DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Salah Ruang


__ADS_3

"Kamu.." gumam Shindy begitu menyadari pasien yang terbaring di depannya.


"Kau boneka itu kan? Istri Rama yang... Hmm menggiurkan." balas Bowo dengan tatapan mes*mnya.


"Darimana kau tau aku dirawat disini? Tunggu! Melihat bajumu, kau pasti juga dirawat disini."


"Apa kau memang berniat mencariku?" Tanya Bowo


"Tidak! Aku.. salah masuk kamar." bohong Shindy


"Mumpung kau masih disini, bagaimana jika kita mencoba sekali lagi. Hahaha lagi pula tubuhku ini sangat kaku karena terlalu lama berbaring. Ku rasa aku butuh pemanasan." ucapan menjijikkan itu kembali terdengar.


Shindy menoleh ke sekitarnya, memastikan apa benar ini adalah kamar yang Rony masuki tadi.


"Benar, ini tempatnya. Tidak salah lagi. Tapi ck.. Mengecewakan." Shindy berniat menarik pintu itu kembali agar tertutup.


BRUK... Seseorang mendorongnya masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya.


"Apa-apaan ini?" tanya Shindy menoleh ke arah pria yang baru saja datang.


"Diam! Kenapa kau disini?" tanya Rony dengan tatapan tajam


"Lepaskan dulu tanganku!" Pinta Shindy sambil mencoba melepaskan cengkeraman Rony


"Aku tanya sekali lagi, mau apa kau kesini?" tanya Rony tak sabaran


"Mungkin dia menjengukku Ron. Dia pasti .. Merasa bersalah karena ulah suaminya yang menembakku waktu itu. Kemarilah sayang, biar ku hangatkan dirimu." seloroh Bowo yang mendapat tonjokkan tepat di hidungnya.


"Arrgh.. Kenapa kau memukulku Ron. Ini sakit." Darah segar mengucur dari hidung Bowo.


Shindy menganga heran dengan kelakuan Rony. Bukankah Bowo temannya, lalu kenapa dia melukainya untuk membelaku?


"Jawab pertanyaanku!" bentak Rony


Shindy yang terkejut mengedipkan matanya beberapa kali.


"Aku.. Aku melihatmu keluar dari ruangan ini tadi. Jadi.. Aku mengikuti kesini. Ku kira kau sedang menjenguk Ivan." balas Shindy dengan kepala tertunduk

__ADS_1


Smirk jahat khas wajah Rony kembali ditampilkan. Tangan besinya mendongakkan dagu Shindy hingga tatapan itu saling bertemu. Saat itulah shindy menyadari, ada bekas luka sayatan melintang dari alis hingga pipi kanannya. Mengerikan. Pikir Shindy


"Aku.. Aku..." Shindy bingung hendak berkata apa. Ketakutan menjalari seluruh pikirannya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Rony mulai melepaskan lengan Shindy


"Aku.. Aku sudah membaca surat yang kau tinggalkan di nakas. Aku khawatir pada Ivan. Tolong, beritahu aku dimana Ivan sebenarnya." ujar Shindy menggenggam tangan kanan Rony dengan kedua tangannya.


"Apa hakmu menyentuhku?" Tatapan tajam itu mengarah ke kedua tangan Shindy.


Shindy bergegas melepaskan pegangannya.


"Maaf." ujarnya pelan


"Kau, melihatku menyelipkan kertas itu?" tanya Rony menyelidik


"Tidak, paman Wayanlah yang melihatmu." balas Shindy jujur


"Baiklah, katakan apa alasanmu begitu mengkhawatirkan Ivan? Bukankah harusnya kau mencari suamimu?" tanya Rony


"Kau masih ingat pesanku tempo hari?" tanya Rony


Shindy terdiam. Mencoba mengingat setiap percakapan yang terjadi diantara mereka di rumah Rama.


"Jika kau lupa.."


"Aku ingat!" Jawaban Shindy memotong kalimat Rony


"Aku akan mencabut laporanku atas Rama setelah kau memberitahukan padaku dimana Ivan sekarang." ujar Shindy


Rony tersenyum


"Sekarang kau sedang mencoba bernegosiasi denganku ya?"


"Tidak bisa dikatakan begitu. Aku hanya ingin kita saling membantu, ku rasa kau juga masih membutuhkan suamiku. Itu sebabnya kau memintaku mencabut laporanku di kantor polisi. Dan aku membutuhkan informasi tentang Ivan. Jadi, kenapa kita tidak saling membantu saja!" ujar Shindy


"Kau salah besar." ujar Rony

__ADS_1


"Aku memintamu mencabut laporan agar penyelidikan polisi terhenti sekarang juga! Aku tidak ingin suami bodohmu tertangkap dan menyeret nama tuan Tommy di dalam pengakuannya nanti. Tapi, terserah kau saja..."


GREP... Kelima jari Rony melingkari leher Shindy. Sedikit mengangkatnya ke atas dan membiarkan Shindy kesakitan dalam cekikannya.


"Le.. Pas.." pinta Shindy dengan kaki menggantung


"Aku tidak main-main dengan ucapanku, jika kau tidak mau menuruti perkataanku. Maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Atau.. Kau ingin menghabiskan sisa hidupmu untuk pemuas naf*su pria ini saja?" Ancam Rony sambil melirik ke arah Bowo yang masih fokus membenahi hidungnya


Shindy menggelengkan kepalanya. Tangannya mencoba melonggarkan jemari Rony namun jari-jari itu tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


BRUK.. Tubuh Shindy terjatuh dengan selang infus yang kembali terlepas.


"Uhuk.. Uhuk.. Sakit." keluh Shindy


"Ini bukan sekedar ancaman. Tapi juga peringatan untukmu!" kalimat Rony memaksa Shindy untuk menjauh dari dua lelaki berbahaya dalam ruangan itu


"Baik. Aku akan mencabut laporanku." Shindy berjalan mendekati pintu, berusaha membuka kenopnya. Sebuah sentuhan jari menarik anak rambut Shindy dari pipinya dan menyelipkan ke telinganya.


"Jadilah gadis yang baik. Jika kau masih sayang dengan nyawamu." Bisikan itu terdengar tepat di telinga Shindy. Dengan hembusan napas dari Rony yang membuat bulu kuduknya meremang.


CEKLEK.. Shindy membuka pintu itu dan mendapati Pak Wayan yang baru kembali dari kantin lewat di lorong rumah sakit.


"Kok kamu disini?" tanya Pak Wayan heran


"Aku.. Mencari paman." bohong Shindy


"Jangan berkeliaran sendiri. Berbahaya untuk wanita hamil sepertimu. Ayo." ajak Pak Wayan kembali


Shindy mengekor di belakang Pak Wayan. Langkahnya terhenti sejenak, melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang PACU. Samar terlihat pasien yang baru di tangani terbungkus perban di dalam sana.


"Ayo!" panggil Pak Wayan


"Baik paman." Shindy berlari mengikuti Pak Wayan.


Tanpa dia sadari, seseorang tengah mendengarkan suaranya dengan seksama. Meski masih dengan posisi terpejam, namun telinganya berfungsi dengan baik. Bulir air mata menetes dari kedua sisinya. Suara itu adalah suara gadis yang dirindukannya.


"Shindy.. Itukah dirimu?"

__ADS_1


__ADS_2