
"Aku ikut denganmu!" pinta Shindy
"Nggak Shin, ini berbahaya. Kamu belum sembuh, aku takut luka perutmu semakin parah kalau kamu banyak bergerak." terang Ivan
"Tolong biarkan aku ikut Van. Ini menyangkut anakku juga, lagipula suamikulah yang bersalah! Jadi sudah jadi hakku untuk menuntutnya!" ujar Shindy bersikukuh
Ivan terdiam, menatap kedua mata penuh harap itu sesaat.
"Baiklah." ujarnya melunak.
"Terima kasih, aku akan bersiap-siap." Shindy mengecup pelan pipi Ivan dan berniat masuk ke dalam rumah. Namun tangan Ivan lebih dulu menggapainya dan menatap lekat kedua matanya.
"Van, sepertinya kita tidak punya waktu untuk ini." elak Shindy menyadarkan lamunan Ivan
Ivan melepaskan pegangannya. Membiarkan Shindy masuk dan berbalik arah. Dadanya berdesir mendapati tatapan keduanya barusan. Ivan menghela napasnya berkali-kali berusaha menstabilkan detakan jantungnya.
"Ayo Van." ajak Shindy dengan tas kecil di dadanya.
Ivan masuk ke dalam mobil Andrian yang sudah tidak berkaca itu, tujuan pertamanya adalah apartemen Rama.
"Menurutmu dia ada disini?" tanya Shindy pada Ivan
"Hanya satu cara untuk membuktikannya." Ivan keluar dari mobil. Mengamati jajaran mobil yang terparkir disana. Tidak satupun mobil yang dia kenali ada dalam deretan itu.
"Mobilnya tidak ada Van." ujar Shindy seolah mengerti arti pandangan Ivan
"Tidak ada mobilnya, bukan berarti tidak ada orangnya kan? Ayo!" Ivan menarik lengan Shindy dan berjalan ke arah lift.
Lantai demi lantai mereka lewati hingga sampai di angka yang mereka tuju. Mereka mengendap di lorong apartemen yang diterangi lampu biru yang gelap. Sudah dini hari, penghuni yang lain pasti sudah tidur. Angka 23 itu masih menyisakan trauma mendalam bagi Shindy, namun kali ini tekadnya menguak kebenaran tidak lagi bisa diganggu gugat.
Ivan menekan beberapa angka kombinasi yang dia hafal.
"Salah!" ucap Shindy setelah mengamati Ivan gagal membuka pintunya
"Sudah ku duga. Mereka akan sesigap ini. Ada angka yang kau mengerti Shin?" tanya Ivan
"230797. Ku rasa itu!" ujar Shindy
Ivan menekan tombol di pintu. KLIK.. Seketika pintu terbuka. Ruangan gelap dengan aroma alkohol menyeruak di penciuman.
"Shindy, pegang tanganku. Kita masuk pelan-pelan." bisik Ivan
Shindy mengeratkan pegangannya. Langkah kaki keduanya tiba di ruang tamu apartemen, dug... Kaki Ivan menyentuh botol yang menggelinding di lantai. Suara dentingan botol terdengar sebentar. Ivan menghentikan langkahnya, sementara Shindy semakin merapatkan tubuhnya
Krieeet.. Terdengar seseorang bangkit dari sofa, pandangan Ivan memutar. Meski dalam kegelapan, Ivan melihat siluet seseorang berguling di balik sofa. Perlahan Ivan mendekati sofa. Berusaha menunduk untuk melihat apa benar itu Rama. Namun tiba-tiba..
__ADS_1
"Argh..." tubuh Shindy tertarik ke belakang. Sebilah pisau didekatkan di lehernya. Shindy terpekik ketakutan sambil melangkah mundur mengikuti seseorang yang menangkapnya.
"Shin..Shindy!" panggilan Ivan bergema
Suara rintihan Shindy terdengar semakin menjauh. Ivan meraba dinding di sekitarnya. Berusaha mencari sakelar lampu agar bisa melihat sesuatu.
"Aaaaaargh." suara Shindy kembali terdengar disertai suara sesuatu yang jatuh ke lantai.
"Ivan hati-hati.." ucapan Shindy memperingatinya terdengar.
Namun sebentar kemudian, suara mulut yang terbungkam membuat Ivan semakin yakin. Shindy telah ditangkap. Diam-diam Ivan menuju ke arah sumber suara. Gelap ruangan membuatnya kesulitan hingga beberapa kali terantuk perabotan disana. KLIK.. Sakelar lampu berhasil Ivan nyalakan. Nyala terang menampilkan sosok Shindy yang terikat di lantai dengan mulut tersumpal.
"Shindy." belum sempat mendekat.
PYAR... Botol kaca mendarat di kepalanya dan tercecer di lantai
Disertai dengan tetesan darah yang mengalir lumayan deras dari belakang kepala Ivan. Ivan mengaduh sebentar dan berguling kehilangan keseimbangan.
"Kau berniat menangkapku? Sekarang, biar ku tunjukkan cara bermain yang sebenarnya!" ucap Rama mengangkat meja kaca di hadapannya dan dijatuhkan dengan segaja ke arah Ivan.
