DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Hilangnya Ivan


__ADS_3

Sirine polisi dan bomber terdengar bersahutan menuju ke rumah Shindy, Shindy beserta paman Ivan dijemput untuk menuju TKP. Shindy yang masih setengah tidak percaya duduk di sebelah pengemudi, menunjukkan jalan. Beberapa mobil itu beriringan masuk ke area perkebunan, satu per satu mobil menyeberangi jembatan kayu yang kecil itu. Jilatan api masih terlihat membakar nyaris mengenai setengah kebun itu. Juga beberapa ledakan kecil dari mobil terdengar. Shindy turun dengan tatapan kosong ke arah api. Membayangkan, seorang manusia hidup terbakar di dalam sana. "Bagaimana sakitnya, panasnya, jika terkena minyak atau api kecil saja kulit sudah melepuh." Shindy memikirkan penderitaan Ivan menemui ajalnya.


Semburan air deras mengenai api yang semakin membesar. Beberapa kali, bomber itu mengambil air di sungai sebelahnya untuk membantu proses pemadaman. Tak lama berselang, api berhasil dipadamkan. Asap hitam masih mengepul di sisa-sisa kebakaran.


"Kami menemukan ini." polisi membawa beberapa barang dari dalam rumah.


"Ini punyamu?" tanya seorang petugas menunjukkan gaun putih di tangannya


"Iya.."


"Aku juga menemukan ini." petugas satunya lagi membawa beberapa botol miras dan sebuah map berwarna merah.


"Apa ini punyamu juga?" tanya mereka


Shindy mengamati sejenak map itu, dibukanya sampul merah yang dipegangnya dengan hati-hati.


"Anton Raharja?" Shindy membaca headline di sampul depan.


Beberapa berita mengenai kesuksesan papanya dan biografi lengkap dengan jadwal aktivitas rutin papanya juga tertulis.


"Ini... Ini milik saya." bohong Shindy


"Selain itu kami tidak menemukan apapun dari dalam rumah." ujar petugas


"Dari hasil kebakaran pun, tidak ada jasad seseorang. Hanya mobil dan kebun saja yang terbakar. Kami akan meneliti lebih lanjut, barangkali kami menemukan tetesan darah atau bukti penganiayaan atas saudara terlapor." ujar petugas yang mengecek di seluruh kebun


"Tidak ada jasad? Tubuh Ivan.. Hancur?" pekik Shindy


"Tubuh manusia yang terbakar pasti masih meninggalkan struktur arang berbentuk manusia. Minimalnya abunya berwarna lain. Berbeda dengan abu yang ada disini." tukas petugas polisi itu memberi penjelasan.


"Lalu dimana Ivan? Apa dia dibuang?" tanya Shindy mencoba menebak kemungkinan yang terjadi.


"Kami belum tahu pasti. Sebelum kami menangkap saudara Rama dan menemukan jasad Ivan maka kami tidak bisa memberi kesimpulan apapun." ujarnya lagi


"Kapan kira-kira dilakukan penangkapan Pak? Pemuda ini berbahaya." ujar paman Ivan


"Secepatnya, kami harus menyelidiki dulu dimana rumah dan tempat yang biasa dia kunjungi. Baru kami bisa melakukan pemantauan" ujar petugas itu


"Aku tahu dimana rumahnya." Shindy tiba-tiba berseloroh

__ADS_1


"Maksud anda, Rama punya rumah selain ini?" tanya polisi itu memastikan


"Iya Pak."


"Mari kita bagi dua tim. Tim Pak Imam, kalian memeriksa rumah ini. Saya dan tim akan memeriksa rumah yang satunya lagi." tukasnya


"Baik Pak."


Shindy kembali masuk ke dalam mobil. Sementara paman Ivan tetap tinggal guna memberikan keterangan mengenai Ivan. Shindy melamun, banyak pertanyaan tanpa jawaban yang muncul di otaknya. "Bagaimana jasad Ivan tidak ada, bagaimana Ivan bisa tahu rumahnya, bagaimana awal pertikaian mereka berdua, kenapa mobil Rama bisa menabrak pohon." dan banyak pertanyaan ambigu yang memenuhi kepala Shindy


Kepalanya berdenyut memikirkan rentetan kejadian yang tak masuk akal baginya. Mobil yang dia tumpangi menuju ke kota lain, tempat rumah pertamanya berada. Kali ini rombongan mereka hanya satu mobil saja. Tidak beriringan seperti sebelumnya, karena memang hanya penyelidikan yang akan dilakukan di tempat ini.


Shindy turun begitu mobil itu terparkir di halaman. Rumah itu tampak sepi, pintunya bahkan terkunci. Shindy mengitari samping rumah, terhenti di jendela kamarnya yang masih tertutup korden. Shindy berjalan ke belakang rumah, tempat jalan tembus ke kebun yang terhubung dengan lorong kecil di dapur. Shindy berusaha membuka pintu, namun sama. Pintu itu juga terkunci. Sementara beberapa petugas mencoba mendobrak paksa pintu depan. Suara tembakan terdengar beberapa kali.


