DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Cekcok


__ADS_3

"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu Aan?" tanya Shindy tiba-tiba


"Tentu saja. Aku bahagia, sangat. Apalagi kami sedang menanti kelahiran anak kami. Aku benar-benar bahagia." tukas Andrian dengan tawanya


Shindy terdiam menatap kosong ke arah pria di sampingnya. Moodnya mendadak berubah, harusnya dia merasa senang karena Andrian telah menemukan cintanya. Tapi, kenapa hatinya masih tidak rela?


"Apa kau bahagia?" tanya Andrian kemudian


Shindy termenung. Bahagia? Tidak sehari pun, hal indah terjadi di hidupnya setelah menikah. Bahkan, ah sudahlah.


Suara tepuk tangan datang dari arah depan bersamaan dengan datangnya pria aneh yang Shindy kenali.


"Romantis sekali, mengobrol berdua seperti ini ya! Apa kau tidak malu mengencani wanita hamil?" seloroh Rama pada Andrian


"Apa maksudmu? Aku hanya.."


"Tutup mulutmu itu! Kau sendiri yang menolak menikahinya kan! Kau juga bahkan tidak mau mengakui anakmu, lalu kenapa kau berusaha mendekatinya lagi?" cibir Rama


"Aku tidak.."


"Mana ada maling yang mau ngaku? Hah! Bukti sudah jelas di depan mata, kenapa masih bekelit? Kau berniat mengajaknya balikan? Kau tidak laku ya, sampai harus merebut istri orang lain." lanjut Rama


"Aku tidak seperti itu. Aku sudah menikah!" Andrian menunjukkan cincin pernikahan di jari manisnya


"Owh, baguslah! Lalu kenapa kau masih menemui Shindy? Istrimu tidak menarik ya, ah tentu saja siapa yang mau denganmu?" ejek Rama


Bug.. Sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Rama.


"Kau boleh menghinaku, tapi jangan bawa-bawa istriku!" ancam Andrian


"Hah! Kenapa kau marah? Apa jangan-jangan benar jika istrimu tidak secantik istriku? Jadi kau menyesal sudah memilihnya begitu?" lanjut Rama dengn tawa meledek.


"Jaga bicaramu!" Andrian mencengkeram kerah kemeja Rama


"Cukup! Hentikan! Jangan bertengkar disini." teriak Shindy


"Sayang, apa kau tidak malu? Duduk berdua dengan mantanmu yang sudah menikah? Kau istriku sayang, apa kata orang lain nanti?" ujar Rama dengan nada yang sengaja dilembutkan


Shidny menyeringai, "Kau baru menganggapku istrimu disaat seperti ini Ram? Kemana saja kau selama ini. Kau bahkan tidak sekalipun memperlakukanku dengan baik."


Melihat keduanya, Andrian menyadari hubungan pernikahan Shindy tidak berjalan seperti yang seharusnya. Andrian pun merasa tidak enak menjadi penyebab pertikaian mereka.


"Maaf menyela, aku harus kembali ke kantor sekarang." ujar Andrian

__ADS_1


"Iya Aan. Hati-hati ya!" pesan Shindy


"Hei! Kau mau kemana? Urusan kita belum selesai, kau takut padaku? Hah!" teriak Rama


"Ram sudah! Jangan membuatku malu!" hardik Shindy


"Sayang, aku sudah membelikan apartemen untukmu. Kita akan pindah ke tempat baru mulai sekarang. Aku juga siapkan ranjang yang empuk agar tidurmu nyaman. Juga mendesain kamarnya sesuai dengan seleramu. Kita akan pulang kesana nanti!" tukas Rama


Shindy memutar bola matanya malas. "Pergilah Ram. Aku tidak akan ikut denganmu, aku harus bekerja."


"Kalau begitu aku akan menunggumu disini. Sampai kau pulang kerja nanti dan akan membawamu ke tempat tinggal kita yang baru." ujar Rama dengan senyum yang tampak sekali dipaksakan.


"Terserah kau saja! Aku tidak tertarik dengan semua itu." balas Shindy dingin sambil berbalik ke arah toko.


Shindy membuka pintu kaca itu dan masuk ke dalam. Rama mengamatinya dari luar dengan jemari yang bermain di dagunya.


"Kau tidak akan bisa menolak pesonaku Shin! Ku pastikan kau akan kembali dengan bayimu itu!" gumam Rama tersenyum dengan liciknya


Shindy menghampiri Imelda yang tengah menata roti di etalase display.


