kalila menatap Brian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ellard bukan darah daging ku."
Jedeerrr
Kalila diam mematung, sorot matanya berubah tajam dengan tatapan dingin. Brian yang menyadari menggenggam tangan Kalila erat.
"Maaf kan aku yang tidak ingin membuatmu terluka dan sedih, maafkan aku sayang maaf." Brian mengecup tangan Kalila, dirinya merasa bersalah dengan kenyataan yang selama ini dirinya sembunyikan.
"Apakah Ellard anak_"
"Rayan, dialah ayah biologisnya." Jawab Brian sebelum Kalila menyelesaikan ucapannya.
"Maafkan aku yang menyembunyikan_"
"Kau jahat kak, aku membencimu." Kalila berdiri dengan Isak tangis yang semakin pilu.
"Maaf..."
__ADS_1
Brian tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya benar-benar merasa bersalah. Disaat seperti ini dirinya baru mengakui kenyataan besar yang dirinya sembunyikan, dan sekarang dirinya sudah membuat Kalila membencinya.
"Meskipun kau membenciku, tapi cintaku tidak akan berubah sampai aku bawa mati, Kalila, Ellard, Elaara Daddy sangat mencintai kalian."