
Shindy beringsut memunguti piyamanya yang berceceran di lantai. Bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dinyalakannya shower dengan buru-buru. Air dingin pagi itu membersihkan sisa aktivitas tidak biasa yang baru saja dia lakukan. Shindy memejamkan matanya, ada sedikit perih di bagian bawahnya. Mengingat jarang sekali Rama memperlakukannya dengan hati-hati. Shindy kembali merasa kotor, meski suaminyalah yang menyentuhnya. Namun hatinya terasa hampa.
Shindy membiarkan guyuran air itu menghilangkan jejak Rama di tubuhnya. Shindy keluar berbalut handuk sepaha yang menutupi tubuh polosnya. Rama sudah tidak ada di tempat. Hanya beberapa botol dan kupasan makanan yang tertinggal di sana.
Shindy melirik sekilas ke arah jam. 10 menit menuju jam masuk kerjanya.
"Aku bisa telat ini." Shindy segera berlari masuk ke dalam kamar. Mengambil asal dress selutut dengan backless yang mengekspos punggung bagian atasnya.
Tanpa riasan pun Shindy tetap cantik natural. Shindy mengambil tas jinjingnya dan berlari keluar.
BUG.. Shindy menabrak tubuh tegap Rama yang bertelanjang dada. Entah kenapa jantungnya berdegup melihat otot perut Rama yang sixpack.
"Mau kemana kau?" tanya Rama
"Antarkan aku ke toko kue. Aku sudah terlambat Ram." Balas Shindy mencoba menepis debaran aneh di jantungnya
"Kau bekerja dengan pakaian terbuka seperti ini?" tanya Rama mengusap sensual punggung Shindy
"Eungh.." tanpa sadar lenguhan terdengar dari bibirnya
"Mu*rah*an!" olok Rama mendorong pelan tubuh Shindy
"Ganti bajumu! Atau jangan pernah bekerja lagi." ujar Rama masuk ke dalam kamarnya sendiri
Shindy memukul pelan jidatnya. Merutuki kebodohannya dengan suara aneh yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya. Shindy kembali masuk ke dalam kamar. Mengambil selembar blazer untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa kau harus bekerja?" tanya Rama saat berada di depan pintu kamar Shindy
"Aku harus mengumpulkan uang untuk biaya kelahiran anakku!" ujar Shindy mengamit tas jinjingnya
"Apa kau kira, aku semiskin itu? Bahkan untuk biaya anakmu pun, kau harus bekerja dalam keadaan seperti ini." Mata Rama mengarah ke perut buncit Shindy. Meski tidak begitu besar namun terlihat kontras dengan pinggang langsing Shindy.
"Aku sedang malas berdebat Ram. Ini sudah siang, aku tidak punya banyak waktu." jelas Shindy berjalan mendahului Rama
__ADS_1
Alhasil kebut-kebutan dan aksi balapan pun terjadi. Shindy terpaksa harus memejamkan mata, saking takutnya dibawa dalam kecepatan setinggi itu. Mobil putih Rama berhenti mendadak tepat di depan toko Bu Wiwit.
"Sudah sampai." ujar Rama singkat
Shindy membuka matanya perlahan. Mengamati sekitarnya. Benar, dia selamat sampai tujuan. Shindy mengelus pelan dadanya sambil menstabilkan napas.
"Lain kali jangan seperti ini lagi, kau bisa membuatku mati konyol Ram!" ujar Shindy seraya membuka pintu mobil
Rama tak menanggapi dan membiarkan Shindy pergi begitu saja. Rama pun berbalik untuk menuju suatu tempat.
...****************...
Ivan melangkah cepat menuju rumah bertingkat yang dulu pernah Rama singgahi. Luka bakar yang sudah kering, mulai mengelupas meninggalkan kulitnya. Sorot matanya yang tajam, dengan kedua tangan mengepal seolah sedang menunjukkan kemarahan yang mendalam.
