DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Serangan Kedua


__ADS_3

Suara tembakan terdengar beberapa kali. Bersamaan langkah beberapa orang keluar dari markas Tommy. Pun halnya sorotan senter yang mengarah tak beraturan.


"Kita harus pergi Shin." ujar Ivan mengangkat tubuh lemah Shindy dengan kedua tangannya


Ivan berjalan mengendap-endap menjauhi area markas. Tingginya ilalang diterabasnya tanpa rasa takut. Dengan sigap Ivan membawa Shindy ke sebuah gubuk tua yang dulu sering dijadikan pos penjagaan oleh anak buah Tommy.


"Kita istirahat dulu disini. Duduklah Shin, biar ku ambilkan air minum di mobil." ujar Ivan


"Jangan. Berbahaya Van. Banyak penjaga yang keluar dari sana. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu." ujar Shindy


Ivan menatap kedua mata indah Shindy. Perlahan namun pasti wajah mereka saling berdekatan. Ivan menutup kedua matanya. Shindy pun memejamkan matanya. CUP.. Sebuah kecupan Ivan layangkan dengan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu Shin. Sangat." gumam Ivan


Tiba-tiba terdengar langkah seseorang yang mengendap-endap di belakangnya.


DOR... Kepala pistol Ivan terarah pada suara itu. Suara erangan terdengar, Ivan menoleh. Benar saja tampak salah seorang anak buah Tommy memegangi pahanya yang berdarah.


"Jangan pernah berurusan denganku." ujar Ivan berjalan menodongkan pistolnya


DOR.. Tembakan kedua terdengar. Bukan pada pria yang terjatuh di hadapannya. Namun peluru Ivan bersarang di dada anak buah Tommy yang lain. Tubuh kurus itu pun limbung ke atas tanah.


"Beritahu aku, ada berapa orang di dalam?" tanya Ivan berusaha menginterogasi korbannya


"Aku tidak akan memberitahumu."


DOR.. Pria itu tertembak untuk kedua kalinya. Kali ini tembakan Ivan mengenai bahunya. Pria itu mengejang kesakitan. Darah mengucur deras membasahi bajunya.


"Katakan, ada berapa orang di dalam?" tanya Ivan sedikit membentak.


"Hanya ada Tuan Tommy dan Nona Jane. Juga seorang bayi perempuan." ujar pria itu terbata


"Itu anakku Van. Dia ada di dalam." pekik Shindy yang berusaha bangun.


Seketika pandangan Ivan menoleh ke arah Shindy. Dan JLEB.. Sebuah belati kecil melukai kakinya.


"Aaaaargh Baj*ngan!" Gerutu Ivan menembak kembali ke arah pria di hadapannya

__ADS_1


Kali ini peluru Ivan melubangi dahinya. Pria itu pun meregang nyawa.


"Lukamu Van. Kita harus pergi Van, kita cari bantuan. Sembuhkan dulu lukamu. Kita akan kembali lagi nanti." ujar Shindy merasa khawatir


"Apa kau khawatir padaku?" tanya Ivan dengan mata berkaca-kaca


"Apa yang katakan bod*h? Lukamu separah ini, dan kau masih bertanya apa aku khawatir? Kau benar-benar sudah gila!" Ujar Shindy merobek paksa Tshirt tipis yang mayat pria itu gunakan.


Entah belajar dari mana, Shindy mengikat kuat betis Ivan yang terluka agar mengurangi pendarahannya.


"Semoga saja berhasil." gumam Shindy tak menghiraukan Ivan yang sedari tadi menatapnya


"Aku bersumpah Shin. Aku akan membawamu kembali dengan selamat, bersama bayimu." ujar Ivan mengusap pelan surai rambut Shindy


Kembali Ivan mendekatkan wajahnya. Berniat mengecup kembali bibir ranum yang manis itu namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah belakang.


"Kita harus pergi." ujar Shindy mencoba menahan rasa sakit yang dideranya.


"Kau jangan banyak bergerak dulu." Larang Ivan.


Shindy mengangguk paham. Dia berjalan tertatih ke belakang gubuk. Memasang posisi yang pas untuk berjaga-jaga. Stun Gun di tangannya sudah disiapkan.


"Made! tidak ku sangka kita akan bermusuhan seperti ini." ujar Bowo dengan suara seraknya


Ivan menoleh, sedikit terkejut dengan kehadiran pria besar ini.


"Ayo kita bernegosiasi sebentar. Kau pasti merindukan kehidupan mewahmu dan gaji besar yang selalu kau berikan pada ibumu kan?" tanya Bowo meletakkan pistolnya ke tanah


Namun dua anak buah yang lain menodongkan pistol ke arah Ivan. Dan Ivan pun masih menodong pistolnya ke arah Bowo.


