
Shindy berjalan pelan menuju toko kuenya. Sudah lebih dari jam 8 pagi. Shindy tampak terengah memegangi perutnya. Bruk.. Dia terduduk di bangku panjang depan toko kue Bu Wiwit. Imelda bergegas menghampirinya, tatkala menyadari Shindy sedang tidak baik-baik saja.
"Shindy! Kamu dari mana aja, ya ampun keringetan dingin. Kamu nggak apa-apa Shin?" tanya Imelda
"Perutku kram Mel. Sakit banget. Tadi aku buru-buru kesini habis beli nasi campur. Tapi tetep aja telat." bohong Shindy
"Ya ampun Shin, ayo masuk sini. Kita istirahat di dalam." Imelda memapah tubuh lemas Shindy
"Gini ya cara kerjanya anak baru, baru masuk sehari udah telat!" seloroh Marissa dengan sinisnya
"Ck.. Sa namanya juga orang hamil. Tiba-tiba ngidam, trus mual. Perut juga sering kram. Wajarlah." bela Imelda tak terima
"Makanya kalau hamil nggak usah kerja. Buat apa tuh punya suami dianggurin di rumah. Eh, iya kalau punya suami, kalau anak haram?" mulut jahat Marissa kembali bersuara
"Aku punya suami Sa! Tapi kamu nggak tahu apa yang aku jalani sebagai seorang istri. Aku bisa terima kamu ngejek aku gimana pun. Tapi aku nggak terima kalau kamu sebut anakku anak haram!" teriak Shindy
Lolos sudah air mata yang sedari tadi dia tahan. Ingin rasanya menampar mulut kotor Marissa namun Shindy sadar dia hanya karyawan baru yang masih butuh bimbingan senior seperti Imelda dan Merrisa. Apalagi notabene Merrisa sebagai orang kepercayaan Bu Wiwit membuat Shindy harus mengurungkan niatnya.
"Ya kalau punya suami tuntut dong suaminya buat kerja! Jangan malah istrinya yang hamil yang suruh cari nafkah! Kan jadi nyusahin teman seprofesinya." cibir Merissa
Shindy terdiam. Berusaha tidak terpancing dengan omongan Merrisa. Suram sudah harinya. Sudah jadi bahan kejaran orang, bertemu dengan suami kejamnya yang semakin aneh, kini harus meladeni kecerewetan Merrisa.
"Udahlah Sa. Nggak usah berisik. Kalau nggak mau bantu Shindy cukup diem disitu nggak usah komen macem-macem." teriak Imelda
"Ayo Shin, kita duduk sebentar di ruang karyawan." ajak Imelda.
Shindy hanya menurut karena memang perutnya sedang tidak bersahabat. Shindy duduk di sebuah sofa kecil yang memang disediakan untuk tempat istirahat karyawan. Imelda menyuguhkan segelas air hangat untuk Shindy minum. Perlahan, Shindy meneguknya.
"Kamu mau makan dulu Shin? Apa mau aku ambilin minyak kayu putih?" tawar Imelda yang tidak tega menatap wajah pucat temannya
"Makan aja Mel. Aku cuci tangan dulu." Shindy berniat berdiri. Namun dia terhuyung ke belakang hingga jatuh kembali di sofa.
"Tuh kan! Udah disini aja dulu. Aku ambilkan air buat kobokan ya." Imelda berlalu dengan sebuah baskom kosong di tangannya.
Shindy mengurut pelan keningnya yang berdenyut. Kepalanya benar-benar pusing, entah karena kelelahan atau karena berbenturan dengan hidung Rony tadi. Yang jelas, hari sialnya bertambah satu lagi.
"Ini Shin aku ambilin sendok sama air cucian tangan. Terserah kamu mau pake yang mana." ujar Imelda meletakkan kedua benda itu di nakas
"Terima kasih ya Mel. Maaf loh ngrepotin terus." ujar Shindy merasa tak enak
"Udah santai aja! Yang penting dedek bayinya sehat." Tanpa permisi, Imelda mengelus pelan perut Shindy
__ADS_1
Shindy tersenyum, ada juga orang yang menantikan bayinya selain dirinya.
"Aku tinggal dulu ya Shin. Sebelum nenek sihir itu ngomel." ujar Imelda menirukan gaya bicara Merrisa
"Iya." Shindy tertawa melihat temannya itu.
Kini dia tengah terfokus dengan nasi campur yang sedari tadi membuat mulutnya berliur. Shindy menyendok penuh nasi beserta lauknya ke dalam mulut. Rasa puas seolah terbayarkan dengan perjuangannya saat membeli tadi. Shindy menyendok untuk kedua kalinya. Kembali rasa nikmat memenuhi indera pengecapnya. Sendokan ketiga, tiba-tiba rasa mual itu kembali Shindy berhenti mengunyah sejenak.
"Hoek." Shindy berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.
"Huft sia-sia aku membelinya jauh-jauh tadi." Shindy berjalan keluar kamar mandi.