"Apa Rama ditemukan? Apa dia tertembak?" Shindy berlari ke arah depan.


Terdengar beberapa orang berbincang. Namun tidak ada suara Rama.


"Kami berusaha merusak pintunya. Ayo masuk." ajak salah seorang petugas.


Shindy berjalan mendahului, masuk ke dalam ruang kerja Rama. Berniat mencari bukti untuk pekerjaan gelap suaminya. Shindy terus mencari sesuatu di bawah laci.


"Baju!" pekik Shindy terkejut.


Sekumpulan baju bekas tidak layak pakai ada disana. Shindy mengeluarkan semuanya namun tetap tidak menemukan yang dia cari.


"Aku yakin koper ini yang berisi barang itu. Kenapa sekarang.. Tidak mungkin." guman Shindy


Tanpa Shindy sadari, seseorang tengah mengintip dari lubang ventilasi.


"Ku rasa benar apa yang Rama katakan tentangmu, kau hanyalah gadis bodoh." sebuah tawa tanpa suara terlihat begitu mengerikan


Shindy bergegas keluar dari ruang itu dan berlari ke atas. Shindy terhenti saat mendengar suara pergerakan dari plafon rumah. Diamatinya lampu gantung bergerak.


"Apa ada seseorang disana?" teriak Shindy yang mendapat tatapan aneh para petugas


Shindy mengabaikannya dan masuk ke dalam kamar Rama. Pakaian serta buku dan barang milik Rama masih disana. Sama seperti sebelumnya, barang-barang itu tidak di tata dengan benar. Shindy mencari ke seluruh ruangan, berharap menemukan suntikan dan benda cair yang pernah dia temuka dua kali. Namun nihil. Hanya buku-buku m*sum yang tersusun rapi di raknya.


"Ck.. Kenapa tidak ada!" pekik Shindy

__ADS_1


Shindy melongok ke lorong tempat tidur berusaha mencari sesuatu disana. Sebuah album foto bertuliskan memori tampak berdebu. Shindy membuka album itu. Foto Rama kecil yang sedang dipeluk oleh orang tuanya. Wajah polos yang tampan tampak disana, sangat berbeda dengan Rama yang dikenalnya sekarang.


Shindy membalik lembar kedua. Sebuah foto sepasang muda-mudi sedang berpelukan di taman bunga.


"Ini.. Siapa?" gumam Shindy


Shindy menarik album foto itu. "Cinta pertamaku."


"Pacar Rama?" terka Shindy


Shindy membalik lagi halaman selanjutnya. Ada foto tak lazim yang diambil Rama saat berhubungan dengan seorang wanita.


"Menjijikkan." gumam Shindy


Lembar-lembar setelahnya hanya foto seperti itu yang ditempelkan.


"Tidak berguna." Shindy melemparkan album itu dengan marah.


"Aku harus menemukan seuatu yang lebih berharga. Tapi apa?" gumam Shindy


BRAK.. Pintu kamar tertutup tiba-tiba. Shindy menoleh ke arah pintu. Seorang pria berumur 30an tampak tersenyum ke arahnya. Langkah pria itu semakin mendekat. Shindy mencoba berteriak namun tangan pria itu lebih dulu membungkamnya.


"Jangan berteriak, atau aku akan membunuhmu. Katakan, kenapa kau membawa polisi kemari?" tanya pria itu


"Rama.. Aku mencari Rama. Aku sudah melaporkannya ke polisi. Dia.. Dia sudah membunuh Ivan." ujar Shindy ketakutan


"Kau! Sebenarnya kau mencintai Rama atau Ivan?" tanya pria itu


"Setelah ku amati, kau begitu dekat dengan Ivan, tapi beberapa kali kau tidur dengan Rama. Kau bahkan marah melihat foto-foto itu. Sebenarnya apa tujuanmu?" tanya pria itu lagi


"Aku.. Aku.. Ingin Rama berhenti membunuh. Aku ingin dia jadi suami dan pria yang baik seperti Ivan." ujar Shindy jujur


Lelaki itu tertawa. "Ivan yang kau sangka baik itu, dia juga seorang pembunuh."


"Tidak mungkin!" elak Shindy


"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas itu kenyataannya. Dan satu lagi, jika kau masih sayang dengan nyawamu. Cabut tuntutanmu pada Rama dan akhiri semua ini sendiri." ancam pria itu mengarahkan pisau ke leher Shindy


"Ku beri seminggu untuk menyelesaikan semuanya! Lupakan segala tentang Rama atau Ivan. Mulailah hidup baru dan jangan pernah kembali kesini lagi, dengan alasan apapun."

__ADS_1


__ADS_2