
"Sayang lihat, aku hamil!" teriak Shindy kegirangan
Ivan mengamati dua benda kecil di tangan Shindy.
"Positif? Selamat sayang!" Ivan memeluk erat Shindy sambil mencium puncak kepalanya berkali-kali
"Akhirnya sayang, Clara akan punya adik." ujar Shindy
"Benarkah mama?" tanya gadis berkepang dua itu dengan bahagia
"Tentu sayang. Clara akan segera menjadi seorang kakak." tukas Ivan menggendong anak gadisnya mendekat ke arah Shindy
"Clara ingin punya adik perempuan. Yang cantik seperti mama." tukas Clara memegang pipi halus Shindy
"Kenapa tidak laki-laki saja sayang? Biar bisa menjadi jagoan untuk Clara kecil ini." tukas Shindy
Clara menggeleng. "Karena anak laki-laki itu nakal dan jahil. Persis seperti Jonathan."
Ivan mencubit pipi gembul Clara sambil tertawa. "Jonathan itu hanya butuh teman. Dan Clara adalah teman yang baik untuknya, jadi sikapnya seperti itu."
Bibir Clara mengerucut. "Papa belum tahu apa yang sudah Jonathan lakukan."
Clara meronta turun dan berlari mengambil tas sekolahnya. Dikeluarkannya buku mewarnai dari dalam tasnya. Lalu dibuka halaman paling belakang. Tampak lukisan seorang anak kecil dengan pipi yang sama gembulnya dengan Clara hanya saja bermata biru dan berambut ikal.
"Dia mengotori bukuku Papa!" protes Clara
Shindy terdiam, mengagumi sejenak karya Jonathan yang diwarna asal menggunakan pensil warna.
"Cantik. Seperti Clara." gumam Shindy
"Bukan! Mata Clara berwarna hitam, rambut Clara lurus dan panjang. Sedangkan gadis ini tidak!" tukas Clara
Ivan terdiam mengamati sekilas lukisan Jonathan.
"Clara, dengarkan papa. Sebenarnya gadis kecil yang Jonathan lukis itu adalah Clara. Hanya saja, Jonathan kurang pandai menggambar. Jadilah seperti ini." Ivan mengedipkan sebelah matanya ke arah Shindy
"Benar sekali Nak. Sudahlah jangan kesal begitu." ujar Shindy mencium pipi putrinya yang tengah merajuk itu
__ADS_1
"Baiklah Pa. Akan ku kembalikan buku-buku ini ke tempatnya dulu." ujar Clara berlari kecil ke luar kamar.
Ivan menatap dalam kedua mata Shindy.
"Perlukah kita babymoon berdua sayang? Mengingat saat mengandung Clara, kau belum pernah merasakan hal semacam itu." tukas Ivan memeluk istrinya intens
"Kau atur saja jadwalnya sayang. Ku rasa, aku juga butuh udara segar." balas Shindy
Adegan ciuman pun terjadi. Bibir yang saling berpagut, menimbulkan decapan di tengah keheningan. Tangan Ivan menarik tengkuk Shindy, memperdalam permainan lidahnya yang menelisik ke rongga mulut Shindy. Shindy masih memejamkan mata, menikmati sensasi hangat yang Ivan berikan.
"Hah.." Nafas Shindy tersengal. Bersamaan dengan terlepasnya tautan bibir mereka
"Aku mencintaimu Shindy. Sangat mencintaimu."
"I love you more Ivan."
Singkatnya, hari yang mereka sepakati untuk berbulan madu telah tiba. Shindy memutuskan untuk menitipkan putrinya pada Wulan. Juga meminta dua bodyguardnya untuk terus mengawasi dua orang tersayangnya itu.
Kini Shindy duduk tenang di dalam mobil. Dengan kepala yang bersandar pada lengan suaminya, sesekali mencium aroma musk yang menguar di balik kemeja hitam suaminya.
"Kau persis seperti mafia, sayang. Rahangmu yang tegas, bibir tebalmu dan tatapan tajam ini. Kau benar-benar tampan." puji Shindy memandang kesempurnaan di wajah suaminya
"Jangan disini sayang." Shindy melirik sekilas ke arah sopir yang juga tengah mengamati mereka
Ivan menarik diri sambil membisikkan. "Setelah ini, tidak akan ku biarkan kau beristirahat barang sebentar."
Shindy tersipu. Wajah cantiknya memerah menahan malu. Sementara Ivan tersenyum puas, mendapati ekspresi sang istri yang begitu menggemaskan.
Villa pribadi yang disewa Shindy menghadap langsung ke telaga. Cuaca dingin disertai kabut yang turun silih berganti, menambah suasana romantis dua pengantin baru itu. Meski usia pernikahannya sudah masuk ke angka 1 th. Ditambah kehadiran buah cinta mereka di rahim Shindy, namun tekad bulat kedua insan itu untuk berbulan madu, tidak luruh sedikit pun.
