
Retha menatap suaminya yang tengah menggendong seorang bayi perempuan. Retha menghampirinya dengan air mata beruraian.
"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu mas." Retha memeluk Andrian dari samping
"Tenang, yang penting kan aku sudah pulang dengan selamat." ucap Andrian dengan seulas senyum.
"Ini.." Retha menatap ke arah bayi yang tertidur pulas itu
"Putri Shindy. Aku sengaja membawanya kemari untuk kita rawat. Lagipula Ivan dan Shindy terkena tembakan tadi." jelas Andrian
"Ya ampun, tapi mas nggak apa-apa kan?" Retha melihat ke arah punggung dan lengan Andrian. Memastikan tidak ada luka yang menempel di tubuh suaminya.
"Nggak sayang."
"Sini Mas biar aku gendong." ucap Retha mengambil alih putri Shindy dalam gendongannya.
Bayi itu terlelap dengan pipi gembulnya yang lucu. Tubuhnya masih sangat kecil, mengingat kelahirannya yang prematur. Retha tersenyum, menatap bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang. Sesekali diciuminya wajah bayi itu hingga menggeliat pelan.
"Syukurlah." gumam Retha
"Iya, aku bersyukur masalah ini akhirnya selesai. Dan bayi ini bisa diselamatkan." lanjut Andrian
"Bukan." Retha menggeleng cepat
"Aku bersyukur, bayi ini mirip seperti Rama, suami Shindy. Sama sekali tidak mirip kamu Mas. Yang berarti, dia bukan darah daging kamu." balas Retha dengan senyum lebarnya.
"Astaga! Jadi sedari tadi itu yang kamu pikirkan?" tanya Andrian tak percaya
Retha mengangguk malu-malu.
"Cuma kamu satu-satunya wanita yang pernah aku sentuh sayang." bisik Andrian dengan nada menggoda
Wajah Retha berubah seketika. Pipinya memerah tatkala cubitan kecil dia layangkan ke perut Andrian.
"Aww.. Sakit sayang."
__ADS_1
"Salah sendiri. Mes*m!" tukas Retha berjalan masuk ke dalam rumah.
Sementara di rumah sakit. Shindy baru saja keluar dari ruang operasi. Beberapa selang masih terpasang. Pun halnya dengan oksigen di hidungnya. Tubuh Shindy terlihat sangat pucat. Dengan pengawalan petugas, gadis itu dipindahkan ke ruang rawat selama beberapa hari sampai kondisinya stabil.
Kondisi yang sama Ivan alami, nyaris kehabisan darah karena peluru yang Tommy layangkan tepat melukai limpanya. Kritis. Itulah gambaran tingkat keparahan kondisi Ivan. Ivan masih dirawat secara intensif dengan tenaga medis khusus di rumah sakit yang sama.
Sementara berbanding terbalik dengan keadaan Surya. Meski terlihat parah saat pertama kali ditemukan petugas. Surya justru terlihat lebih sehat sekarang. Sedang makan bubur dengan lahapnya ditemani dua orang perawat yang menjaganya di dalam. Kehadiran Surya juga sangat penting sebagai saksi.
Sementara Michael kini sudah berada di pembaringan terakhir. Juga beberapa anggota Tommy yang lain. Harus dikebumikan atas insiden semalam. Tak terkecuali Bowo. Sayangnya, Ivan bahkan belum bisa bangun untuk menyaksikan pemakaman mereka.
Di lain tempat, Tommy dan dua penjaganya yang masih hidup tengah melewati beberapa interogasi terkait saksi dan bukti yang petugas temukan. Tommy masih dengan kebisuannya, enggan mengakui bahkan mengelak tegas perbuatannya meski semua bukti sudah mengarah padanya. Namun, tidak dengan dua penjaga yang terang-terangan membongkar semua kebusukan Tommy. Itulah yang dijadikan dasar penjatuhan hukuman saat persidangan nanti.
Jane, istri sang bandar itu masih hidup. Hanya saja, tidak lagi bisa bicara. Terkait dengan tembakan yang melukai tenggorokannya. Jane tampak murung di ruangannya. Dengan wajah pucat dan tubuh yang kurus. Nyaris terlihat seperti mayat. Jane hanya bisa makan dari selang yang dimasukkan di atas hidungnya. Acap kali dia tersedak dan menimbulkan sakit yang luar biasa di dadanya. Pintu kamarnya terbuka, tampak dua orang perawat masuk untuk mengecek kondisi tubuhnya.