"Itu siapa Shin?" tanya Imelda melirik ke arah Rama


"Suamiku." jawab Shindy singkat


Shindy memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak amarah yang sedari tadi dia simpan.


"Sabar ya Shin. Mulutnya itu loh. Hih!" ujar Imelda merasa gemas sendiri dengan perkataan Merrisa


"Udahlah Mel, aku lagi males nanggepi." ujar Shindy meneruskan pekerjaan Imelda


"Makan dulu yuk Shin!" ajak Imelda


"Kamu makan aja. Aku nggak mood makan." balas Shindy pelan


"Masih mual ya?" tanya Imelda


Shindy mengangguk. Tidak mungkin dia menjelaskan mood makannya hilang karena kedatangan Rama.


"Ya udah, jangan capek-capek ya Shin." pesan Imelda sebelum masuk ke ruang karyawan.


Shindy mengambil kembali stok kue dari dapur, lalu menatanya hingga semua item sudah penuh tertata rapi di etalase.


Shindy memutuskan untuk menyapu lantai lagi, sedari pagi dia tidak ikut membantu temannya bersih-bersih. Shindy kembali membersihkan ruangan itu, entah tanpa mendung ataupun guntur. Hujan turun dengan derasnya. Shindy menatap ke arah jalanan. Banyak orang berlarian hanya untuk berteduh. Beberapa pengendara motor juga menepi untuk mengenakan mantel. Shindy melirik ke arah bangku panjang yang Rama duduki. Pria itu masih duduk santai dengan kepulan asap rokok mengitarinya.

__ADS_1


"Ck.. Kenapa dia nggak pergi juga sih!" gumam Shindy


Mau tidak mau, Shindy harus meminta Rama masuk ke dalam toko. Shindy melangkah ke arah pintu.


"Mau kemana lagi?" teriak Merrisa yang datang dari belakang


"Mau nyuruh dia masuk. Kan di luar hujan deras." terang Shindy


"Emangnya ini penampungan apa? Siapa-siapa boleh masuk! Kalau khawatir suruh pulang aja!" ujar Merrisa


Shindy menghela napasnya. Sulit menghadapi ketidaksukaan Merrisa padanya. Shindy mengurungkan niatnya untuk meminta Rama masuk. Shindy membelokkan arah kakinya untuk kembali membersihkan ruangan.


Hujan deras yang awet benar-benar membuat tubuh Rama basah kuyup. Meski pria itu tampak santai, tapi Shindy yakin suaminya sangat kedinginan. Namun, Shindy tak berani lagi mengajukan permintaan untuk membawanya masuk. Ditatapnya lekat sosok bapak kandung dari anaknya itu. Sekilas Shindy merasa kasihan. Bisa jadi kan keinginannya untuk berbaikan benar-benar serius. Melihat betapa nekad usahanya untuk menjemput Shindy. Di tambah pria itu telah menyelamatkannya tadi. Meski di sisi lain. Hati Shindy tidak pernah sekalipun percaya pada kata dan sikap manisnya. Bisa saja kan, itu hanya akal-akalan dia untuk suatu tujuan. Atau Tommylah yang meminta Rama melakukan ini. Shindy menggelengkan kepalanya. Tidak mau lagi membayangkan sikap mesum dari orang-orang itu.


Jam kerja telah berakhir. Shindy membereskan sisa kue dalam kemasan untuk dikembalikan ke dalam ruang penyimpanan di dapur.


"Sudah Shin? Ayo pulang." Ajak Imelda.


Shindy menggandeng tangan temannya itu dan keluar bersama.


"Sudah pulang Shin?" tanya Rama bangkit dari duduknya.


Kemeja yang dikenakannya hampir mengering.


"Ayo ikut ke kosanku!" Shindy menarik tangan Rama


"Aku duluan ya Shin. Dah.." ujar Imelda berjalan berlawanan arah


"Hati-hati ya Mel." tukas Shindy


"Berarti dengan ini kau sudah memaafkanku?" tanya Rama


"Belum!" balas Shindy singkat sambil terus berjalan ke arah jalan raya.


Rama menatap lalu lalang kendaraan yang ramai. Hingga dia berinisiatif menggendong Shindy dan menyeberangkannya.


"Ram! Turunkan." pekik Shindy


"Sekarang sudah aman." ujar Rama begitu tiba di seberang jalan


Shindy berdecak kesal dengan tindakan dadakan suaminya. Shindy berjalan mendahului Rama dan masuk ke dalam gang.


"Kita lihat Shin, sampai kapan kau bisa menolakku?"

__ADS_1


__ADS_2