
"Tidak, dad." Kalila menggeleng sambil tersenyum, "Hanya saja Daddy banyak mengalami perubahan, aku memikirkan sesuatu yang berlebihan, dan semoga pikiranku salah." Lanjut Kalila membuat Brian terdiam sejenak.
"Kau itu terlalu banyak berpikir sayang." Brian menarik sudut bibirnya, dan memeluk Kalila erat.
Sebisa mungkin Brian tidak akan membuat Istrinya tidak curiga, tapi meskipun begitu suatu saat cepat atau lambat pasti Kalila akan tahu yang sebenarnya.
"Daddy kita mau kemana?" Tanya Ellard yang sudah duduk di kursi penumpang disamping Brian duduk.
"Kita akan bertemu dengan rekan Daddy sayang." Jawab Brian sambil memasangkan sealbead.
Brian mengajak Ellard untuk bertemu rekannya di sebuah area lapangan golf, karena mereka berencana untuk bertemu diakhir pekan.
Kalila pun membiarkan Ellard bersama Daddy-nya, dikarena Kalila tahu jika putranya menyukai olahraga satu itu.
Brian menjalankan mobilnya menuju lapangan golf Oblast.
Tak butuh waktu lama Brian sudah sampai di parkiran, Ellard yang melihat tempat untuk dirinya menyalurkan Hobby nya begitu senang.
"Yeee, El akan bermain sepuasnya." Ellard berteriak kegirangan.
"Ayo Son kita masuk kedalam." Brian mengandeng tangan putranya dengan senyum, meskipun perasanannya tidak menentu sebisa mungkin Brian mencoba untuk baik-baik saja.
"Lihatlah itu teman Daddy." Brian menujuk pria yang berdiri siap memukul bola kecil mengunakan stik yang dipengang oleh tanganya.
Bugh
Dengan cepat bola kecil berwarna putih itu terbang begitu jauh hingga jatuh tepat ditempat yang sudah di incar.
Prok
prok
prok
"Horeee, uncle hebat." Ucap Ellard yang menatap takjub permainan teman Daddy-nya itu.
Karena posisi Ellard dibelakangnya, membuat pria itu membalikkan tubuhnya untuk melihat suara kecil yang menggelitik telinganya dan membuat dadanya berdegup dengan hebat.
__ADS_1
"Ellard." Ucap Rayan dengan senyum mengembang.
"Wow, Uncle tahu namaku." Ellard tersenyum bangga.
"Ellard, perkenalkan dia Uncle Rayan dari Indonesia." Ucap Brian memperkenalkan Rayan dengan putranya.
"Indonesia? tempat Mommy dilahirkan? tempat Opa dan Oma tinggal." Ucap Ellard panjang lebar.
Brian terkekeh, sedangkan Rayan menatap takjub anak kecil yang begitu pintar dan juga tanpa.
"Iya, Indonesia tempat Mommy dilahirkan." Brian mengusap kepala putranya.
"Itu berarti Uncle mengenal Mommy juga?" Tanya Ellard menatap Rayan dengan mata bulatnya yang lucu.
"It_"
"Ya Uncle mengenal Mommy mu dari kecil." Jawab Rayan, sebelum Brian memberi jawaban.
Rayan berjalan mendekat dan berdiri didepan Ellard yang menatapnya.
"Apa Uncle boleh peluk Ellard?" Tanya Rayan dengan wajah berharap.
Brian mengaguk, dan Ellard dengan senang hati memeluk teman Daddy-nya yang berjongkok didepanya.
Rayan memeluk erat Ellard dengan berulangkali mencium kepala Ellard, hatinya bergemuruh dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan, bahagia dan sedih menjadi satu.
"Anakku." Rayan bergumam dalam hati, dengan satu tetes air mata yang keluar, Brian yang melihatnya memilih memalingkan wajahnya.
