Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh

Dinikahkan Dengan Pria Lumpuh
Melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru


__ADS_3

Tubuh Kalila mematung, tiba-tiba napasnya berhenti untuk sesaat.


"K-kau." Tenggorokan Kalila tercekat, matanya tiba-tiba terasa panas melihat siapa yang berdiri didepannya.


Rayan menatap Kalila dengan mata tajamnya, tatapan Rayan begitu dingin membuat tubuh Kalila mematung sulit untuk digerakkan.


"Apa kabar?" Ucap Rayan dengan suara beratnya. "Oh, sepertinya aku salah bertanya." Rayan menelisik tubuh Kalila dari bawah ke atas membuat Kalila menelan ludahnya kasar.


Rayan tersenyum miring. "Ternyata lima tahun tak bertemu mantan istriku semakin cantik." Rayan berbisik disamping telinganya Kalila diakhir kalimatnya.


"Mau apa kau kesini!" Kalila yang sudah menarik kesadarannya menatap Rayan datar. Sekuat tenaga Kalila dengan berani menatap mata tajam Rayan yang membuatnya sedikit gugup.


"Hanya ingin bertamu." Rayan maju ingin menerobos masuk, tapi Kalila mendorong tubuh Rayan sekuat tenaga.


Rayan menatap kedua tangan Kalila yang masih didadanya. Bisa dirasakan jika jantung Rayan tidak baik-baik saja. Jantungnya berdebar tiga kali lebih cepat seperti mau meledak. Rayan menahan gejolak dalam dirinya sejak dipesta tadi, dan dirinya semakin tak kuasa menahan apa selama lima tahun ini dia tahan.


"Pergi! atau aku_Emph."


.


.


.


Didalam pesawat Kalila menatap awan putih yang menjadi pemandangannya saat duduk dipinggir jendela.


Tersentak ketika tangannya digenggam dengan lembut oleh pria yang duduk disampingnya.


Brian terseyum, menatap wajah Kalila yang sendu.


"Jangan dipikirkan, semua akan baik-baik saja." Brian mengusap kepala Kalila, membuat Kalila menyunggingkan senyum tipis. Tangan Brian menarik kepala Kalila untuk bersandar di bahunya.


"Percayalah, apapun yang terjadi tidak akan merubah niat yang sudah aku ucapkan."


Lagi-lagi ucapan Brian membuat air mata Kalila kembali mengalir.


"Ssttt, aku mencintaimu dari segi apapun, kekurangan dan kelebihanmu akan aku terima dengan sepenuh hati." Brian mengecup pucuk kepala Kalila berulang kali, untuk menenangkan wanita yang dia cintai dengan segenap jiwa dan raga.


"Maaf aku Kak." Kalila menangis terisak.


"Sudahlah, lebih baik kita pikirkan hubungan kita, aku ingin sampainya di Jakarta kita langsung menikah."

__ADS_1


Kalila hanya mengaguk, dirinya tidak tahu harus berbuat apa, sungguh Kalila belum bisa menerima keadaanya sekarang, tapi dengan adanya Brian yang selalu disampingnya dan memberinya semangat Kalila tidak ada alasan untuk larut dalam kesedihan. Jika Brian saja menerima dirinya dengan tulus dan apa adanya.


Sampainya dibandara, Brian dan Kalila masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka, mobil keluarga Ardian atau papa Kalila yang ditugaskan untuk menjemput keduanya.


Sedangkan Daddy Jimmy, sudah lebih dulu datang untuk mengutarakan niat putranya yang ingin langsung menikahi Kalila.


Dan kelaurga Kalila menerima apa yang sudah menjadi keputusan Kalila.


Sampainya dirumah kediaman Kalila, sudah nampak beberapa mobil kerabat yang berjejer rapi, dua jam lagi akan diadakan acara ijab kabul untuk Kalila dan Brian. Tidak sulit untuk mengurus apapun jika nama Dominique digunakan. Maka semua akan bekerja secepat kilat sesuai dengan apa yang mereka dapatkan. Bukankah uang segalanya, jika tidak ada pekerjaan yang selesai.


"Mama.." Kalila langsung berlari menabrak Mamanya Kania yang sudah merentangkan tangannya, sedangkan Brian disambut oleh Ardian dan Daddy Jimmy.


"Mama merindukanmu nak." Kania tidak bisa membendung rasa harunya, saat putri keduanya memeluknya dengan erat dan terisak.


"Maafin Kalila Mah." Kalila menatap sang ibu dengan derai air mata.