"Kenapa kau menipuku?" tanya Ivan pada seorang pria dengan kedua tangan di saku celananya
"Bukankah kau sendiri yang menipuku?" Tommy berbalik dengan seringaian di wajahnya
"Aku tidak ingin membunuh targetmu. Setidaknya, jangan Anton Raharja. Carikan objek lain yang bisa ku habisi, asal jangan ayahnya Shindy." ujar Ivan dengan lantang
"Kalau begitu, biarkan aku berhenti dari pekerjaan ini!" ucap Ivan menghentikan langkah Tommy
"Kau ingin berhenti? Setelah menghabiskan seluruh uangku untuk pengobatan gadis itu?" tanya Tommy dengan tawa yang menggema
"Aku akan menggantinya. Aku pastikan akan mendapatkan uang itu." balas Ivan menunjukkan kesanggupannya.
"Sayangnya, tidak semudah itu!" Sebuah pistol ditodongkan tepat di kepala Ivan.
Ivan terhenyak. Sebagus apapun ilmu bela diri yang dia miliki, tetap tidak akan berguna jika timah panas itu berhasil menembus tubuhnya.
"Jika kau tidak ingin melakukannya, maka ada orang lain yang akan melakukannya untukku!" ujar Tommy tak gentar sedikit pun.
Ivan memejamkan kedua matanya.
"Tolong jangan sakiti Shindy dan keluarganya. Biarkan mereka hidup dengan tenang " pesan Ivan mencoba memberanikan diri. Meski entah apa yang akan Tommy coba lakukan
__ADS_1
"Sayangnya tidak bisa!" teriak seseorang dari arah belakang.
Ivan menoleh ke belakang. Mendapati musuh besarnya sedang berdiri dengan kedua lengan terlipat. Ivan kembali merasa geram.
"Shindy ada dalam pengawasanku Van! Aku bahkan sudah memberitahukan rahasiamu padanya. Ku rasa setelah ini, dia akan salah paham denganmu." ujar Rama merasa bahwa Ivan telah kalah telak darinya
Ivan memejamkan matanya, menunduk sebentar. Dia sangat tahu, orang-orang licik ini akan melakukan cara yang sama untuk menjauhkan Shindy darinya. Meski Ivan tahu, Shindy tidak mungkin sebodoh itu percaya pada ucapan Rama. Namun kepergiannya yang tiba-tiba dan tanpa kabar, cukup membuktikan pada Shindy kebenaran dari yang Rama katakan.
"Terkejut dengan langkah yang ku ambil?" tanya Rama lagi
"Aku tidak terkejut sama sekali. Kau, sama seperti dia. Selalu mengambil jalan belakang untuk mencapai tujuanmu!" balas Ivan menundingkan jarinya pada Rama
"Sekarang apa keputusanmu?" tanya Tommy menarik kembali pistolnya
"Aku akan mengembalikan uangmu, secepatnya!" balas Ivan berbalik meninggalkan ketiga orang jahat di belakangnya.
"Aku hanya memberimu seminggu saja untuk melakukannya Van, jika kau gagal maka kau tidak bisa berhenti." ucap Tommy
Ivan menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal kuat. Ingin rasanya menghabisi mereka semua, tapi ini bukan saat yang tepat.
"Aku pastikan uangmu sampai sebelum itu!!" Ivan menabrak kasar ke bahu Rama. Hingga Rama sempat bergeser beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Jangan pernah menyakiti Shindy. Atau aku, akan menghabisimu!" ancam Ivan mencengkeram pundak Rama
"Bukan urusanmu!" Rama menepis tangan Ivan
Kedua mata tajam itu saling menatap. Dendam lama yang belum padam kini harus mengobarkan api kebencian yang baru.
"Kali ini ku akui, aku kalah darimu. Tapi setelah aku menemukan Shindy kembali. Aku tidak akan mau mengalah padamu!" Ivan beralih pada dua orang di belakangnya.
"Kalian berdua, jangan bertindak apapun sebelum aku berhasil mengembalikan uangmu!" ucap Ivan berlalu pergi
"Memangnya siapa dia bisa memerintahku, bahkan sampai kau mati pun aku tidak semudah itu melepaskanmu." guman Tommy dengan senyum miring di bibirnya
"Ron awasi setiap gerak-geriknya. Dan kau Ram! Setelah gadis bodohmu melahirkan, bunuh saja keluarganya! Apa yang sudah Anton rebut dariku, harus kembali padaku."
__ADS_1