DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Bayi Perempuan


__ADS_3

Dengan panik Rama mengangkat tubuh Shindy dan berlari menjauhi jembatan. Erangan kesakitan terus terdengar dari mulut Shindy.


"Sial! Kenapa kau selalu menyusahkanku." Maki Rama sambil terus mencari mobilnya


"Sakit.." keluh Shindy seraya mencengkeram lengan Rama hingga memerah.


"Tahan bodoh! Aku juga panik. Jangan sampai bayimu kenapa-kenapa!" ujar Rama membuka pintu belakang mobilnya.


"Bayi.. Hanya itukah yang kau pikirkan? Keuntungan pribadimu atas anak ini?" pikir Shindy namun tak sempat terucap dari mulutnya.


Rama mengemudi dengan cepat melewati jalanan yang mulai sepi. Maklum ini sudah dini hari, jarang ada lalu lalang kendaraan yang melintas. Rama mengarahkan mobil itu ke rumah sakit lain yang paling dekat. Bukan rumah sakit yang pernah mereka datangi sebelumnya. Mobil itu tampak menerobos lampu merah beberapa kali. Hingga akhirnya bisa sampai dalam waktu yang singkat.


Rama bergegas membuka pintu belakang mobilnya, tampak Shindy yang mulai melemah dengan aliran darah yang semakin deras di sela-sela kakinya. Bahkan rembesan itu mengenai jok belakang mobil baru Rama.


"Sial! Kau mengotori jokku! Setelah ini kau harus menggantinya dengan mahal!" maki Rama tanpa memperdulikan kondisi istrinya


Rama menarik paksa tubuh lemas Shindy, digendongnya kembali sambil melangkahkan kakinya ke IGD.


"Woy! Cepat ambilkan matrasnya kesini. Darurat ini!" teriak Rama dari depan pintu IGD


Beberapa perawat dengan panik, bergegas mengambil ranjang dan membiarkan Rama meletakkan Shindy disana.


"Cepat panggil dokter dan periksa kondisinya!" perintah Rama seolah dialah pemilik rumah sakitnya


Tatapan aneh mengarah padanya, namun Rama masih terus mengumpat dan berteriak tak karuan pada perawat disana.


"Dokter, pasien mengalami pendarahan berat. Kondisinya lemah." panggil perawat laki-laki itu


"Bawa masuk ke ruang pemeriksaan!" titah sang dokter


"Dokter, tolong selamatkan anak saya. Dia anak pertama saya, usahakan yang terbaik untuknya dokter!" pinta Rama yang hanya dibalas lirikan singkat dari Shindy.


"Sabar sebentar ya Pak, kami akan segera mengabarinya setelah memeriksa kondisinya." tukas dokter itu


Segera dokter ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Rama menunggu dengan gusar di depan. Dengan masih memasang wajah cemas, dia mondar mandir tak karuan. Berniat melongok ke ruang pemeriksaan namun percuma. Tubuh istrinya dikerumuni tenaga medis disana.


"Pak, anda suaminya?" tanya dokter setelah keluar dari ruangan itu


"Iya saya suaminya. Bagaimana kondisinya? Apa bayiku baik-baik saja?" tanya Rama


"Kami belum bisa memastikan. Tapi yang jelas istri anda mengalami Solusio Plasenta. Dengan kata lain, pendarahan yang disebabkan karena plasenta sudah lepas lebih dulu dari rahim sebelum waktunya melahirkan. Jadi kami harus melakukan beberapa perwatan sampai kondisi istri bapak membaik. Baru kami bisa melakukan operasi." terang dokter itu


"Kenapa tidak dioperasi sekarang saja dok?" tanya Rama


"Tidak bisa Pak. Kondisi istri bapak masih sangat lemah. Dia butuh tranfusi karena sudah kehilangan banyak darah. Jika kami memaksakan untuk operasi maka istri bapak tidak akan selamat." ucap dokter itu

__ADS_1


"Saya tidak peduli dok. Apapun kondisinya, tetap prioritaskan bayinya! Yang penting bayi itu harus hidup dan selamat!" ujar Rama dengan nada meninggi


Dokter itu tampak terkejut. Baru kali ini, ada suami yang lebih mengharapkan bayinya daripada istrinya.


"Kami akan usahakan yang terbaik." ucap dokter itu


"Dengar ya dok! Jika sampai anakku kenapa-napa, reputasi rumah sakit ini akan aku hancurkan!" ancam Rama mencengkeram kerah kemeja sang dokter


"Mas tenanglah! Ini rumah sakit." lerai perawat perempuan yang sedari tadi menangkap sikap tidak biasa dari Rama


" Pastikan itu dokter!" teriak Rama yang mulai dibawa menjauh oleh security


Dokter itu kembali masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Berikan cairan intravena, aku akan mengecek golongan darahnya untuk melakukan tranfusi." tukas dokter itu.


"Dokter." panggil Shindy lemah.


"Apa anakku bisa selamat?" tanya Shindy dengan air mata yang berurai


"Kami belum bisa memberikan jawaban. Nanti setelah kondisi anda membaik, kami akan memeriksanya kembali." ujar dokter itu


"Selamatkan bayiku dok. Tolong." pinta Shindy yang hampir kehabisan suara


"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Anda hanya perlu istirahat total sekarang. Agar besok kami bisa melakukan tindakan selanjutnya." ujar dokter sebelum meninggalkan Shindy


Shindy terbangun ketika seorang dokter wanita memeriksanya pagi itu, tidak ada siapapun yang mendampinginya. Rama suaminya bahkan tidak nampak batang hidungnya.


