DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Rencana Tersembunyi


__ADS_3

Shindy masih sibuk dengan barang-barangnya. Pakaian yang baru saja ditatanya kemarin ke dalam lemari, kini harus kembali dia kemas. Entah dimana lagi Rama suaminya, dia tidak tahu. Dia tidak pernah pamit jika keluar dan kembali dengan tiba-tiba. Persis seperti iblis yang bisa berpindah tempat tanpa Shindy ketahui.


"Aku sudah menepati janjiku pada ibu mertuaku." suaranya menggema ke seluruh kamar.


Shindy sedikit berjingkat karena terkejut.


"Terkejut ya?" tanya Rama membawa tupperware kecil berisi rendang ke dalam kamar


"Kapan kamu kesana?" tanya Shindy


"Baru saja. Aku tidak mampir ke rumahmu. Ngomong-ngomong bapak mertua jahat sekali ya! Cepat sekali marah dan menyusahkan!" olok Rama


Shindy terdiam. Memang seperti itu watak papanya. Untungnya tidak menurun pada dirinya.


"Setelah ini. Kita makan bersama. Aku sudah menanak nasi untuk kita." ujar Rama beranjak pergi dari duduknya


"Kali ini apa rencanamu Ram?" tukas Shindy seolah tak percaya dengan sikap baik suaminya


Rama terhenti, menoleh dengan seringaian tajam di bibirnya.


"Memberimu kejutan! Kau pasti suka dengan kejutan bukan?" tanya Rama dengan tatapan aneh


"Tidak!" bantah Shindy. "Aku benci kejutan, jika sikap baikmu hanya kepura-puraan."


Rama tergelak. Tawa membahana yang meremehkan sosok istri di hadapannya. Rama menatap tajam ke arah Shindy.


"Ikuti saja permainanku Shin. Apa susahnya menjadi penurut dan tidak banyak bicara?" ucapnya dingin


Benar kan? Baru saja dia bersikap baik, kini mulut iblisnya telah kembali.


"Terserah kau saja Ram." akhir Shindy menutup koper besarnya. Shindy membawa rendang buatan mamanya keluar dari kamar. Namun tangannya ditarik dengan tiba-tiba hingga dia limbung ke belakang. Shindy jatuh, tepat di dekapan Rama.


"Bagaimana jika aku melakukan ini?" Rama mendekatkan bibirnya. Shindy bersiap memejamkan mata. Rama melepaskan dekapannya hingga Shindy hampir terjatuh di lantai. Satu tangan Shindy ditarik lagi oleh Rama.


"Sudah ku bilang kan? Aku suka memberi kejutan. Lagi pula apa yang kau harapkan dari pernikahan yang tidak ku inginkan?" Rama menjatuhkan Shindy begitu saja dan membanting pintu kamar di belakangnya.


Shindy yang terduduk di lantai merasa kesal luar biasa. "Pria gila!" umpatnya


...****************...


Suara beberapa orang terdengar dari depan. Juga suara lantang Rama yang diikuti suara tawa laki-laki. Shindy yang terusik menyingkap selimutnya. Berniat bangun untuk melihat, siapa tamu yang datang sepagi ini.


"Baguslah kalau kau sudah bangun. Ku beri 15 menit. Kita akan berangkat!" tukas Rama yang melongok dari pintu kamar


"Ini baru jam 3 pagi Ram!" protes Shindy

__ADS_1


Rama membuka pintunya kasar. Tampaklah Rama dan dua orang bertubuh besar di belakangnya. Shindy menelan ludahnya dengan susah payah.


Merasa takut dengan dua orang di belakang Rama. Wajah mereka tampak seperti preman. Dengan banyak tato di lengan dan bekas luka memanjang di pipi.


"Apa kau ingin mendapat pelajaran sepagi ini?" Rama mengamit dagu Shindy


Shindy hanya menggeleng. "Kalau begitu, Turuti saja perintahku!" bentakan Rama membuat tubuhnya terguncang.


Shindy beranjak bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Enak juga kau Ram! Bonekamu cantik, punya tubuh yang bagus." ujar Bowo dengan tampang mesumnya


"Aku akan membuatnya bekerja untukku! Enak saja dia bisa tinggal bersama denganku tanpa menghasilkan apapun." ujar Rama


"Jika kau mau, aku bisa memberimu uang untuk memilikinya semalam!" tukas Bowo


"Jangan begitu Wo! Dia seperti wanita baik-baik." sergah Ivan memberi pembelaan pada Shindy


"Jangan terlalu baik padanya Van! Dia sedang mengandung anak orang lain!" ujar Rama meninggalkan Ivan sendirian di kamar itu


Ivan menatap punggung Rama dengan penuh kebencian. "Rama, jika sudah tiba harinya, akan ku robek mulut kotormu itu! Seperti yang sudah kau lakukan pada kakakku, Metha!"


Shindy keluar dengan piyama mandi menempel di badannya. "Aaaaaaa." teriaknya mendapati Ivan ada dalam kamar itu.


