
"Disana!" teriak anak buah Tommy yang mulai berpencar keluar gerbang
"Ivan ayo kita lari!" ujar Shindy menarik lengan Ivan untuk menjauh.
"Terlambat. Mereka sudah menyadari keberadaan kita." gumam Ivan
"Ivan, masih ada waktu. Sebaiknya kita sembunyi di balik pohon itu!" ajak Shindy untuk kedua kalinya
"Bermainlah petak umpet sendirian nona cantik. Biar kami para lelaki ini yang menghalangi mereka." Sombong Surya sambil mempersiapkan senjatanya
Sssssrttt .. Senjata sengatan itu sengaja Shindy arahkan ke arah Surya hingga tubuhnya terpelanting di tanah.
"Rasakan itu Pak Tua! Aku sudah baik dan menghormatimu tadi. Tapi yang kamu lakukan justru hanya menghina dan meledekku. Meski aku seorang perempuan, aku masih kuat bertarung juga!" balas Shindy mensejajarkan tubuhnya di sebelah Ivan
"Wanitamu ini sungguh kejam Made!" gumam Surya mencoba untuk bangkit
"Sepertinya kau berhadapan dengan orang yang salah Pak Tua!" Ivan tertawa
Mendengar suara tawanya, para bandit itu semakin yakin akan posisi tiga penyusup yang minim senjata itu.
"Berpencar Pak Tua. Aku akan mengendap dan menyergap mereka dari belakang. Kau, pancinglah dia ke arahmu. Dan kau Shindy.." Ivan terdiam, menatap raut muka Shindy yang mendadak serius
"Lakukan sebisamu untuk membantu kami." ujar Ivan dengan seulas senyum.
"Aku akan bersembunyi dulu. Jika mereka mendekat, aku akan menyetrumnya juga." ujar Shindy kembali mendekati sebuah pohon besar.
"Akhirnya, gadis itu mendengarkanku." gumam Surya menarik pelatuk pistolnya yang dihadapkan ke atas.
DOR... Suara tembakan menggelegar di udara. Dengan cepat Ivan menyusup di balik semak-semak menuju arah gerombolan itu datang. Satu dua tiga dst. Shindy sibuk menghitung jumlah anak buah Tommy yang datang menyerang. Enam orang bertubuh besar dengan pistol di masing-masing tangannya.
"Kalah jumlah bukan berarti kalah dalam pertempuran." gumam Shindy meyakinkan dirinya.
Seorang pria gendut berlari ke arah Pak Tua Surya yang tengah menodongkan pistol ke atas.
"Senang bertemu denganmu lagi, Johan!" sapa Surya melemparkan sebilah pisau kecil tepat di leher sang rival.
"Arrrrgh..." Teriakan Johan semakin mengundang kedatangan anak buah yang lain.
Dua pria bertubuh tinggi menerjang ke arah Surya. Pria tua itu tergolek di tanah. Namun masih dengan gesit, menghindari setiap pukulan dan tusukan pisau yang ditujukan padanya.
"Mati kau Tua bangka!" Teriak Irfan bersiap menghujamkan pisaunya ke leher Surya.
Tiba-tiba sebuah sengatan listrik mengenai lehernya. Irfan tampak kesakitan hingga menggelepar di tanah. Entah dapat keberanian darimana, Shindy menindih tubuh pria itu dan terus menyetrumkan alat yang dibawa tepat di lehernya.
__ADS_1
"Mati kau sialan!" umpat Shindy
"Dasar jal*ng!" teriak Kevin sambil menarik keras rambut Shindy.
Shindy tertarik ke belakang. Bersamaan dengan bangkitnya Irfan yang berjalan sempoyongan.
"Bunuh dia Vin!" perintah Irfan.
Kevin mengangkat kepala Shindy ke atas, bermaksud hendak menggorok lehernya. Belum sampai ujung pisau itu bersentuhan dengan leher Shindy. Suara tembakan terdengar kembali. Timah panas itu berhasil melumpuhkan Kevin. Muncratan darah keluar dari mulutnya.
"Tepat sasaran!" ucap Surya dengan bangga.
"Kurang ajar!" pekik Irfan kembali menyerang Surya.
Tubuh renta itu terdorong hingga kembali jatuh, tangan kekar Irfan memukulnya berkali-kali hingga darah segar keluar dari hidungnya
"Hanya sebatas ini kemampuanmu anak muda! Aku bahkan tidak kesakitan sedikit pun." ledek Surya
"Kita lihat, bagaimana kau bisa mengejekku lagi jika ku potong lidahmu itu!" ujar Irfan mengeluarkan kembali belati kecilnya
Sementara Shindy yang sudah pulih dari rasa sakit di kepalanya bergegas bangun dan kembali menyetrum Irfan
"Rasakan ini penjahat!" teriak Shindy
"Mati saja kau!"
DOR.. DOR.. DOR... Tiga tembakan dilayangkan. Cukup untuk menghancurkan paru-paru dan organ dalam Irfan. Dalam hitungan detik laki-laki itu berubah menjadi mayat.
