
Andrian berlari menghampiri istrinya yang tengah diangkat menuju mobil Shindy. Dengan panik, Andrian mengemasi beberapa pakaian dan perlengkapan bersalin yang sudah Retha persiapkan.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanyanya pada Shindy
Andrian berjalan mondar mandir di depan kamar. Dengan banyak tentengan di tangannya.
"Andrian, tenang!" ujar Shindy setengah berteriak
"Aku harus bagaimana Shin? Istriku, dia akan melahirkan. Putraku, putra pertamaku." ujar Andrian masih dengan raut muka kebingungan
"Jika kau terus mondar mandir disini, maka istrimu bisa melahirkan di perjalanan." tukas Shindy
"Kau benar. Aku harus cepat. Tapi aku harus kemana?" tanya Andrian lagi
Shindy menepuk jidatnya sendiri. Andrian adalah pria dewasa yang cerdas. Tapi dalam hal seperti ini, entah kenapa otaknya tidak berguna sama sekali.
"Keluarlah Andrian. Bawa mobilku, dan antarkan istrimu ke rumah sakit. Tidak mungkin kan dua bodyguardku itu yang menemani istrimu bersalin?" ujar Shindy gemas dengan tingkah Andrian
Bagai anak yang menuruti nasehat ibunya, Andrian bergegas masuk ke dalam mobil hitam Shindy. Menyalakan mesinnya dan perlahan meninggalkan halaman. Shindy menggelengkan kepalanya. Lalu kembali masuk untuk menggendong putrinya, sebelum akhirnya menyusul juga ke rumah sakit.
Sesampainya disana, tubuh Retha dibaringkan di atas ranjang. Didorong oleh beberapa perawat dan juga Andrian.
"Bertahanlah sayang. Sebentar lagi kita akan sampai." tukas Andrian mempercepat dorongan pada ranjang istrinya
Ruang persalinan terbuka, tampaklah seorang dokter wanita dan dua perawat lain sudah bersiap di dalam.
"Pak Andrian. Mohon untuk mengganti pakaian terlebih dahulu." ujar sang dokter
Andrian digiring masuk ke kamar ganti. Memakai pakaian khusus, lengkap dengan masker, sarung tangan dan penutup rambut. Andrian kembali ke sisi istrinya. Tampak napas Retha tersengal-sengal.
"Sakit Mas!" teriak Retha
Andrian menggenggam tangan mungil itu dan menyemangati istrinya.
"Kamu pasti bisa sayang. Aku ada bersamamu." tukas Andrian dengan perasaan khawatir
"Kita bersiap ya Bu. Dalam hitungan ketiga, ibu tarik napas dalam-dalam dan mulai mengejan." titah sang dokter
"Mas, sakit Mas." keluh Retha merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya
"Sabar sayang. Sedikit lagi. Ujar Andrian
"Tarik napas Bu, sekarang!"
Retha berusaha mengejan. Dengan teriakan kesakitan sambil sesekali menjambak rambut suaminya. Andrian hanya bisa meringis menahan sakit. Mau marah pun percuma, istrinya mungkin jauh lebih kesakitan.
"Tarik napas lagi Bu. Bagus. Keluarkan."
"Aaaaaaaah...." teriak Retha untuk kedua kalinya
__ADS_1
"Sedikit lagi ya Bu. Tarik napas. Lepaskan."
"Aaaaaaa." Oeee oeee...
Suara tangisan bayi mengakhiri perjuangan panjang Retha untuk menjadi seorang ibu.
"Duh ganteng sekali. Persis seperti papanya." ujar dokter itu memberikan bayi yang menangis itu pada Retha
"Mas anak kita." ujar Retha dengan air mata bahagia
"Selamat ya sayang. Dan terima kasih atas kado terindahmu." ujar Andrian mengecup puncak kepala Retha penuh sayang
"Jonathan Saputra Mas."
"Hmm?"
"Aku sudah mempersiapkan namanya. Jika laki-laki ku beri nama Jonathan Saputra. Jika perempuan Claudia Putri. Jadi, putra kita ini bernama Jonathan Saputra." tukas Retha dengan bangga
Meski Andrian sedikit heran dengan pemberian nama itu namun demi kebahagiaan sang istri, dia memilih tersenyum dan berkata, "Nama yang bagus. Aku suka."
Shindy hanya melihat adegan romantis itu di balik kaca pintu ruang operasi. Tanpa sadar air matanya menetes. Terpanjat do'a dalam hati, semoga kelak dia, Ivan dan putrinya bisa sebahagia mereka.
