
"Untuk apalagi setiap hari kamu datang kemari." Ucap Karina ketus, pada Rayan yang bersandar di mobil sports mewahnya.
Saat Karina keluar dari kantor, seperti biasa dia melihat pria yang setiap hari bersandar pada badan mobilnya dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
Rayan mendongak, tanpa melepas kaca mata hitam yang dia pakai, dan tangannya masih tetap pada posisinya.
"Mau sampai kamu jamuran disini, aku tidak akan mengatakan Kalila dimana." ucap Karina lagi dengan datar.
Karina sudah muak dan malas melihat Rayan yang selalu mendatanginya setiap hari bahkan sejak satu tahun terakhir.
"Setidaknya kamu hanya cukup memberi tahu negara mana yang Kalila tinggali." Jawab Rayan datar dengan tatapan dingin dibalik kaca mata hitamnya.
Karina berdecak, "Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu." Karina membuka pintu mobilnya, meksipun dia tahu dimana Kalila tinggal, tapi Karina tidak akan melanggar janjinya pada sang adik, meskipun terbesit rasa kasihan pada pria yang selalu menunggu Kalila.
Rayan manatap kepergian mobil Karina dengan perasaan kembali tercokol didadanya, pria itu merasa pria yang paling bodoh dengan apa yang dia lakukan, demi cinta Rayan rela kehilangan semuanya, demi cinta Rayan hampir saja kehilangan nyawanya, dan sekarang demi cinta Rayan kembali bangkit dengan semangat baru, perusahaan Ardana kini bisa menjadi nomor satu di Asia, dan itu berkat semangat Rayan yang baru yang semakin berkobar.
"Nak Ray." Ucap Kania melihat mantan menantunya yang berdiri diambang pintu dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Untuk apalagi kamu datang kemari." Ardian menatap Rayan tajam. "Pulanglah, kau tidak akan mendapatkan apa-apa disini." Ucap Ardian mengusir Rayan.
"Pah, tolong kasih tahu Ray, dimana Kalila tinggal." Ucap Rayan dengan tatapan memohon. Setiap kali Rayan datang kerumah Kalila, hanya permohonan yang Rayan katakan, permohonan agar bisa mendapatkan alamat Kalila tinggal.
"Sayangnya saya tidak akan memberi tahu, meskipun kau menangis darah sekalipun."
Brak
Rayan menutup kedua matanya dengan hati perih, bahkan kedua orang tu Kalila tidak mau memberikan dirinya kesempatan untuk bertemu Kalila, dan hanya penolakan yang selalu Rayan dapatkan, tapi dirinya tidak pernah lelah untuk terus memohon.
Sekali lagi Rayan, menoleh kebelakang menatap rumah besar yang dulu menjadi saksi bisu pernikahannya.
Meskipun sudah Lima tahun Kalila pergi, tapi kerinduan dan cintanya tidak pernah berkurang, Rayan menjaga cintanya berharap akan mendapatkan cintanya kembali dan itu hanya untuk Kalila.
Setelah selamat dari pernyakit yang menggerogotinya, Rayan praktis tidak lagi menyentuh ataupun menggunakan kedua barang yang dulu dirinya konsumsi berbulan-bulan, kini pria itu tidak lagi menyentuh alkohol dan rokok. Rayan menjalani hidup sehat, dan tidak ingin kembali merusak dirinya.
Dibelahan bumi yang berbeda, Kalila batu saja sampai di flat apartemen yang dia tempati, ketika keluar dari lift Kalila melihat pria yang berdiri dengan tubuhnya yang bersandar tembok.
__ADS_1
"Kak, kenapa sudah ada disini?" Kalila menatap Rayan yang yang tersenyum.
"Apalagi," Rayan memperlihatkan dua kantung kresek yang dia pegang ditanganya.
Kalila menepuk keningnya sendiri. "Ya Tuhan aku sampai lupa." Kalila tertawa kecil lalu menekan kode password flat miliknya dan pintu terbuka.
"Kak Bri kan tahu kode pass apartemen ku, kenapa tidak masuk saja?" Tanya Kalila sambil melepas flat shoes yang dia pakai, dan ditaruh di rak sepatu dekat pintu masuk.
Brian pun melakukan hal yang sama, "Sebenarnya aku baru saja tiba, dan istirahat sejenak. Tapi kamu sudah lebih dulu datang." Jawab Brian jujur.
Dirinya memang tahu kode pass pintu flat Kalila, hanya saja dirinya tadi belum sempat masuk Kalila keburu datang.
Brian menaruh dua kantung kresek yang dia bawa diatas meja.
"Lagian kak Bri tidak usah repot-repot, aku kan bisa belanja sendiri." Ucap Kalila dengan tidak enak.
"Tidak apa, selagi aku masih bisa."
__ADS_1
Kalila menatap Brian dengan kening berkerut, entah mengapa ucapan Brian tidak Ia suka.