DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Kehilangan


__ADS_3

"Aku mencari seseorang. Ku kira dia masih disini." balas Ivan bergerak mendekat ke arah Tommy


"Owh rupanya dia yang mengawalmu." ujar Ivan meletakkan kopernya di lantai


"Kita sempat berpapasan tadi." tukas Rony melepas topi hitamnya


"Apa rencanamu dengan barang-barangmu itu?" tanya Tommy berjalan menghampiri Ivan


"Ibuku sudah menemukanku. Aku berjanji akan pulang malam ini, jadi aku mengemasi barangku." balas Ivan datar


"Bagaimana dengan.."


BUG.. Sebuah pukulan mengenai pinggang kiri Ivan. Ivan mengerang dan terduduk di lantai, darah segar kembali mengalir dari lukanya yang belum kering.


"Ku kira kau sudah sembuh. Ternyata ragamu sama rapuhnya dengan hati yang kau miliki! Kau .. Lagi-lagi kau jatuh cinta pada milik orang lain." ujar Tommy


"Dia.. Gadis itu tidak bersalah. Rama sudah keterlaluan padanya." balas Ivan dengan masih memegangi pinggangnya


"Dan kau merasa iba? Kau kasihan melihat, gadis lemah itu dipermainkan olehnya? Lalu, kenapa kau tidak melawan? Kenapa kau biarkan Rama melukaimu? Harusnya kau bunuh saja dia!" ujar Tommy tersenyum sinis


"Belum saatnya. Aku akan memberikan kematian yang menyakitkan sama seperti yang dia lakukan pada kakak dan juga ayahku!" ujar Ivan, dendamnya kembali bangkit.


"Kau boleh menghabisinya, setelah kau pastikan korbanku tewas! Akan ku berikan gadis yang kau cintai itu sebagai bonusmu!" ucapan provokatif Tommy membakar kembali amarah Ivan.


Ivan berdiri, dengan tatapan yang tajam dikepalkan kedua tangannya.


"Aku setuju. Segera, akan ku habisi targetmu." Ivan mengangkat kopernya dan melangkah pergi


"Dia cepat sekali marah." gurau Rony


"Dia ujung tombakku. Haram baginya memiliki belas kasihan pada siapapun. Kita hancurkan mereka semua, setelah urusan ini selesai." ujar Tommy


Ivan menyeringai. Percakapan Tommy di belakangnya terdengar jelas di telinganya. Ivan melanjutkan langkahnya dengan santai. Dia menelepon kembali taksi yang mengantarnya kemari. Setelah menyebutkan alamat tujuannya, Ivan masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Ivan terfokus dengan foto yang tempo hari Tommy kirimkan, Anton Raharja, apa hubungannya dengan Shindy. Kenapa Tommy harus membunuhnya? Aku harus menyelidikinya dulu. Bagaimana jika dia juga korban tidak bersalah?


CKIT... Taksi itu berhenti mendadak. Beberapa orang turun dari mobil.


"Ada apa di depan sana?" tanya Ivan


"Kecelakaan Mas. Tabrak lari." tukas sopir taksi


Mobil merah dengan hiasan batik menerobos keluar dari kerumunan. Suara klakson yang memekakkan telinga membuyarkan warga yang ada di tengah jalan.

__ADS_1


"Mobil itu..." ujar Ivan


Mobil yang sama dengan mobil yang mengikutinya dari rumah sakit. Ivan bergegas keluar dari mobil. Tubuh seorang wanita tergeletak bersimbah darah. Ivan mencoba mendekati korban laka yang baru saja ditinggal kabur.


"Biyang.. Biyang!" pekiknya begitu menyadari sosok yang ditabrak adalah ibunya.


Ivan berjongkok memangku kepala ibunya yang kritis.


"Biyang, bangun. Bertahanlah biyang. Kita ke rumah sakit." ujar Ivan panik


Bu Nyoman hanya menggeleg.


"Biyang senang bisa bertemu kamu lagi Made. Jadilah anak yang baik, jangan pernah berbuat buruk pada siapapun." pesan Bu Nyoman


"Biyang tetaplah sadar. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ivan mengangkat tubuh ibunya dan membawanya ke dalam taksi yang tadi dia tumpangi


"Ke rumah sakit Santa Pak!" tukas Ivan


"Tapi Mas, ini laka, urusannya akan panjang jika dibawa ke rumah sakit." ujar sopir itu menolak


"Cepat!" teriak Ivan


Sopir itu menuruti permintaan Ivan. Ivan terus mengajak bicara Bu Nyoman agar tetap sadar. Tiba-tiba suara dengkuran keras terdengar. Tubuh Bu Nyoman mengejang.


"Biyang.. Biyang kenapa? Bangun biyang!" panggil Ivan


"Biyang.. Biyaaang!"


