
Tiga tahun kemudian...
"Kak kamu dari mana?" Kalila menatap suaminya Brian yang baru pulang setelah tiga hari tidak ada kabar.
Terkahir Brian hanya mengirim pesan jika dirinya ada perjalanan bisnis, dan tidak bisa dihubungi.
"Maaf sayang, aku baru pulang." Brian terseyum, pria itu memeluk sang istri dengan erat. Meluapkan rasa rindunya selama Ia tinggal pergi.
"Apakah setiap ada bisnis kamu selalu mematikan ponselmu." Ucap Kalila dengan cemberut.
Pasalnya bukan sekali atau dua kali Brian mematikan ponselnya saat melakukan perjalanan bisnis, dan itu sudah terhitung hampir satu tahun ini.
"Karena aku ingin agar pekerjaanku cepat selesai sayang." Ucap Brian dengan lembut.
"Tapi kamu membuat kami khawatir, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Kalila penuh selidik.
Bukan tanpa alasan Kalila bertanya seperti itu, sebagai seorang istri Kalila merasakan jika suaminya kini sedikit berubahnya. Brian tak banyak bercerita apa saja yang pria itu lakukan ketika diluaran sana, jika dulu sekecil apapun yang Brian lakukan pasti akan bercerita dengan Kalila. Dan kini Kalila mulai merasakan perubahan yang Brian lakukan.
"Apa yang harus aku sembunyikan sayang, tidak ada ucap Brian masih memeluk Kalila, tatapan Brian begitu memuja istrinya, dari dulu sampai sekarang Brian begitu mencintai Kalila tidak berubah, bahkan semakin bertambah.
"Tapi aku merasakan kamu sedang menyembunyikan sesuatu kak." Ucap Kalila sendu. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Otaknya berfikir yang tidak-tidak menduga apa yang Brian sembunyikan darinya.
"Percayalah, aku baik-baik saja." Brian tersenyum dan mencium bibir Kalila dengan lembut.
__ADS_1
Kalila membalas apa yang Brian lalukan, keduanya larut dalam gelora antara kedua bibir yang saling bertaut menyalurkan kerinduan yang sempat berpisah.
"Emph."
Brian melepaskan tautan bibirnya, mengusap bibir bawah Kalila yang basah dengan ibu jarinya.
"Apa Ellard sudah tidur?" Tanya Brian tanpa melepas tatapan matanya pada Kalila.
"Em, dia sudah tidur, ini sudah malam." Jawab Kalila.
Brian terseyum, dirinya lupa jika sampai rumah jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan pasti putranya itu sudah terlelap.
"Sayang apa kamu sudah tidak mengkonsumi obat itu lagi?" Tanya Brian.
"Tidak semejak kamu menyuruhku untuk tidak meminumnya." Kalila mengelus dada Brian. "Lagian putra sudah tidak mau aku suapi, alasannya karena Ellard sudah besar." Kalila bercerita sambil mengingat wajah mengenaskan putranya.
"Kalau begitu kamu siap hamil adik Ellard." Brian langsung mengendong Kalila seperti koala. Dan Kalila langsung melingkarkan tangannya dileher Brian.
"Emm, jika kamu ingin sayang, maka aku siap." Ucap Kalila dengan nada sensual, membuat Brian semakin bersemangat dan terpancing gairah.
Keduanya melakukan kegiatan yang melenakan dan membukakan untuk sepasang suami istri, kegiatan yang akan membuahkan hasil dari usaha mereka yang ingin membuatkan adik untuk Ellard.
Brian ingin memberikan adik untuk Ellard, maka dari itu Brian menyuruh Kalila untuk tidak lagi meminum obat pencegah kehamilan karena Brian begitu ingin memiliki anak lagi sebelum sesuatu yang tidak diduga terjadi padanya.
__ADS_1
"Engh kak, Ough aku mau sampai shh." Kalila bergerak gelisah dengan tangan menyentuh tangan Brian yang memanjakan kedua kelembutannya.
Sedangkan dibawah sana Brian tidak berhenti bergerak cepat ketika sesuatu dalam dirinya juga ingin meledak.
"Bersama sayang, Uhh ini nikmat sekali."
Kalila semakin kuwalahan ketika Brian menyerangnya dengan bersamaan, kedua tanganya tidak diam, miliknya dibawah sana terasa berkedut ingin meledakan sesuatu.
Sedangkan bibir Brian memanjakan pucuk dadanya, membuat Kalila semakin menggila mengeluarkan suara yang merdu ditelinga Brian.
"Daddy arrghh."
"Ough.. Kalila..!!"
Brian mengerang diceruk leher Kalila dengan napas memburu, kepalanya sedikit pusing dengan perut yang terasa mual.
Sebisa mungkin Brian menahanya dan mengatur napasnya kembali.
"Terima kasih Mommy kamu selalu nikmat." Brian mencium kening dan bibir Kalila sekilas.
"Aku merindukanmu kak, jangan pernah pergi dariku."
Deg
__ADS_1
Jantung Brian mencolos, dadanya terasa sesak mendengar ucapan Kalila yang berada di pelukannya.
"Maafkan aku Kal, Maafkan aku."