Shindy segera berpakaian dan memoles bedak asal ke mukanya. Jika 15 menit waktu yang Rama berikan habis, maka hal buruk akan kembali diterimanya. Shindy menyeret koper besarnya dan membuka pintu kamar. Tepat di depannya, Rama dengan gerakan hendak mengetuk pintu.


"Baru saja aku ingin meneriakimu. Tapi, kau sudah siap!" ujar Rama berbalik


"Ram tolong bawakan koperku!" ujar Shindy


"Aku bukan babumu Shin! Lagipula itu barangmu kan?" Kembali mulut itu mengajaknya berdebat hanya karena masalah koper.


"Sini, biar aku bawakan saja." ujar Ivan menarik koper dari tangan Shindy


"Cuih.." Rama meludah ke samping. "Ternyata kau memang bakat menjadi seorang pembantu Van. Jadi aku tidak perlu repot membayar orang untuk mengawasi bonekaku!" ucapan Rama disambut tawa meledek dari Bowo


Sementara Ivan hanya terdiam, sambil terus mengangkat kopernya ke luar apartemen. Rama menarik lengan Shindy dengan Bowo yang mengawasi dari belakang. "Siapa sebenarnya mereka Ram?" Pertanyaan ini membuat Rama terhenti.


"Bukan urusanmu! Yang terpenting adalah, kita bisa sampai di Bali! Agar kau tidak lagi bisa mengadu pada mertuaku yang rewel!" ujar Rama penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Shindy tidak bertanya lagi. Sudah jelas maksud Rama pergi ke Bali untuk menjauhkan Shindy dari orang tuanya. Juga agar semakin kecil kemungkinan bagi Shindy untuk melaporkan perbuatannya.


Mobil merah itu dikemudikan dengan baik oleh Ivan. Shindy hanya tertidur selama perjalanan. Perjalanan panjang yang akan dilewati dari pagi menjelang malam. Shindy terbangun karena perutnya sudah tidak bisa lagi menahan laparnya.


"Aku lapar Ram." Shindy mencoba berbicara pada Rama

__ADS_1


"Berhenti Van." titah Rama


"Keluarlah Van, antar dia membeli sesuatu!" perintah Rama


Ivan tak menjawab apapun dan menepikan mobilnya.


"Ram, kamu aja ya yang nganterin." pinta Shindy dan hanya dijawab dengan sebuah tatapan tajam.


Shindy menghela napas, dia keluar dari mobil, diikuti Ivan masuk ke dalam minimarket.


"Ram! Beneran dia hamil?" tanya Bowo


"Iya, hamil anak mantannya! Dan sialnya, orang tuanya yang br*ngs*k memintaku menikahinya!" umpat Rama kesal


"Tapi, aku punya rencana yang bagus untuk membunuh bayi h*r*m itu!" ujar Rama


"Kenapa tidak kau biarkan saja bayi itu sampai lahir Ram? Ku dengar istri Tommy ingin punya anak. Kau bisa menawarkan bayimu padanya kan? Aku yakin kau pasti dapat imbalan yang besar!" ujar Bowo sama jahatnya dengan Rama


Rama tampak berpikir sejenak.


"Kau akan rugi Ram, jika membuang sumber uangmu begitu saja!" timpal Bowo lagi


"Bayi itu sumber uang? Kau benar! Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali." balas Rama dengan ide gila di otaknya itu.


Shindy menyusuri rak roti yang ada di depan lurus dengan meja kasir. Ivan hanya menatap gadis di hadapannya dengan kasihan. Jika Metha, kakaknya masih hidup mungkin usianya akan sama dengan Shindy. Shindy yang menyadari hal itu pun bertanya, "Ivan? Namamu Ivan kan?"


Ivan hanya mengangguk.


"Ku lihat kamu masih sangat muda, berbeda dengan temanmu yang satunya." ujar Shindy


Ivan tak menjawab.


"Sebenarnya siapa kalian? Kenapa harus mengantar kami ke Bali?" tanya Shindy


"Aku hanya sopir. Rama suamimu dia bekerja pada tuanku, Tommy. Jadi Tuanku lah yang memintaku mengantar kalian." ujar Ivan


Shindy menatap bingung ke arah Ivan. "Lalu apa peekerjaan suamiku Van? Kenapa uangnya banyak sekali, sedangkan aku sama sekali tidak tahu kemampuan apa yang dimilikinya. Dia pria yang bodoh dan nakal waktu sekolah dulu." cerocos Shindy membuat Ivan tertawa


"Kau baru saja mengolok suamimu sendiri!" ujar Ivan di sela tawanya


"Dia seperti iblis. Bukan suami." balas Shindy


"Apa pekerjaannya Van? Aku yakin kau pasti tahu kan?" tanya Shindy


Tampak Ivan menghela napas. "Ada banyak hal yang tidak kau ketahui. Tapi, kurasa ini bukan waktu yang tepat untukmu tahu segalanya.

__ADS_1


__ADS_2