Napas Bu Nyoman telah terhenti, begitu pula dengan detakan jantungnya.


"Biyaaaang." erangan kehilangan mulai bermunculan dari bibir Ivan. Ivan menangis sejadinya, satu-satunya keluarga yang dia miliki kini telah diambil Tuhan.


Ivan meratap. Menatap tubuh tak bernyawa itu dengan penuh penyesalan. Andai dia kembali sebelum ini, menjadi anak yang baik untuk ibunya. Mungkin tidak sebesar ini rasa bersalah yang dia rasakan.


"Antarkan aku pulang Pak." ujar Ivan lemah.


Mobil merah itu melaju dengan cepat kembali ke tempat persembunyiannya. Kap mobil itu berlumuran darah. Rama, sang pengendara bergegas keluar dari dalam mobilnya. Diambilnya selang besar dan memutar kran air. Diguyurnya mobil itu dengan senyum puas.


"Akhirnya kau mati juga. Ivan.. Kini hanya tinggal kau dan aku saja yang harus menyelesaikan pertarungan ini sampai akhir." gumam Rama dengan tawa bahagia dari mulutnya


Shindy terbangun, mendengar tawa khas suaminya. Shindy membuka gorden kamar, tampak Rama bersenandung ringan sambil mencuci mobilnya.


"Kok aneh, kenapa airnya berwarna merah?" Shindy memfokuskan penglihatannya. Benar air itu berwarna merah. Shindy menutup kembali gordennya

__ADS_1


"Apalagi yang dilakukan pria gila itu! Apa dia menabrak sesuatu? Atau membunuh seseorang!" Shindy menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Ceklek.. Suara kunci pintu diputar dari luar.


"Kau merindukanku?" tanya Rama dengan senyum manis yang menjijikkan


"Mau apa kau?" tanya Shindy mencoba bangkit


"Aku tau kau lapar. Aku membawa ini untukmu!" Rama meletakkan sebungkus nasi dengan seplastik es teh.


"Aku.. Tidak lapar." ucap Shindy mengalihkan pandangannya


"Bagaimana mungkin?" Rama berdiri sambil memainkan pisau lipatnya


"Semalam kau menolak makananku, sekarang kau juga ingin menolakku? Kau.. Sudah bosan hidup ya?" tanya Rama menempelkan pisau di pipi Shindy


Shindy menelan ludahnya. Dia benar-benar ketakutan.


"Aku ingin bercerita sesuatu yang menarik. Kisah tragis dibalik nasi bungkus itu. Kau mau mendengarnya?" tanya Rama melemparkan pisaunya ke lantai


Tubuh Rama menempel pada Shindy, menguncinya di tembok agar Shindy tidak bisa lari.


"Setelah aku membelinya, aku tidak sengaja menabrak seorang ibu. Owh tidak! Aku sengaja melakukannya. Karena apa? Ibu itu sudah melahirkan musuh yang paling ku benci." ujar Rama


"Kau.. Membunuh seorang Ibu?" suara Shindy tercekat


"Benar. Ibu dari seseorang yang kau kenal dengan baik. Hmmm mungkin bisa dibilang, dia adalah kekasih gelapmu!" ujar Rama dengan senyumnya yang aneh


"Tapi.. Aku akan merahasiakannya darimu. Ck.. Sayang sekali moodku untuk bercerita mendadak hilang. Ku harap kau tidak penasaran dan tidak berusaha mencari tahu soal ini." Rama berjalan menjauh dari Shindy


"Siapa yang kau bunuh Ram? Kekasih gelap siapa yang kau maksud?" tanya Shindy mulai gemetar.


Rama menoleh ke arah Shindy. Tatapan tajamnya yang mematikan seolah membungkam mulut Shindy untuk bertanya lebih jauh.


"Nyoman.. Namanya Nyoman!"


Shindy menangis histeris. Baru kemarin Bu Nyoman membantunya kini dia harus menjadi mayat karena ulah suaminya. Shindy terduduk dengan kesedihan di wajahnya. Tidak habis pikir makhluk apa yang dia nikahi hingga dia, dengan tega menghabisi nyawa orang tanpa belas kasihan.


"Kau pernah mendengar namanya? Atau kau mengenalnya?" tanya Rama


"Dia.. Dia orang baik." Balas Shindy sambil terus menangis


"Owh, orang baik yang menolongmu tempo hari ya? Ck.. Maafkan aku Shin.. Maaf.. Karena memang itu yang ku inginkan!" Rama meledek dengan tawanya.

__ADS_1


Shindy menatap ke arah pisau lipat yang tadi Rama jatuhkan. Shindy menarik pisau itu dan berlari menghampiri Rama.


JLEB.....


__ADS_2