DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Rumah Sakit


__ADS_3

Timah panas menembus lengan kanan Shindy. Harusnya peluru itu mengenai kepala Ivan, namun Shindy lebih dulu menghadangnya. Shindy tersungkur. Tubuhnya ambruk dan ceceran darah berjatuhan di atas lantai. Wajah Shindy tepat berada di depan Ivan yang pura-pura pingsan.


"Van, tolong aku.” Ujar Shindy


Tangan kanan Shindy mencoba menggapai wajah Ivan. Namun belum sempat menyentuhnya, Shindy mulai kehilangan kesadarannya.


Ivan mengeram. Kedua tangannya mengepal kuat. Ivan membalikkan tubuhnya, menendang kasar perut Rama yang berdiri tepat di atasnya. Tubuh Rama terkapar beberapa meter dari pintu kamar. Rama meringis kesakitan, kedua tangannya masih memegang pistol itu dengan kuat.


Dorr....


Tembakan kedua melesat, BUG... Bersamaan dengan itu tubuh Bowo tumbang.


“Kau tidak bisa membunuhnya.” Sergah Bowo menghalangi Rama.


Darah mengucur dari dada kanannya. Tembakan Rama tidak mengenai Ivan. Dengan panik, Rama terbangun dan memapah Bowo. Berusaha menyelamatkan sahabatnya itu, Ivan hanya terdiam menatap mereka berjalan menuju pintu.


“Ivan” terdengar suara lemah memanggil


Ivan menoleh ke arah Shindy yang merangkak ke arahnya.


“Ayo kita harus ke rumah sakit.” Ujar Ivan.


“Mereka sudah pergi?” tanya Shindy memastikan


“Kenapa kau menyelamatkanku?” tanya Ivan membawa Shindy dalam gendongannya


“Karena kau satu-satunya yang ku miliki sekarang Van. Kau temanku. Karena mereka tidak berada di pihakmu, maka aku memihakmu.” Ujar Shindy


Ivan terhenti


“Maaf, aku sempat berpikiran jahat untuk memanfaatkanmu. Sekarang aku akan membantumu terbebas dari mereka.” Batin Ivan


Ivan membawa tubuh Shindy hingga keluar pagar. Sebuah taksi online terhenti di depannya. Ivan membawa masuk Shindy ke kursi belakang.


“Ke rumah sakit Santa Pak!” pesan Ivan


Mobil itu melaju ke arah yang mereka maksudkan. Shindy meringis kesakitan, lukanya semakin banyak mengeluarkan darah. Ivan melepaskan kaosnya dan merobeknya lalu mengikatkan pada lengan Shindy yang terluka.


“Bertahanlah, kita akan segera sampai.” Ujar Ivan


Shindy bersandar di dada Ivan. Tubuhnya semakin melemah, wajahnya pun berubah pucat.


“Tolong lebih cepat lagi Pak.” Pinta Ivan


Mobil itu semakin melaju memecah jalanan malam, bahkan sempat beberapa kali mendapat umpatan dari pengendara lainnya karena mengebut dan menerobos lampu merah. Ivan segera membawa keluar tubuh Shindy setelah meninggalkan uang seratus ribuan di dalam mobil.

__ADS_1


Shindy sudah pingsan ketika Ivan menggendongnya. Tubuhnya yang lemas di baringkan di ranjang IGD.


“Tolong Dok, dia habis tertembak.” Ujar Ivan dengan paniknya.


“Tertembak? Ini termasuk tindakan kriminal. Anda harus melaporkannya, baru kami bisa menanganinya.” Ujar salah seorang perawat


“Kami tidak.. dia tidak sengaja tertembak saat kami sedang latihan. Tangani saja dulu dokter. Tolong.” Pinta Ivan pada dokter tua yang baru saja datang


“Cek tensi dan suhu tubuhnya. Jangan lupa ambil sampel darahnya.” Perintah dokter itu.


Ivan menghela napas lega, akhirnya Shindy segera ditangani tanpa banyak bertanya.


“Tekanan darah 110/80, suhu tubuh 36,3 dan tidak ada masalah kesehatan terkait dok.” ujar perawat wanita yang baru datang dari lab.


“Bawa pasien ke ruang operasi.”


Ranjang Shindy didorong melalui lorong rumah sakit, Ivan hanya ikut mendorongnya sambil melantunkan do’a agar Shindy tetap baik-baik saja.