Kali ini Kalila benar-benar merasakan penyesalan.


"Tidak sayang, semoga ini pilihan yang terbaik untuk kebahagiaan mu." Kedua tangan Kania menangkup wajah putrinya, dan mencium kening Kalila dalam.


Kalila memejamkan mata dengan air mata yang mengalir. Sedangkan Brian hatinya merasa teriris melihat Kalila dengan kesedihannya.


"Semua sudah siap, tinggal menunggu penghulu datang." Ucap Daddy Jimmy pada putranya Brian.


"Lebih baik kalian istrirahat sebentar, masih ada waktu dua jam untuk bersiap." Ucap Ardian papa Kalila.


"Iya nak, sana antar Brian kekamarnya." Ucap Kania tersenyum menggoda putrinya.


Kalila yang mengerti arti senyum Mamanya, hanya tersenyum tipis.


"Ayo kak." Kalila berjalan lebih dulu dan diikuti Brian dari belakang.


"Semoga mereka menjadi pasangan yang bahagia," Ucap Ardian yang menatap punggung putrinya.


Ardian tidak menyangka jika nasib putrinya akan seperti ini, jika dulu dirinya menerima perjodohan dari sahabatnya Ardhana, tapi kini Ardian tidak akan egois untuk kebahagian putrinya. Rayan yang dia pikir pria baik tapi malah membuat putrinya seperti hidup dineraka.


"Kalau mau mandi biar aku ambilkan handuk." Ucap Kalila yang sudah berada didalam kamar untuk Brian istirahat.


Grep


Brian memeluk tubuh Kalila dari belakang, saat wanita itu ingin pergi.

__ADS_1


"Temani aku disini." Ucap Brian dengan memeluk Kalila erat.


Brian menyadarkan kepalanya dibelakang kepala Kalila. Menghirup aroma wangi dari rambut Kalila yang membuat jiwanya tenang.


Kalila memejamkan matanya kedua tangannya memeluk lengan Brian yang berada di perutnya.


"Kak bagaimana jika aku_"


"Sstttt, aku tidak perduli." Ucap Brian yang tidak ingin membahas masalah yang mampu membuat hatinya teriris.


"Terima kasih kak." Tangan kanan Kalila terangkat untuk mengusap kepala Brian yang berada dibelakangnya.


Brian yang merasakan usapan tangan Kalila memiringkan kepalanya, menjadi pipi Brian yang Kalila usap.


"Untuk apa" Tanya Brian dengan memejamkan mata, merasakan usapan tangan lembut Kalila dipipinya.


"Semua, semua yang sudah kak Bri berikan untukku." Jawab Kalila dengan senyum tipis.


"Apa kau ingin mengabulkan satu permintaanku?" Brian memutar tubuh Kalila untuk menghadapnya.


Keduanya saling tatap dengan dalam. Kalila hanya mengaguk.


Brian terseyum, dan menangkup kedua pipi Kalila. "Janji, lupakan masa lalu dan kita buka lembaran baru yang hanya ada kita, dan calon anak-anak kita." Ucap Brian menatap Kalila dalam.


Tatapan Brian yang dalam membuat Kalila semakin merasa bersalah.


"Lupakan semuanya, jangan pernah lagi melihat kebelakang, kita akan bangun kebahagian kita sendiri dengan kehidupannya yang baru."


Kalila tak kuasa menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Hu'um" Mengangguk mengiyakan, " Janji kak."


Keduanya saling berpelukan dengan erat, merasakan gejolak perih dihati masing-masing, hanya karena seseorang yang sengaja menyakiti keduanya, bukan secara fisik tapi batin mereka yang berperang untuk menerima keadaan.


Brian menciumi kepala Kalila dengan air mata yang jatuh begitu saja, ini adalah keputusannya dan dirinya harus menerima apa yang sudah ditakdirkan untuk Kalila dan dirinya. Meksipun suatu saat nanti kemungkinan terburuk dalam pikirannya bisa saja menjadi kenyataan, dan Brian akan menerimanya dengan sepenuh hati.


Entah harus bersedih atau bahagia. Kalila sudah tidak bisa lagi membedakan apa yang dia rasakan saat ini. Dirinya sudah hancur dan kini seseorang yang selalu memberinya bahu kembali memberinya tempat bernaung untuk menjalani kehidupan. Kalila harus bersyukur dengan apa yang sudah Brian lalukan untuk dirinya.


.


.

__ADS_1


Apakah ada yang penasaran?????


__ADS_2