Shindy dengan lingerie seksinya tengah berdiri dengan pose menggoda di depan pintu kamar mandi. Sedang Ivan, tengah menunggu tak sabar di ranjang king size yang sudah tersedia. Shindy melenggak lenggok layaknya model di catwalk. Memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna di balik kain tipis yang kekurangan bahan itu. Dalam sekali tarikan, Shindy jatuh dalam pelukan suaminya. Tangan Ivan bekerja dengan lembut, menyusuri setiap inci tubuh istrinya yang menggairahkan. Pun halnya Shindy yang membuka satu per satu kancing kemeja Ivan. Jemari lentiknya menyentuh lembut pahatan otot yang tersusun rapi di badan Ivan. Tubuh atletis yang menawan. Dengan cepat Ivan membalik keadaan. Mengungkung Shindy di bawahnya. Dan adegan dewasa yang sulit dijelaskan author pun akhirnya terjadi juga.
Kembali ke kediaman Shindy. Clara tengah menyirami bunga warna warni di halaman rumahnya. Bersama Wulan, Clara belajar berkebun. Mengenal bunga cantik yang ditanam Wulan belum lama ini. Menjadi hobi lain dan metode pembelajaran baru untuk anak TK seperti dirinya.
"Eyang, kapan mama dan papa pulang?" tanya Clara, meski baru ditinggal sehari rasanya gadis kecil ini sudah merindukan orang tuanya
"Lusa sayang. 2 hari lagi papa dan mama akan pulang. Sementara, Clara sama eyang dulu ya." ujar Wulan dengan lembut
__ADS_1
"Clara kengen papa." tampak Clara berusaha menahan tangis hingga mukanya memerah
"Sudah jangan nangis Clara. Nanti papa sama mama jadi kepikiran terus lho." Wulan memeluk cucunya itu. Membiarkan tangisan Clara pecah di bahunya
Tanpa mereka sadari, seseorang berhodie hitam dengan kaca mata dan topi berwarna sama, tengah berdiri mengamati di balik pagar besi. Cerutu di mulutnya dengan sepasang pistol di belakang celananya, menegaskan bahwa dia bukan orang baik-baik.
Tampak pria itu berjalan mengendap ke sisi dinding. Naik ke bak sampah dan melompat masuk tanpa suara. Dilihat dari caranya, pria ini seperti sudah terbiasa melakukannya. Pria itu lalu menunduk diantara rerumputan hias dan pot-pot mahal yang berjajar. Kakinya mengarah ke pintu belakang rumah Shindy yang terbuka.
Dengan cepat, pria itu mencari dispenser galon yang sudah terpasang. Tanpa hambatan, dibalikkannya dispenser itu dan menuangkan sebungkus serbuk bewarna putih lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Siapa itu?" tanya seorang pria
Dengan cepat, pria itu berlari keluar dan sembunyi di balik pintu kayu besar.
"Siapa yang kau panggil?" tanya penjaga satunya
"Kenapa kau masuk? Bukankah harusnya salah satu dari kita berjaga di luar. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bu Wulan dan nona Clara?"
"Cuaca sedang panas. Dan aku haus."
Tanpa ragu, dua orang penjaga itu minum dari air galon yang sudah dicampuri tadi. Tak butuh waktu lama dua orang itu terhuyung-huyung dan pingsan.
BRAK... Suara tubuh penjaga yang menabrak dispenser pun menyebabkan gelas yang ada di bawahnya terjatuh dan pecah. Pun halnya dengan galon yang menggelinding dan airnya tumpah kemana-mana
"Suara apa itu eyang?" tanya Clara menghentikan tangisnya
"Biar eyang periksa. Kamu tunggu disini ya Clara. Jangan kemana-mana, sampai eyang kembali." pesan Wulan melangkah masuk ke arah dapur
Sesampainya di depan pintu, pria yang tadi bersembunyi, keluar dan membekap mulut Wulan dengan sapu tangan. Tubuh tua itu pun lemas, tak sadarkan diri. Pria itu menyeringai, mengangkat tubuh itu dan membaringkannya di lantai bersama dua orang penjaga yang belum sadarkan diri.
Segera, pria itu berlari ke kebun. Melakukan hal yang sama pada Clara.
"Akhirnya, ada celah yang sengaja kau tinggalkan dengan mudah Shindy. Ini akan jadi pembalasan yang paling menyakitkan untukmu!"
Hai teman-temanku yang berbahagia. Sampailah kita di penghujung cerita.. 😁
Jadi beginilah akhirnya, kehidupan Shindy, Ivan Retha dan Andrian. Namun, yang namanya hidup pasti berkelanjutan. Pun halnya dengan kisah Clara sendiri yang diam-diam diculik papa kandungnya, Rama...
__ADS_1