"Turunkan senjatamu Van. Aku hanya ingin bicara." ujar Bowo


"Akan ku turunkan jika mereka membuang senjatanya." Tukas Ivan


Bowo mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar kedua anak buahnya itu menurunkan senjatanya. Perlahan kemudian, Ivan menunduk. Bermaksud meletakkan pistolnya. Namun tiba-tiba. Dor Dor.. Dua kali tembakan, Ivan tujukan pada dua pria di belakang Bowo. Dua pria itu mati seketika dengan luka menganga di masing-masing lehernya.


"Kau masih hebat Van. Kemampuanmu masih sehebat dulu. Wajar jika Tuan Tommy menginginkanmu kembali untuk melindunginya." ujar Bowo dengan bertepuk tangan.

__ADS_1


Ivan tersenyum miring. Lebih tepatnya menyeringai.


"Aku sudah berhenti Bowo. Tepat saat kedua orang tuaku mati di tangan Rama. Juga, Kakak perempuanku. Apa kau pikir, dendamku ini tidak layak untuk dibalaskan?" ujar Ivan pelan namun penuh penekanan.


Aura mengerikan seketika tampak dari wajah Ivan. Langkah kakinya mendekat. Sambil tetap menodongkan pistolnya. Dia tahu Bowo bukan orang bodoh yang mudah dia takklukkan. Dengan tetap waspada dan menjaga langkah, Ivan berusaha berbicara baik-baik dengannya.


"Kau harus tahu yang ku alami Bowo. Kau sendiri yang bilang, kapan pun aku membutuhkan sandaran seorang kakak. Maka aku bisa mencarimu kapan saja. Tapi, setelah semua yang terjadi padaku. Kenapa kau justru berbalik memusuhiku?" ujar Ivan


Bowo tertawa. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah kembali bengis. Dengan cepat diraihnya pistol Ivan hingga menghadap kembali ke arahnya. Tubuh besar Ivan terdorong hingga jatuh di tanah. Dengan pistol yang berbalik menghadapnya. Jari besar Bowo bersiap untuk menarik pelatuknya. Ivan berusaha berontak namun tubuh besar Bowo mengunci tubuhnya.


"Selamat tinggal teman seperjuangan. Sampaikan salamku pada keluargamu di neraka." ujar Bowo


Tinggal satu gerakan lagi, peluru itu mengenai dahi Ivan namun justru teriakan Bowolah yang terdengar. Dari belakang Shindy muncul dan menekan Stun Gun yang di bawanya ke arah kepala Bowo hingga tubuhnya bergetar hebat.


Bersamaan dengan itu, pistol yang digenggamnya terlepas. Ivan menendang tubuh besar itu hingga terguling di tanah. Belum sempat kembali fokus, Sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Bogeman Ivan telah berhasil membuat kepala Bowo berdengung.


Bowo berusaha bangkit. Namun tongkat listrik Shindy kembali di tempelkan. Bowo mengerang kesakitan dan dengan cepat membanting tubuh Shindy ke samping.


"Aaaaaargh...." keluh Shindy saat tubuh ringkihnya terjatuh kembali.


"Brengs*k!" umpat Ivan berlari ke arah Bowo. Dengan gerakan cepat, kaki panjangnya menapak di batang pohon besar dan melompat ke arah Bowo. DUG... Tendangan keras Ivan layangkan hingga tubuh Bowo terjatuh. Bowo menggapai-gapai sekitarnya dan berniat untuk bangun. Namun sebilah pisau sudah menancap di jantungnya. Jangan ditanya siapa yang melakukan ini. Tentu saja Ivan. Pria itu geram melihat apa yang Bowo lakukan pada Shindy.


Namun tiba-tiba tubuhnya merasa lemas. Air mata bercucuran. Tubuhnya terjatuh dengan lutut yang bertumpu di tanah.


"Terima kasih telah membebaskanku Ivan. Lebih baik orang baik sepertimu yang mengambil nyawaku. Daripada aku harus membunuh seorang adik sepertimu. Aku menyayangimu seperti keluargaku sendiri. Pergilah, selamatkan bayi itu. Maafkan aku yang tidak lagi bisa melindungimu." ucapan Bowo menusuk pendengaran Ivan. Hatinya tersentuh. Dengan cepat dihampirinya tubuh Bowo yang terkapar.


"Apa yang ku lakukan Bowo?" tanya Ivan menggapai kepala Bowo untuk diletakkan di pangkuannya.


"Yang kau lakukan sudah benar Van. Terima kasih telah membunuhku tanpa rasa sakit. Daripada aku harus mengabdi selamanya pada setan busuk itu." umpat Bowo dengan senyum di wajahnya


"Maafkan aku. Ku mohon jangan pergi." ujar Ivan mengingat kembali moment pertama dia bergabung dalam bisnis Tommy, Bowolah yang selalu menemaninya.


"Pergilah Van, ku dengar Tommy akan membawa bayi itu keluar negeri. Jangan biarkan dia lolos."


Kedua mata Bowo terpejam, bersamaan dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan.


"Tidak...."

__ADS_1


__ADS_2