DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Tuduhan Palsu


__ADS_3

"Aku menabraknya!" pekik Shindy bergegas membuka pintu mobilnya.


Mesin mobil itu dibiarkan menyala. Shindy menoleh kanan dan kiri. Rama tidak ada di sekitarnya.


"Jangan-jangan dia benar-benar terlindas!" Shindy menutup mulutnya sendiri.


Perlahan dia membungkuk, melihat ke arah kolong mobil dengan mata terpejam.


"Ram.. Rama. Apa kau mati?" Shindy membuka matanya perlahan


"Rama! Dia tidak ada, kemana dia." Shindy mengitari mobil merah itu. Tidak ada tanda-tanda Rama disana.


"Rama menghilang?" panik Shindy


TIIIIIN.. Suara klakson mengejutkannya. Shindy terjatuh di tanah, sorot lampu mobil menerpa ke arahnya.


"Bagaimana jika aku yang menabrakmu Shin? Apa kau bisa selamat?" tanya Rama yang ternyata sudah berada di dalam mobil


"Jangan.. Jangan Rama!" Shindy mencoba bangkit dan berlari menerobos pepohonan.


Mobil merah itu terus mengikuti langkahnya. Shindy bersembunyi dan mencoba menghindari Rama. Lelah kakinya berjalan, Shindy terduduk kembali di depan sebuah pohon durian. Shindy bersandar di belakang pohon. Napasnya terengah-engah. Perutnya yang lapar terasa mencengkeram.


"Aaaargh.. Sakit!"keluhnya


"Nak, tenanglah dahulu. Jangan seperti ini. Aaaah.." Shindy memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.


"Sudah larut. Tour malam kita telah selesai nona Shindy. Mari ku antar kembali ke kamarmu." suara Rama terdengar dari balik pepohonan


"Tidak.. Pergi!" teriak Shindy sambil merangkak menjauhi pohon.


Grep.. Tangan kekar Rama memeluknya dari belakang. Dengan sedikit memaksa tubuh Shindy diseret menuju rumah. Rama mengangkat tubuh Shindy dan membiarkan kakinya menjuntai di depan dada. Seperti memikul sebuah karung beras, Rama berjalan santai sambil bersenandung ringan.


"Lepas. Turunkan aku Rama!" Shindy tak berhenti memukul punggung Rama


"Kau lihat, aku tidak memegangimu Shin. Kau bisa turun sendiri jika kau mau!" ujar Rama tertawa bahagia


"Turunkan aku Ram! Aku tidak mau kembali!" teriak Shindy tepat di telinga Rama


BUG... Tubuh kurus itu terlempar di atas ranjang.


"Aaaah.. " Shindy memegangi pinggangnya yang mendarat lebih dulu.


"Sudah ku bilang, jika kau ingin selamat. Patuhi saja perintahku!" ujar Rama memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai.


Shindy pun bangkit dan berniat menerobos pintu kamar yang belum sepenuhnya tertutup. Dengan sekali hentakan, tubuh Shindy terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Selamat malam Nona Shindy. Nikmati tidurmu yang melelahkan!" teriak Rama dari luar kamar


"Buka! Rama buka!" teriak Shindy sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.


"Sial! Hah! Sudah lelah aku berlari, tetap saja berakhir di kamar ini. Aaaah!" Shindy berteriak frustasi.


Sementara Rama yang masih berdiri di ambang pintu tersenyum puas. "Sepertinya aku punya ide bagus untuk memberimu kejutan."


Keesokan paginya, Shindy terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Seluruh sendinya nyeri dengan beberapa lebam biru di kaki dan pinggangnya. Shindy menatap angka 9 pada jam dinding.


"Sudah sesiang ini. Aaahh.. Perutku. Dua hari sudah aku puasa tanpa makan dan minum apapun. Jika terus seperti ini aku bisa mati kelaparan." gerutu Shindy mencoba turun dari ranjang.


Shindy menuju ke arah jendela. Mobil merah itu tidak ada disana.


"Aneh, jika kedua jalur jalan itu mengarah kembali ke rumah ini. Lalu bagaimana Rama bisa keluar dari perkebunan? Aku tidak menemukan jalan lain semalam." Heran Shindy


"Aku harus mengamati, kemana arah mobil Rama datang." tukas Shindy pada dirinya sendiri.


Shindy menoleh ke arah pintu kamar. Ceklek ceklek..