PYAR.. Suara kaca yang dibanting terdengar cukup keras. Shindy menutup matanya. Merasa takut dan tak tega melihat kondisi Ivan saat ini.
"Tak akan ku biarkan kau menang dariku Rama!" teriakan itu mengalihkan pikiran buruk Shindy
"Katakan, dimana bayi Shindy?" tanya Ivan
Rama tampak tertawa meledek. Tentu saja dia tidak akan memberitahunya dengan mudah.
DUG.. Lutut Rama yang bebas menendang kasar ke arah punggung Ivan. Ivan melenguh kesakitan dan pukulan botol miras kembali mengenainya. Rasa perihnya luka bercampur alkohol membuat Ivan kesakitan. Shindy yang semakin tak tega, berusaha melepaskan tambang di kedua tangannya.
"Kau sendiri yang sudah menyerahkan nyawamu padaku!" ucap Rama mengeluarkan belati kecil dari sakunya
Kedua mata Ivan membulat. Dia mundur perlahan dengan menyeret tubuhnya yang penuh luka. Rama melangkah semakin dekat. Hingga.. BUG..
Seseorang memukul Rama dari belakang. Rama tersungkur dan jatuh di sebelah Ivan. Shindy dengan kondisi tangan yang masih terikat berhasil memukul tengkuk Rama dengan kedua sikunya.
"Apa aku sudah membunuhnya?" tanya Shindy terkena serangan panik
"Tidak ada orang yang mati dengan pukulan sepelan itu. Tapi kerja bagus Shin!" puji Ivan bergegas bangun dan melepaskan ikatan Shindy.
Ivan mengangkat tubuh Rama pada sebuah kursi dengan tangan terikat ke belakang dan kaki yang menyatu di kursi.
"Tunggu dia sadar Shin, lalu kita tanyai dia." ucap Ivan
Shindy masih tampak mencari-cari sesuatu di dalam kamar Rama. Ivan hanya mengamati saat Shindy keluar dengan kotak P3K.
__ADS_1
"Aku harus mengobati lukamu. Pecahan kacanya sangat banyak Van. Aku takut infeksi." ujar Shindy mengeluarkan beberapa lembar kapas yang sudah diberi alkohol
"Kau sendiri pun terluka Shin." ujar Ivan memunjuk ke siku Shindy dan pergelangannya yang terkilir
"Aku masih lebih tangguh darimu Van." sombong Shindy berusaha mengusap lelehan darah di lengan Ivan
Ivan membuka pakaiannya, menampakkan kembali dada bidangnya yang mempesona. Seketika Shindy terdiam, menatap bentukan otot yang ada di hadapannya.
"Ini.. Indah." gumamnya tanpa sadar
UHUK.. Suara batuk terdengar berat di telinga Shindy. Seketika pandangannya beralih pada Rama yang mulai sadar.
"Mari kita mulai interogasinya, apa kau mengijinkanku melakukan kek*rasan Shin?" tanya Ivan berdiri menghampiri Rama
"Jangan sampai membunuhnya! Dia harus ditindak secara hukum yang berlaku Van." balas Shindu ikut mendekati Rama
"Kau kira semudah itu menawanku, bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan membuka mulutku!"ujar Rama menantang
"Baiklah, kalau begitu rasakan ini." Ivan memukul perut Rama dengan keras. Ugh.. Muntahan cairan bening keluar dari mulutnya
"Katakan Ram, dimana kau menyembunyikan bayiku?" tanya Shindy
"Apa gunanya memberitahumu? Dia sudah bersama orang yang tepat. Lagipula bukankah kau ingin menikah dengannya? Kau bisa membuat banyak anak dengannya nanti!" ucap Rama tidak gentar sama sekali
"Jaga mulutmu Ram!"PLAK.. Shindy menampar keras pipi Rama
"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku tidak senista yang kau pikirkan!" sanggah Shindy dengan amarah yang memuncak
"Menurutmu apa julukan yang tepat bagi gadis yang memberikan tubuhnya secara cuma-cuma pada banyak laki-laki? Seperti kau ini. Kira-kira apa gelar terhormat masih layak kau dapatkan?" kembali Rama merendahkan Shindy
"Tutup mulutmu itu!" Bogeman mentah kembali Ivan layangkan
Beberapa kali kedua orang itu mendesak jawaban jujur dari Rama, namun tak satu kata pun ada petunjuk tentang keberadaan bayinya. Shindy yang mulai frustasi duduk di lantai menunggu Rama mengatakan yang sebenarnya.
"Katakan Ram, sekali saja berbuat baiklah padaku Aku ingin bayiku kembali." ujar Shindy menangis sesenggukan di kaki Rama
"Kau tidak pantas berlutut pada orang yang bersalah padamu Shin! Bangunlah." ujar Ivan mencoba mengangkat Shindy
Ivan mengarahkan pisau lipatnya di leher Rama hingga ujung tajam pisau itu menggores sedikit permukaan kulitnya.
"Katakan dimana bayi Shindy, atau aku akan membunuhmu sekarang juga." suara dingin itu terdengar mengerikan. Shindy menjauh sejenak, seolah takut dengan sosok lain dari pria di hadapannya.
"Oke.. Oke akan aku katakan. Dia dibawa Tommy di.."
DOR...
__ADS_1