"Mau pie hangat Shin? Ini ada beberapa yang hancur." tawar chef yang baru mengangkat seloyang pie dari oven
Binar bahagia tampak di wajah Shindy. Shindy berjalan mendekat dan mencoba beberapa kepingan yang hancur.
"Buat aku semua ya Chef." pinta Shindy
"Ambil saja. Pakai ini." ujar Chef itu sambil menyerahkan tatakan kue kecil ke arahnya.
Shindy mengantongi semua kue pie yang hancur. Segera setelah dia memakan semuanya, Shindy memulai aktivitasnya. Shindy membantu Imelda di meja kasir, sementara Merrisa sibuk melayani pembeli yang datang dan pergi.
Sejenak Shindy melupakan kejadian pagi tadi dan digantikan kesibukan yang menyenangkan untuknya.
Shindy menerimanya dengan senyum. Seolah kekesalannya menguap entah kemana. Shindy tengah mengemasi kue pesanan Merrisa di dapur, tatkala teriakan Merrisa mengejutkannya.
"Hei anak baru ada yang nyariin tuh! Cepetan jangan lama-lama!"
DEG.. Shindy menghentikan kegiatannya. Seketika tubuhnya gemetar, rasa takut kembali menghantui pikirannya.
"Ada yang nyariin? Siapa? Jangan-jangan.."
"Hei anak baru cepetan! Ditungguin juga!" pekik Merrisa untuk kedua kalinya
Shindy berjalan pelan membawa senampan penuh Mille Crepe keluar dari dapur. Sesosok pria tengah membelakanginya.
"I...ini kuenya Sa." ujar Shindy terbata
"Lama banget sih! Gini aja kok." ujar Merrisa menarik nampan kue itu dengan kesal.
Disaat yang bersamaan, lelaki yang mencarinya tadi menoleh.
__ADS_1
"Andrian?" Perasaan lega bercampur senang menjawab segala tanda tanya dalam otak Shindy
"Ini aku bawain banana milk kesukaan kamu." ujar Andrian mengangkat sekantong penuh camilan
"Kok repot-repot sih. Harusnya nggak usah!" Shindy menatap ke arah luar mencari sosok gadis mungil yang kemarin datang bersama Andrian
"Istriku di rumah. Tadi habis makan siang, makanya aku mampir. Sekalian belikan ini buat kamu." ujar Andrian sebelum Shindy sempat bertanya
"Untuk istrimu?" tanya Shindy. Entah kenapa dia merasa tak enak sendiri mendapat perhatian dari suami orang. Sedang suaminya sendiri, masih bersikap aneh dan tidak peduli padanya.
"Istriku ngidam gyoza ngajak makan di restoran Jepang tadi." terang Andrian
Shindy tersenyum. Ada sedikit perih di hatinya, mengingat mirisnya pernikahan yang dia jalani, bertolak belakang dengan pernikahan Andrian.
"Mau ngobrol sebentar di depan? Aku masih ada 15 menit sebelum jam balik kantor." tawar Andrian
"Boleh. Mel, aku duduk di depan sebentar ya!" ujar Shindy
"Oke Shin."
Shindy beriringan dengan Andrian duduk di bangku panjang yang memang disediakan untuk pembeli yang dine in.
"Kamu nggak makan Shin?" tanya Andrian menatap ke arah Shindy yang masih memeluk erat kantong camilan darinya tadi.
"Owh, udah kenyang kok. Tadinya sih pengen nasi campur, udah jauh-jauh beli eh baru dua sendok muntah lagi. Ya nggak jadi deh hehe." ujar Shindy memaksakan senyumnya
Berada di samping Andrian membuat otaknya kosong seketika. Entah apa sebabnya dia sendiri belum mengerti.
"Masih sering morning sickness?" tanya Andrian
"Udah mulai jarang sih. Istrimu masih sering mual dan muntah-muntah juga?" tanya Shindy.
"Masih parah. Susah banget makannya, kadang aku juga suka khawatir." terang Andrian memikirkan keadaan Retha yang tidak stabil akhir-akhir ini.
"Wajar sih, hamil muda. Mungkin nggak jauh beda sama kehamilanku."
"Kamu masih ingat aja Aan, aku suka minum ini?" Shindy menusuk banana milk dengan sedotan yang di genggamnya
"Kan memang tiap keluar selalu itu yang kamu beli. Kadang malah sampe borong berkantong-kantong kan?" kenang Andrian saat mereka masih bersama dulu
Shindy pun tertawa. "Kadang suka ngrengek minta dibeliin saat kamu lagi kerja!"
__ADS_1
Andrian pun ikut tertawa. Mereka tampak seakrab dulu. Meski dengan batasan masing-masing yang jelas mereka sadari. Dari kejauhan tampak seseorang mengepalkan tangannya. Menatap garang ke arah mereka berdua.
"Bisa-bisanya kalian berduaan seperti ini!"