"Kondisi anda sudah sedikit lebih baik, tapi melihat kandungan anda yang lemah. Sepertinya kami harus mengeluarkan bayi anda." terang dokter itu


"Lakukan yang terbaik dok. Asal bayiku ini bisa selamat." ujar Shindy pelan.


Tenggorokannya terasa kering, namun dokter memintanya berpuasa. Sedang sejak kemarin Shindy tak makan apapun juga. Sebenarnya dia kelaparan, namun mengingat nyawa bayinya lebih penting. Dia mengurungkan niatnya untuk makan.


"Suami anda sedang berbicara dengan dokter Adi. Mungkin sebentar lagi dia akan kesini." ujar dokter dengan seulas senyum


"Sayang, kau sudah bangun?"


"Drama itu lagi." batin Shindy memutar malas bola matanya


"Nanti pukul 10 pagi kami akan melakukan penanganan lebih lanjut. Jadi persiapkan diri anda dan jangan tegang atau banyak pikiran. Dokter Rita bagaimana dengan kondisi pasien?" tanya dokter Adi pada dokter yang memeriksa kondisi Shindy tadi.


"Sejauh ini semuanya normal dokter." terang Dokter Rita


"Bagus kalau begitu. Jadi bisa dilaksanakan sesuai prosedur." terang dokter Adi meninggalkan ruangan Shindy

__ADS_1


"Kau dengar itu? Hari ini kau akan dioperasi, jadi fokuslah untuk menyelamatkan bayi ini. Pikirkan bayinya saja dan jangan berpikir hal yang lain." ujar Rama dengan tatapan mengintimidasi


Shindy tak bergeming. Sejak kemarin rasanya hampa, malas juga berbicara dengan pria itu. Entah masih bisa dianggap suami atau tidak.


Tak terasa jam yang sudah ditentukan tiba. Beberapa orang mendorong ranjang Shindy menuju ruang operasi. Setelah sempat disuntik bius di bagian pinggang dan merasakan nyeri luar biasa menjalar di seluruh punggungnya, Shindy merasa kakinya menjadi kebas. Bahkan tidak lagi bisa menggerakkan kakinya. Tubuhnya sudah kehilangan kemampuannya perlahan. Namun kesadarannya belum menghilang.


"Jika kemungkinan terburuk terjadi, dan kita hanya bisa menyelamatkan salah satunya. Siapa yang ingin anda selamatkan Pak?" tanya dokter itu untuk terakhir kalinya


"Selamatkan bayiku dokter." ucapan itu keluar dari mulut Rama


Tampak jelas di depan mata Shindy, Rama hanya ingin bayinya bukan dirinya. Shindy meneteskan air matanya pasrah. Jika memang ini harus menjadi akhir dari hidupnya. Biarkan dia berkorban nyawa untuk bayinya. Agar kelak bayinya bisa mengenang ibunya ini sebagai sosok yang memperjuangkannya hingga akhir.


Rama hanya sibuk mondar mandir di depan ruang operasi. Dia merasa resah, takut jika hasilnya tidak akan sesuai harapan. Rama bahkan tidak tahu jenis kelamin anak itu, karena sejak awal memang tidak pernah mengantarkan Shindy untuk periksa kehamilan. Rama merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari tuannya dibuka.


[Istriku menginginkan bayi perempuan. Jika bayimu juga perempuan, bawa dia begitu lahir nanti] ~Tommy


[Akan ku pastikan bayiku perempuan tuan]


Tampak Rama berpikir keras bagaimana jika bayinya laki-laki? Apa dia bisa menukarkanya? Pikiran busuk Rama terus bermunculan. Memang dasarnya bukan manusia mungkin, setiap celah di hidupnya selalu dikaitkan dengan keuntungan dirinya sendiri.


Beberapa saat lamanya, dokter keluar dari ruang operasi. Rama beranjak dari duduknya dengan wajah sumringah.


"Selamat Pak. Bayi dan Ibunya selamat. Sekarang bayinya sedang dibawa ke ruang NICU untuk dirawat sementara. Mengingat bayinya lahir secara prematur, kami harus mengawasinya beberapa hari." terang dokter itu


"Laki atau perempuan dokter?" tanya Rama


"Perempuan."


Rama megembangkan senyumnya selebar daun pintu. Memang sudah jadi rezekinya maka tidak akan kemana.


"Istri bapak...." ujar dokter Adi


"Saya ingin melihat bayinya Dok. Apakah boleh?" Lagi-lagi Rama tidak peduli kondisi Shindy


"Anda hanya bisa melihatnya dari luar ruangan Pak. Mari ikut saya." ajak dokter Adi.


Rama berdiri di depan ruangan berpintu kaca dengan kotak-kotak bayi yang terhubung dengan berbagai alat yang tidak dia pahami.


Seorang bayi perempuan tampak memerah dalam salah satu kotak itu. Bayi yang mungil sedang terpejam disana.


"Dia bayi anda Pak." ujar dokter Adi


"Kapan saya bisa memegangnya Dok?" tanya Rama tak sabar


"Nanti seteleh kondisinya stabil Pak. Mungkin kisaran 2 minggu." ujar dokter Adi belum bisa memastikan

__ADS_1


Rama masih sibuk mengamati bayi kecil di depannya. Tiba-tiba seorang perawat masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Dokter, pasien mengalami pendarahan. Tanda vitalnya mulai menurun dokter."


__ADS_2