"Ck.. Dikunci! Hah!" Keluh Shindy frustasi

__ADS_1


Tanpa sengaja, kedua mata Shindy menangkap kantong putih di atas meja. Shindy mendekat dan membukanya. Beberapa camilan dan roti pandan kesukaannya ada di dalam kantong itu. Sekotak susu instan rasa coklat juga ada di sana.


"Makanan ini."


Selembar kertas terjatuh.


"Nikmati sarapanmu untuk tetap hidup!"


"Sial! Rama membelikan ini? Untuk apa dia baik padaku, memintaku makan dan istirahat sedangkan akar dari penderitaanku adalah dirinya! Ck. "


Shindy memeriksa seluruh makanan dalam kantong itu, mengecek tanggal kadaluarsanya dan memastikan bungkus makanan itu masih benar-benar utuh.


"Oke kali ini aku menyerah." Shindy merobek sebungkus roti dan memakannya.


Rasa lapar sudah tidak bisa lagi dia tahan. Shindy mengabiskan seluruh makanan itu dan juga meminum susunya. Setelah merasa kenyang Shindy masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Detik berganti menit dan menit pun bertukar dengan jam. Teriknya matahari siang tergantikan oleh datangnya senja. Shindy masih setia duduk di depan jendela besar kamarnya. Menantikan sosok yang paling dia benci. Sudah hampir enam jam, Shindy menunggu kepulangan Rama. Namun makhluk itu tidak juga muncul di hadapannya.


Suara mobil datang dari arah belakang rumahnya, mobil merah Rama terhenti di halaman.


"Owh, jadi satu-satunya jalan keluar dari belakang sana!" pekik Shindy dengan wajah sumringah


"Jika kesempatan itu datang lagi, aku akan kabur lewat sana!" gumam Shindy


CEKLEK.. Pintu kamarnya terbuka.


"Ehem.. Kau menungguku? Sekarang apa yang kau inginkan?" tukas Rama yang masuk dengan tas hitam yang diletakkan di atas kasur.


"Aku.. Ingin melihat senja." bohong Shindy


"Tidak ada senja di tempat ini. Hanya rimbunan pohon yang menghalangi masuknya cahaya matahari. Jangan bodoh Shin, selama apapun kau duduk disana kau tidak akan melihat senja!" ujar Rama


"Owh kau menghabiskan semua makanan yang ku bawa?" tanya Rama mengangkat kantong kresek yang telah kosong


Shindy mengangguk. "Aku.. Aku akan mematuhimu." bohong Shindy lagi


"Aku.. Aku.." Shindy tergagap, niatnya terbaca oleh Rama bahkan sebelum dia rencanakan.


"Mau jalan-jalan?" tawar Rama dengan senyum miring di bibirnya


Seketika Shindy mengangguk.


"Pakai itu. Jangan pakai gaun putih itu lagi! Aku tidak ingin melihat kuntilanak kelaparan berkeliaran di rumahku." tukas Rama membanting pintu tepat di depan Shindy.


"Kuntilanak kelaparan?" Shindy terheran.


"Baju ini?Aaaah sial!" keluh Shindy begitu menyadari yang dimaksud Rama adalah dirinya.


Shindy membuka kantong hitam itu. Sebuah setelan dengan celana pendek berwarna matcha tampak kontras dengan kulitnya yang putih.


"Iblis itu bahkan memberiku pakaian? Sekarang apa rencananya, dia mengajakku jalan-jalan? Apa dia akan membawaku ke suatu tempat untuk membunuhku? Atau.. Tidak! Dia menjualku?" Shindy bermonolog sendiri


"Cepat Shin! Ku beri 15 menit untuk bersiap sebelum aku berubah pikiran!" Bentak Rama dari depan pintu kamar.


"Ii.. Iya." Shindy bergegas masuk ke dalam kamar mandi


Rama sudah rapi dengan kemeja biru yang dilipat sampai siku, rambut hitamnya ditata rapi layaknya orang yang akan berkencan.


"Kita mau kemana?" tanya Shindy yang baru masuk ke dalam mobil


"Kota! Kau sedang hamil, pasti pernah ingin makan sesuatu kan?" tanya Rama menyalakan mesin mobilnya


"Jagung! Aku ingin jagung bakar dengan olesan mentega di atasnya." gumam Shindy membayangkan betapa lezatnya makanan itu.


Rama tersenyum tipis.


"Perhatikan baik-baik. Ini jalan yang harus kau lewati untuk keluar dari perkebunan ini!" tukas Rama.

