
"Ram.. Rama!" pekik Shindy
"sssst.. Diamlah! Kau bisa membangungkan pasien." bisik Rama dengan senyum licik di wajahnya
"Pergi.. Jangan ganggu aku Ram!" ucap Shindy yang mulai ketakutan
"Aku tidak akan pergi tanpamu, istriku." ujar Rama mendekat ke arah Shindy
"Ikuti aku, dan jangan banyak bicara." Rama menempelkan ujung pisau kecil di pinggang Shindy
Shindy hanya bisa mengangguk tanpa berani berkata apapun. Rama mengarahkan tubuh Shindy untuk keluar dari kamar. Shindy menoleh ke arah Ivan. "Tolong aku Van. Bangunlah!" batin Shindy
Shindy berjalan dalam tudingan pisau Rama. Shindy kembali menoleh ke arah adik Bu Nyoman yang sedang berbicara via telepon. "Pak To.."
Rama membekap mulut Shindy dan menariknya ke sisi dinding.
"Jangan macam-macam! Jika mulutmu berani bicara sepatah kata saja, aku habisi bayimu!" ancam Rama semakin mendekatkan pisau itu ke perut Shindy
Shindy hanya mengangguk. Bulir air kembali turun dari pelupuk matanya.
"Ayo jalan." perintah Rama
Tangan kiri Rama merangkul bahu Shindy, dengan senyum palsu yang dia suguhkan seolah sedang bebahagia bersama istri tercintanya. Namun dibalik topeng itu. Tampaklah seorang penculik sedang mengancam sanderanya. Shindy menatap setiap orang yang dilewatinya sambil berusaha memberikan kode lewat kedua matanya. Tapi tak satu pun dari mereka yang menyadarinya.
Rama terus menudingkan pisau itu hingga sampai di parkiran. Sebuah mobil merah dengan lukisan batik di sepanjang bodynya. Rama bahkan telah mengganti mobilnya dalam semalam.
"Masuk." Rama membukakan pintu sisi kiri mobil
Lalu dia pun duduk di kursi kemudi.
"Siapa yang memberimu gaun seperti itu?" tanya Rama sambil menyalakan mobilnya
"Orang baik yang sudah menolongku." ujar Shindy datar.
"Orang baik ya.." Rama menarik safebelt dan memasangkannya ke badan Shindy. Rama menariknya kuat hingga perut Shindy terjepit dengan kuat.
"Sakit Ram. Perutku." keluhnya
"Owh aku lupa, ada bayi yang harus kau jaga dengan baik ya. Bagaimanapun dia satu-satunya kenangan yang mantanmu tinggalkan. Bukan begitu?" Rama melonggarkan sabuk pengaman Shindy.
"Dia pria yang baik. Dia tidak pernah menyentuhku." gumam Shindy memandang ke arah lain
"Hmmm begitu ya! Tapi sekarang aku lah suamimu, bukan pria baikmu itu. Jadi, berhenti memujinya di depanku!" ucap Rama penuh penekanan di akhir kalimat.
Rama mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedikit menikuk tajam setiap ada belokan. Beberapa kali menyalip dari sisi yang salah. Cara berkendara yang ugal-ugalan dan tak beretika. Shindy sampai harus berpegang erat pada jok mobil. Shindy merasakan kram di perutnya. Rasa mencengkeram itu begitu kuat. Shindy meringis kesakitan sambil mengepalkan tangannya. Menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.
Rama menghentikan mobilnya tepat di halaman sebuah rumah. Rumah di tengah perkebunan buah yang luas. Rumah kecil tanpa tetangga dan jauh dari pemukiman. Tidak seperti rumah sebelumnya, rumah ini berbentuk minimalis dengan dua kamar bersebelahan.
"Perutku sakit Ram." keluh Shindy yang tak kuat menahannya lagi.
__ADS_1
Rama membuka pintu mobilnya. Lalu beralih ke sisi lain mobil. Rama melepas safebelt Shindy dan mengangkat tubuh kurusnya.
"Kenapa kita pindah kesini Ram?" tanya Shindy begitu sampai di dalam kamar
Kamar bernuansa pink dengan jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan asri.
"Kau sedang hamil kan, jadi kau tidak boleh stres. Jadi ku pilihkan rumah yang nyaman untukmu" ujar Rama merebahkan tubuh Shindy
"Beristirahatlah. Aku harus mengurus sesuatu!" tukas Rama
"Ram, apa rencanamu? Tidak mungkin kau memberiku semua ini, tanpa alasan kan?" ujar Shindy yang entah kenapa merasa tidak tenang
Rama mendekatkan wajahnya.
"Ada rahasia besar yang tidak kau ketahui. Aku akan tetap merawatmu disini, sampai saat itu tiba!" ujar Rama dengan senyum miringnya
Rama meninggalkan kembali rumah itu. Terdengar suara pintu terkunci dari luar. Shindy mengamati Rama tengah berlari menuju mobilnya. Rumah ini terpencil, pasti Rama sudah merencanakan sesuatu untuknya. Shindy perlahan menuruni kasur. Dengan hati-hati Shindy berkeliling rumah. Tidak ada yang mencurigakan, semua ruangan terbuka dan beberapa lemari tampak kosong. Bahkan satu helai pakaian pun tidak ada disana. Rumah itu benar-benar baru. Shindy berjalan menuju pintu belakang. Pintu itu terkunci rapat dengan gembok besar terpasang di tepi kanannya.