Seorang perawat laki-laki bermasker mendekat ke arahnya. Menyuntikkan beberapa vitamin di infus Jane. Jane hanya terdiam, tak merespon apapun meski perawat wanita sudah berusaha mengajaknya bicara.
"Aku akan membawamu Nona Jane. Kita akan segera kembali untuk membalaskan dendam." bisik perawat laki-laki itu tepat di telinga Jane
Kedua mata Jane terbelalak. Menatap tajam ke arah perawat yang tampak tersenyum di balik maskernya.
"Kita belum kalah Nona." ucap perawar itu sekali lagi sebelum pergi
Sementara Shindy yang masih terbaring lemas. Hanya bisa merasakan kering di tenggorokannya. Meski sudah sadar beberapa jam yang lalu, dokter belum mengizinkannya untuk minum, sampai rasa mualnya mereda. Efek operasi dan sisa obat bius masih mempengaruhi tubuhnya secara total.
Namun seorang petugas tiba-tiba masuk untuk memberikan kabar.
"Saudari Shindy. Ada yang ingin menjenguk anda." tukas petugas itu
Sepasang suami istri datang mengunjunginya. Dengan bayi kecil berbaju pink dan bandana di rambut tipisnya. Retha membawa bayi itu mendekat.
"Maaf baru bisa kemari Mbak." ujar Retha meletakkan bayi Shindy di sisi ranjang.
"Sejak hari itu, aku berinisiatif membawa putrimu ke rumah. Dan syukurlah dia tidak rewel. Rethalah yang menyusuinya kalau lapar. Sekalian biar dia belajar menjadi ibu. Sebentar lagi kami juga akan punya bayi." terang Andrian
Shindy tersenyum, meski masih ada ketidak relaan di hatinya tentang kandasnya hubungan mereka. Namun, kebaikan Retha dan Andrian menutup segala luka itu dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Maafkan aku. Dan terima kasih banyak." ujar Shindy
"Mbak tidak salah kok. Keadaanlah yang memaksa Mbak untuk bersikap seperti itu. Mungkin jika aku ada di posisi Mbak, aku juga akan egois." tukas Retha
Air mata Shindy terjatuh. Tidak salah Andrian menikahi gadis mungil yang polos ini. Begitu banyak kebaikan yang tersimpan di dalam hatinya.
"Mbak pulihkan kondisi Mbak dulu. Kalau sudah membaik, baru jemput putrimu." ujar Retha tulus
"O iya ini aku bawakan, pie susu hangat. Langsung dari tempat kerjamu dulu." tukas Andrian mengangkat paperbag kecil di tangannya
"Kesukaanku!" gumam Shindy
Retha membantu Shindy duduk dan memberikan bantal sebagai sandarannya.
"Makanlah nanti Mbak. Dokter bilang Mbak masih harus puasa." ujar Retha
Shindy mengangguk mengerti.
"Tha.. Mulai sekarang, paggil saja Shindy ya!" tukas Shindy
"Tapi.."
"Usia kita nggak beda jauh kok, biar lebih akrab panggil nama aja!" ujar Shindy
"Aku lihat kondisi Ivan dulu ya!" Pamit Andrian
Dua wanita itu saling bercengkerama. Bercerita panjang lebar seolah tidak pernah terjadi masalah diantara mereka. Pun halnya Retha dan segala kecemburuannya, menguap entah kemana. Yang jelas bersama Shindy, Retha seperti punya teman barum
Andrian melangkah cepat ke ruangan Ivan. Sampai di persimpangan, tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang.
BRUK.. Beberapa perlengkapan perawat itu terjatuh. Andrian membantu membereskannya, dan saat menatap kedua mata itu tiba-tiba dia tertegun. Mata tajam itu, seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?
"Terima kasih dan maaf saya buru-buru." ucap perawat itu berlari menjauh
"Suara itu." Andrian mengejar perawat itu.
__ADS_1
Perawat itu berjalan semakin cepat. Andrian bergegas menyusulnya, namun grep. Saat tangan itu berhasil menyentuh punggungnya.
"Kamu masih hidup?"