__ADS_1


Mobil merah itu berputar menuju ke halaman belakang. Sebuah jembatan yang tersusun dari kayu jati dan penyangga beton menghubungkan rumah itu dengan ladang tebu yang luas. Rama melewati jalan yang hanya cukup satu mobil itu. Mulut Shindy menganga, 15 menit berjalan. Hanya tebu di kiri kanannya saja yang terlihat.


"Aku sengaja tidak memasang lampu disini. Jadi, pastikan penglihatanmu baik jika ingin melewatinya." lanjut Rama


"Memang tempat ini sudah direncanakan!" batin Shindy


Mobil itu melewati jalan menanjak tinggi dan menikung tajam ke kanan. Sebuah perkampungan tampak setelah tikungan itu. Keluar dari gang penduduk, sampailah pada jalan raya yang mengarah ke kota. Pukul 7 malam, Rama menghentikan mobilnya di tepi trotoar tempat jagung bakar lesehan membuka lapak.


"Turun!"


Shindy keluar dari mobil, sudah beberapa hari, dia tidak melihat keindahan Pulau Dewata.


"Pesan semaumu! Aku akan segera kembali." tukas Rama menyeberangi jalan raya


"Pak, jagung bakar 1 porsi, banyakin menteganya ya!" ujar Shindy


Shindy mengamati Rama yang semakin menjauh.


"Dia meninggalkanku?" batin Shindy. Shindy tersenyum senang.


Setelah pesanannya jadi, dia membayar jagung itu dan kembali masuk ke dalam mobil merah. Shindy menyalakan mesinnya. Baru berjalan beberapa meter, seorang pengendara motor lewat begitu saja di hadapannya dan BRUK...


"Aku.. Menabrak orang."


"Keluar! Keluar kau sekarang!" teriak pengendara itu dengan emosi


"Woy! Jangan jadi pengecut! Keluar pecundang!" Makian kasar itu terdengar bersamaan dengan pukulan beruntun pada kap mobilnya.


Dengan gemetar, Shindy membuka pintu mobilnya. Shindy mendongak menatap seorang pria yang meneriakinya tadi.


"Ivan?"


"Shindy?" Ivan terkejut mendapati pengendara mobil itu adalah Shindy


"Jadi kau.. Tunggu! Apa kau sering menggunakan mobil ini!" Pertanyaan Ivan berubah serius.


"Ti.. Tidak. Aku baru memakainya dua kali." jawa Shindy jujur


"Dua kali? Apa kau pernah menggunakan mobil ini untuk menabrak orang?" tanya Ivan dengan tatapan marah


"Aku.. Aku pernah menabrak orang." balas shindy ketakutan. Benar, yang Shindy maksudkan adalah menabrak Rama semalam.


"Sial! Jadi kau pelakunya! Kau membawa mobil ini untuk menabrak ibuku!" teriak Ivan meluapkan emosinya


"Bu Nyoman.." ujar Shindy mengingat rentetan kejadian yang Rama ceritakan waktu itu


"Benar, ibu yang sudah baik padamu harus kau celakai dengan mobil merah ini! Teganya kau!" Maki Ivan


"Tangkap saja dia Van. Bawa ke kantor polisi!" Salah seorang warga memprovokasi


"Tidak.. Aku tidak menabrak ibumu. Demi Tuhan, aku baru keluar hari ini." bantah Shindy dengan air mata yang mengalir.


"Bohong! Dia bahkan pergi tanpa pamit padaku. Dia, dia pasti pelakunya!" imbuh paman Ivan


Mata Ivan menangkap seorang laki-laki yang mengintip di balik dinding. Tampak seringaian puas di bibirnya. Lelaki itu menggunakan topi hitam yang sama dengan milik Ivan.


"Tunggu! Berhenti kau!" teriak Ivan menunjuk ke arah gang sempit di depannya.


"Bawa Shindy ke rumah Uwa. Amankan dia!" seloroh Ivan


"Tapi dia sudah membunuh biyangmu." sergah pamannya


"Turuti saja mauku Uwa!"


Ivan berlari mengejar sosok pria yang dilihatnya. Ivan masuk ke gang kecil itu.


"B*j*ng*n Keluar kau! Jangan hanya bersembunyi dan melemparkan kesalahanmu pada orang lain! Keluar kau pengecut!" teriakan Ivan menggema di seluruh lorong

__ADS_1


JLEG.. "Jika aku sudah keluar, apa yang akan kau lakukan?"


__ADS_2