
Sejak saat mengetahui Rayan sudah tidak lagi bekerja dan menjadi bagian dari keluarga Ardana, Cantika semakin bebas untuk melakukan apapun, bahkan wanita itu sering kali tidak pulang setelah tahu kebenarannya.
Cantika merah tentu saja, bahkan niat awal hanya ingin menginginkan harta Rayan kini pupus sudah saat dirinya sudah berhasil menjadi istri seorang Rayan, bahkan Cantika sampai menulis surat untuk Rayan yang dia berikan atas peninggalan Cintya, sungguh Cantika merasa kesal karena usahanya selama ini tidak membuahkan hasil, meskipun sempat menggunakan kehamilanya hanya untuk menjadi bagian dari keluarga Ardana, dan setelah menjadi bagian Cantika ternyata menikahi pria kere yang tidak memiliki apapun.
"Ingat pulang kau rupanya." Suara dingin dan mencekam membuat Cantika berhenti berjalan saat memasuki ruang keluarga.
Cantika menoleh dan mendapati Rayan yang duduk di sofa single dengan tangan kiri yang memegang botol minuman, sedangkan tangan kanan pria itu terdapat satu batang ro*ok yang terselip disela-sela jarinya.
Cantika menatap Rayan dengan malas, wanita itu berdiri dengan tangan yang menyilang didadanya.
"Ck, apa kau tidak merasa malu dengan kelakuanmu yang seperti itu." Cantika berucap dengan nada sinis.
Cantika sudah muak melihat Rayan yang hanya mabuk-mabukan dan merokok setiap harinya, dan Cantika yang tidak betah memilih pulang kerumah Daddy-nya.
__ADS_1
Rayan menatap Cantika datar, dengan menghembuskan asap ro*ok keudara. Tatapan pria itu begitu dingin, wajahnya yang ditumbuhi jambang tak beraturan, dan tubuh Rayan yang semakin kurus.
Rayan praktis tidak melakukan apapun saat Kalila pergi dari hidupnya, pria itu seperti kehilangan arah dan tujuan. Hanya saja Rayan sudah menerima perlakuan Kalila kepadanya, karena mungkin itu adalah balasan untuknya setelah pernah membuat Kalila menderita.
"Ray aku mau cerai."
.
.
"Kak Elena semakin hari semakin baik perkembangannya." Ucap Cantika menggunakan bahasa asing.
Wanita cantik itu terseyum dengan manis. "Ini semua berkat dokter yang sudah membantuku, terima kasih." Ucapnya dengan tulus.
__ADS_1
"Sudah menjadi tugasku kak." Kalila ikut tersenyum.
Sejak datang kerumah sakit itu Kalila yang menangani wanita cantik itu, Elena sudah lima tahun duduk dikursi roda sejak usianya Dua puluh tiga tahun. Elena dulu adalah seorang gadis yang memiliki bakat melukis, dan karena ingin memamerkan lukisnya disebuah pameran lukis yang akan dikenalkan kemanca negara saat itulah nasib naas Elena mengalami kecelakaan tunggal berakibatkan kakinya mengalami kelumpuhan. Dan semenjak itu Elena tidak lagi mengembangkan bakatnya yang luar biasa itu, dan hanya melukis untuk Ia simpan di dalam ruangan khusus untuknya.
"Apakah dokter ada waktu untuk menemaniku minum kopi?" Tanya Elena menatap Kalila penuh harap.
Kalila melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya." Sepetinya kalau hanya minum kopi bisa." Kalila terseyum, dan membuat Elena senang.
"Baiklah ayo." Kalila mendorong kursi roda Elena menuju kantin dirumah sakit, dan Elena menyuruh perawat yang menemaninya menunggu di mobil saja.
Kalila menikmati hari-harinya dengan menghabiskan waktu di rumah sakit, wanita itu tidak bisa hanya berdiam diri, karena akan mengingatkannya pada Rayan, pria yang sudah dia tinggalkan dengan penuh luka.
Selama ini Kalila belum bisa melupakan pria yang sudah menjadi cinta pertamanya, meskipun sudah menyakiti hati dan fisiknya.
__ADS_1