“Bertahanlah Shin.” Ucapan terakhir Ivan terdengar di telinga Shindy.


Tubuh itu terdorong masuk ke sebuah ruangan.


“Berikan anestesinya.”


Sebuah suntikan diberikan pada lengan Shindy. Perlahan kemudian Shindy hilang kesadaran sepenuhnya.


“Kau begitu mengkhawatirkannya, memangnya dia istrimu?” sindir Rama


“Dia terluka karena menolongku. Ironisnya tangan suaminya sendiri yang melukainya. Miris sekali!” balas Ivan sengit


“Kau!” Rama menarik kasar kerah baju Ivan


“Ini rumah sakit! Jaga sikapmu!” ujar Ivan menepis kasar tangan Rama.


Ivan beranjak pergi, berusaha menghindari keributan. Ivan berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman dingin. Namun tak lama setelah dia duduk, Rama kembali melintas menuju ke sebuah ruang inap. Ivan mengikuti dari belakang. Rama beberapa kali, menoleh memastikan tidak ada yang mengikutinya.


“Ini yang kau minta.” Rama bersalaman dengan seorang pria berambut gondrong


Ivan meludah ke samping. Bisa-bisanya mereka transaksi di tempat seperti ini.


“Uangnya sudah ku tranfer ke Tuanmu. Mana gadis yang kau bilang cantik itu?” tanya pria itu


“Dia sedang dirawat, di tempat ini. Akan ku kabari begitu kondisinya membaik.” Ujar Rama


“Ingat! Jangan melakukannya terlalu kasar, itu bisa menyakiti bayinya.” Timpal Rama lagi

__ADS_1


“Anggap saja, itu bonusku. Aku sudah mengambil banyak padamu.” Tukas pria itu lalu beranjak pergi.


“Dasar pria kotor!” umpat Ivan.


Ivan pun bergegas kembali ke ruang operasi.


“Kami sudah menunggu anda Pak!” sapa dokter itu begitu Ivan sampai


“Peluru itu sudah menyebabkan keretakan pada lengan pasien. Jadi kami memasang pen dan untuk sementara pasien harus dirawat beberapa hari.” Ujar dokter


“Bagaimana kondisinya sekarang dok?” tanya Ivan


“Pasien masih dalam kondisi kritis. Kami akan memindahkannya ke ruang PACU agar pasien lebih mudah dipantau perkembangannya.” Ujar dokter itu


“Kami mohon, saudara bisa mengurus administrasinya lebih dulu di depan.” Ujar dokter itu seraya masuk kembali ke dalam ruangan


Ivan menelepon seseorang untuk membiayai seluruh pengobatan Shindy. Terdengar sahutan suara berat dan dentuman musik keras dari ujung sana.


“Berapa yang kau butuhkan Van?”


“Bayarkan saja gajiku selama setahun ke depan. Beri aku tugas yang bagus untuk menggantinya..” Ujar Ivan


“Kau yakin mau melakukan apapun yang ku perintahkan?”


“Apa tugasku Tuan?” tanya Ivan


“Bunuh seseorang. Akan ku kirimkan datanya ke emailmu. Setelah ini kau bisa mengambil uangmu.” Ujar Tommy mengakhiri percakapan teleponnya.


Ivan membuka ponselnya, tampak foto seseorang dengan biografi lengkapnya. Anton Rahardja? Sebuah foto keluarga menampilkan wajah yang dia kenali. “Shindy?”


Shindy membuka matanya, merasa terganggu saat sepasang tangan mengg*ray*ngi tubuhnya. Shindy menggerakkan tangan kirinya yang bebas. Menampar keras ke arah pria gondrong yang kini tampak menikmati t*buhnya.


“Kurang ajar Kau!” Pria gondrong itu melepaskan ventilator dari mulut Shindy.


Seketika Shindy merasakan dadanya sesak. Mulutnya menganga seolah kehilangan oksigen.


Pria itu menyumpal mulut Shindy dengan kain jaketnya.


"Rama sudah menyerahkanmu padaku, jadi kau harus menurutiku!" ujar pria gondrong itu tanpa perasaan


Shindy masih berusaha meronta, mulutnya mulai terasa sakit. Tubuhnya perlahan terkulai. Pelan namun pasti, kesadaran yang baru saja kembali berangsur menghilang. Titt..... Bunyi EKG terdengar begitu nyaring. Tampak garis lurus muncul di layar.


BRAK....


"Shindy!!!"

__ADS_1


 


__ADS_2