Hatinya terasa sakit mendapati kenyataan yang ada, tapi lebih sakit ketika dirinya mengetahui mengidap pernyakit yang mematikan dan itu berarti Brian harus siap kehilangan semuanya yang dia miliki di dunia ini, terutama cinta Istrinya dan anak-anaknya.
Pelukan Ellard melonggar, dan anak kecil itu melihat kedua mata Rayan yang mengeluarkan air mata.
"Uncle kenapa menagis?" Tangan kecil Ellard mengusap air mata yang menetes, aliran darah Rayan terasa berdesir hebat, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya dengan perasaan yang membuncah.
"Tidak apa sob, uncle hanya rindu dengan putra Uncle." Jawab Rayan dengan senyum, diiringi tangannya yang mengelus rambut hitam Ellard seperti dirinya.
"Uncle juga punya seorang putra?" Tanya Ellard antusias.
__ADS_1
Rayan menggaguk, "Ya, dia sebesar kamu."
Ehem
Brian berdehem agar Rayan tak lagi bicara terlalu, jauh karena dirinya belum sepenuhnya rela jika Ellard adalah anak kandung Rayan, meskipun begitu Brian merima dengan sepenuh hati dan mencintai Ellard seperti dia mencintai ibunya Kalila.
"El, kau bermainlah lebih dulu, Daddy ingin mengobrol dengan Uncle Rayan." Ucap Brian pada putranya.
"Baik Dad." Ellard bersemangat, karena golf adalah kegiatan yang dia sukai.
"Ternyata hobi Ellard menurun dari mu." Brian menatap lurus kedepan, dimana Ellard sedang bermain golf dengan seorang pelatih.
Rayan tersenyum, dirinya juga berdiri, dengan menatap lurus kedepan, hatinya benar-benar merasa bahagia melihat putranya tumbuh dengan sehat dan juga cerdas.
"Seharusnya aku memukul mu hingga babak belur." Ucap Rayan melirik Brian sekilas. "Tapi melihat Ellard yang hidup dengan kasih sayang yang kau berikan aku rasa, ucapan terima kasih yang harus aku berikan." Lanjutnya dengan tulus.
Brian mengagguk. "Aku hanya tidak ingin istriku mengalami depresi, karena ternyata malam naas itu menghasilkan putra seperti Ellard." Ucap Brian membuat Rayan mengepalkan tangannya kuat.
Satu malam sebelum Brian menikahi Kalila, Rayan yang keaparteman Kalila, dan saat itu Rayan melakukan percintaan dengan Kalila dan tenyata dari hubungan satu malam itu, Kalila berhasil mengandung darah dagingnya.
"Selama ini aku sengaja menutupi semua dari Kalila, meksipun aku tahu suatu saat Kalila akan tahu." Rayan menatap Brian yang berwajah sendu. "Aku tidak tahu batas waktu yang aku miliki untuk bersama mereka, aku hanya ingin mengatakan tolong jaga mereka bertiga seperti aku menjaganya." Brian menatap Rayan dengan tatapan sayu.
Rayan pun tidak bias berkata lagi.
"Meskipun Elaara bukan darah daging mu tapi aku yakin kau bisa menyayangi nya seperti putrimu." Brian menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Brian kau_"
Brian mengakat tangannya, bertanda agar Rayan tetap ditempatnya.
"Berjanjilah, meskipun mungkin Kalila membencimu dan membenciku kau akan melindungi anak-anakku." Pandangan mata Brian sudah buram, dirinya menahan rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba datang.
"Bri, kita kerumah sakit." Rayan langsung memapah tubuh Brian saat ingin jatuh.
"Ray_"
"Iya, aku berjanji. Aku berjanji menjaga mereka dengan sepenuh jiwaku." Ucap Rayan yang tidak tega melihat keadaan Brian.
__ADS_1
"Daddy, Daddy kenapa?" Pekik Ellard yang berlari kearah Brian dengan wajah panik. Karena Brian sudah tak sadarkan diri.
"Son, kita bawa Daddy mu kerumah sakit."