"Apa rencanamu kali ini Ram? Tempat ini terpencil, tidak ada yang akan menolongku jika terjadi sesuatu disini. Aku harus cari cara agar bisa keluar dari sini" gumam Shindy
Shindy masuk ke kamar lainnya. Membuka tirai jendela besar yang bisa di buka. Meski demikian jeruji besi menghalangi jalan keluarnya. Shindy kembali menuju kamarnya. Jendela besar tanpa teralis itu tidak bisa dibuka. Namun Shindy harus memecahkan kacanya agar bisa keluar sebelum Rama kembali.
Shindy mengambil sebuah kursi kayu dari ruang makan. Shindy menyeretnya agar sampai ke kamarnya. Dengan sekuat tenaga, Shindy membenturkan ujung kursi itu ke jendela.
"Tidak pecah?" Shindy mendekat ke arah jendela
"Ck anti peluru." keluh Shindy.
"Sama saja." Shindy menghela napas panjang. Kali ini dia harus menyerah. Shindy kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencoba untuk tidur.
Tidurnya terusik oleh lampu kamarnya yang tiba-tiba menyala. Kedua mata indah Shindy mengerjap perlahan. Shindy menggeliat sambil berusaha bangun dari tidurnya.
"Tidurmu nyenyak?" tanya Rama dengan seulas senyum
"Kenapa kau tersenyum padaku Ram?" seloroh Shindy tak senang
"Kau yakin, tidak tergoda dengan senyumanku. Bukankah aku lelaki yang paling kau cintai?" tanya Rama dengan kekehan tawanya
"Berhentilah berpura-pura Ram. Katakan saja apa maumu!" hardik Shindy
"Sssst.. Wanita hamil tidak boleh marah-marah. Aku tidak mau apapun. Hanya, mandilah lalu pakai gaun ini. Aku menunggumu di ruang makan." Rama mengecup singkat kening Shindy
Shindy menatap gaun hitam bertali spaghetti dengan panjang selutut yang Rama berikan.
"Apa maunya? Dia memintaku mengenakan ini?" gumam Shindy
Shindy bergegas mandi dan mengenakan pakaian yang Rama berikan, setelahnya Shindy menghampiri Rama di ruang makan.
"Aku bawakan, ayam lada hitam kesukaanmu Shin. Bubur candil dan juga es buah. Semua ini aku siapkan untuk dinner romantis kita." ujar Rama menarik sebuah kursi untuk Shindy
__ADS_1
"Duduklah Shin." Rama mempersilakan
Shindy duduk di kursi itu, masih dengan guratan di dahinya. Heran, ada apa dengan Rama suaminya. Sebentar dia baik, sebentar kemudian dia menjadi jahat.
"Makanlah yang manis dulu. Setelahnya kita makan berat." Rama menuangkan secentong nasi di piring Shindy
"Katakan Ram! Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Shindy
"Diamlah. Makan ini dan jangan banyak tanya!" Rama memperingatkan dengan tatapan tajamnya
"Apa kau berniat meracuniku?" tanya Shindy
Rama membanting kasar sendok ditangannya.
"Ulangi ucapanmu!" bentak Rama
"Tidak. Lupakan Ram. Aku akan memakannya jika kau juga memakannya!" tukas Shindy meski perutnya sudah sangat lapar.
"Jangan membuatku memaksamu!" ancam Rama lagi
Shindy masih terdiam, tidak menyentuh sebutir nasi pun.
"Makan! Aku bilang makan, habiskan." Rama membuka paksa mulut Shindy, menjejalkan makanan itu hingga berceceran di meja.
"Hentikan.. Ram.." ujar Shindy
"Kau yang berhenti menyia-nyiakan kebaikanku Shin. Tadinya, aku berniat mengajakmu berbulan madu! Ternyata, kau sama sekali tidak mengindahkanku!" maki Rama
Shindy memuntahkan semua isi perutnya hingga mengotori lantai.
"Tidak ada pria baik yang tega menyakiti istrinya seperti ini Ram." ujar Shindy dengan kemarahan di kedua matanya
"Hah! Tidak ada wanita baik yang mau memberikan dirinya pada banyak laki-laki! Tidak seperti dirimu yang bahkan sudah bekas orang lain." ujar Rama
PLAK.. "Jaga mulutmu itu Ram! Aku tidak tidur dengan laki-laki sembarangan."
"Beraninya kau!" PLAK
"Mulutmu itu tidak tahu berterima kasih." PLAK
"Dasar j*l*ng mur*han!" PLAK
Shindy memgangi kedua pipinya yang mulai memerah.
"Akan ku pastikan kau akan mati kelaparan, gadis bodoh!" teriak Rama menyeret paksa tubuh Shindy masuk ke dalam kamarnya.
"Nikmati masa hukumanmu Shindy!" Teriak Rama sambil mengunci pintu kamarnya
"Ram buka! Jangan kurung aku disini! Buka Ram! Tolong..." teriak Shindy menggedor-gedor pintunya
__ADS_1
Namun tak ada sahutan, langkah kaki itu kian menjauh. Shindy terduduk di lantai, menangisi kembali nasibnya. Shindy mengusap bekas tamparan itu.
"Pa, Ma.. Tolong Shindy. Shindy kangen kalian."