"Kita impas nona cantik. Tidak ku sangka kau ini hebat juga." puji Surya
"Jangan banyak bicara Pak Tua atau.." Shindy mengangkat Stun Gun di hadapan Surya
"Tidak nona cantik. Jangan lagi, atau aku akan benar-benar mati terkena serangan jantung." ujar Surya sedikit menjauh
Shindy menyeringai dan berinisiatif mencari Ivan. Surya pun mengikuti arah langkah Shindy menjauhi dari dua orang yang terlegetak itu.
Jangan ditanya kemana Ivan, kini dia berhadapan dengan tiga orang sekaligus tanpa senjata apapun. Dia bergulat dengan tangan kosong. Pukulan demi pukulan Ivan layangkan pada ketiga musuhnya. Tak lupa dengan tendangan dan gaya mengunci khas yang dia miliki kini sudah berhasil menguasai kepala lawan.
"Satu gerakan saja maka kepalamu akan terpisah dari tubuhmu." tukas Ivan
"Jangan sombong dulu! Hadapi kami sebelum membunuhnya!" teriak David, seorang pria bertubuh kecil dengan kumis tebal di bibirnya.
"Pak Tua, kau atasi pria besar itu. Biar ku hadapi pria kerdil yang tidak tahu diri ini." gumam Shindy yang maju tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Shindy awas!" teriak Ivan
BUG... Sebuah pukulan mendarat di perut Shindy. Tubuh Shindy terlempar beberapa meter. Tampak dia mengeluh kesakitan, bekas operasi caesar di perutnya kini terasa nyeri luar biasa. Teriakan Shindy terdengar memilukan. Tangisnya pecah, tatkala kondisinya yang tidak baik-baik saja. Tubuhnya meringkuk sambil terus memegangi perutnya.
"Baj*ngan!" umpat Ivan memutar gerakan kakinya hingga bunyi krek terdengar begitu keras..
Kepala Vino, pria yang tadi digunting oleh kedua kakinya pun telah memutar 180°. Sudah dipastikan dirinya tidak akan selamat.
"Tembak dia Surya! Habisi dan jangan sampai lolos!" Teriak Ivan berlari menghampiri Shindy
DOR... Tembakan Surya melesat beberapa kali. Namun tidak satu pun peluru yang menembus mereka. Mata rabun Surya telah kembali. Penglihatannya yang buram di tambah pergerakan David dan pria satunya lagi cukup lincah berpindah-pindah membuat dua orang itu lolos begitu saja.
"Aku akan mengejarnya Made. Kau jaga gadismu ini. Jika aku mati, tolong sampaikan salamku pada istriku. Katakan aku mencintainya sampai mati. Dan jaga dia untukku kawan." racau Surya sambil berlari pelan semakin menjauh
"Jangan memperburuk suasana Pak Tua. Pergilah, habisi mereka dan cepat kembali!" Teriak Ivan meski ragu telinga tua itu akab mendengarnya
"Shindy kau baik-baik saja?" tanya Ivan menatap wajah kesakitan Shindy sambil terus memgangi perutnya
Ivan menyingkap perlahan pakaian Shindy. Bekas sayatan melintang terlihat kembali mengeluarkan darah. Bekas jahitan luka lahiran waktu itu bahkan masih basah dan Shindy harus mendapat luka baru lagi
"Maafkan aku. Maafkan aku Shindy!" ujar Ivan memeluk gadisnya penuh kasih sayang
"Maaf telah melibatkanmu dalam hal yang berbahaya. Aku akan menghubungi Andrian untuk membawamu pergi." ujar Ivan
Ivan mencari kontak Andrian dan bergegas meneleponnya. Pada sambungan ketiga, terdengar suara Andrian yang terengah-engah. Entah apa yang mereka lakukan.
"Aku sudah mengirimkan titik lokasinya An. Lapor polisi dan datanglah segera. Shindy terluka dan dia buruh bantuan." terang Ivan
"Hah.. Hah.. Maaf Van. Aku baru saja selesai." ucapan ambigu Andrian membuat Ivan tersenyum geli
"Lanjutkan saja dulu rencanamu pengantin baru! Hasratmu lebih penting dari apapun sekarang." goda Ivan yang masih sempat-sempatnya bercanda
"Aku baru saja mengangkat istriku. Dia baru saja pingsan tanpa alasan. Ini aku ada di rumah. Setelah Retha sadar, aku akan menyusulmu."
Jawaban Andrian melayangkan sebuah tamparan kecil di pipi Ivan.
"Ini keadaan serius Van. Bicaralah seperlunya saja!" ujar Shindy dengan tatapan lemah.
"Maafkan aku Shindy. Biar ku bawa kau masuk ke dalam mobil." Ujar Ivan menyelipkan tangannya ke bawah lutut Shindy
"Tidak ada waktu lagi Van. Kita harus bergerak!" tukas Shindy mencoba untuk bangun.
"Tapi kondisimu?" tanya Ivan
__ADS_1
DOR...