Cepat-cepat Shindy mengusap air matanya. Memeluk putri kecilnya dengan penuh sayang.
"Mama janji Nak. Akan terus menjagamu, dan jadi mama terbaik untukmu."
Kelahiran Jonathan memberikan arti baru bagi Retha. Pun halnya dengan Shindy yang menerima projek baru sebagai seorang model di Pulau Dewata. Acap kali menitipkan putri semata wayangnya pada Retha, menjadikan putrinya begitu manja saat dia pulang bekerja. Kadang Shindy harus melepas masa lelahnya dengan drama panjang sang putri yang minta ini itu saat bersamanya. Namun Shindy menikmati perannya. Sebagai wanita karir dan orang tua tunggal untuk putrinya, Clara Falisha.
"Mama bawa apa itu?" imbuh Shindy
"Aem." ucap Jonathan dengan girangnya
"Aaaaa." sebuah suapan kecil masuk ke mulut Jonathan yang terbuka lebar
"Ara mau." ucapan tak jelas Clara lafalkan
"Sini, Clara tante suapin juga ya!" Ucap Retha yang juga menyuapi Clara
"Papa pulang." teriak Andrian yang berdiri di ambang pintu.
Dua anak kecil itu menghambur ke arah Andrian dengan sebutan yang sama papa.
Jika dilihat dari luar, mereka seperti sebuah keluarga poligami yang akur. Satu suami, dua istri lengkap dengan putra putrinya.
LIMA TAHUN KEMUDIAN..
Shindy Paramitha, model terkenal itu kini tengah berdiri di hadapan cermin riasnya. Paras cantiknya, berbalut gaun putih panjang menjuntai ke lantai. Shindy mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Gugup, meski ini bukan pernikahan pertamanya. Namun, baru kali ini dia mengadakan resepsi semewah ini.
"Mama cantik sekali." suara Clara terdengar dari belakang
__ADS_1
"Benarkah sayang?" tanya Shindy berjongkok di hadapan putrinya
"Seperti boneka. Cantik sekali." puji Clara yang semakin besar semakin mirip dengan Rama.
"Boneka? Itu menakutkan tante Shindy!" teriak Jonathan yang datang dari arah pintu
"Kenapa begitu Jo?" tanya Shindy
"Boneka itu suka membunuh dan berbuat kejahatan. Boneka kan dirasuki arwah hantu yang suka mengganggu manusia. Jo, sering melihatnya di film. Mengerikan." Jonathan bergidik
Shindy hanya tertawa. Pria kecil ini mirip seperti Andrian. Posturnya, cara bicaranya bahkan ketakutannya akan hantu pun sama persis dengan papanya. Bisa dibilang, Jonathan adalah copyan asli dari Andrian.
"Kau ini persis seperti papamu Jo." ujar Shindy
"Tidak tante! Jonathan mirip seperti mama. Cerdas dan berprestasi." elak Jonathan
"Benar, pandai sekali." puji Shindy
"Jo, kau tidak sedang mengganggu tantemu kan?" tanya Retha yang masuk dengan dress pendek selutut menampilkan lekuk perutnya yang mulai membuncit
Shindy terdiam, menatap penuh arti bulatan di perut Retha.
"Apa terlalu kentara Shin?" tanya Retha
"Tidak begitu, tapi semua orang akan tahu kalau kau sedang hamil Retha." ujar Shindy
"Aku sudah memberi tahu apda Mas Andrian untuk menunda dulu tapi sepertinya dia.."
"Jonathan sudah berusia 5 tahun. Sudah waktunya dia mempunyai adik." ujar Shindy
"Sebentar lagi, Clara juga punya adik." seloroh Clara
"Benarkah?" Retha menatap Shindy penuh selidik.
"Eeee.. Tidak benar." jawab Shindy kikuk
"Sayang, kalian di dalam?" panggil Wulan, ibunda Shindy
"Iya mam." sahut Shindy
"Sudah waktunya Shindy, ayo keluar." ajak Wulan
Shindy bersama dengan pendampingnya keluar kamar dan menuju ballroom hotel yang sudah dihias sedemikian megahnya. Berjalan perlahan menuju tempat Ivan yang tengah terduduk di depan penghulu. Setelah masa hukumannya berakhir, Ivan memutuskan untuk menjadi mualaf. Dan selamanya mengganti namanya menjadi Ivan Ramadhana.
Suara sah dan ucapan hamdalah memenuhi seluruh ruangan. Tangis haru kedua mempelai saat saling memasangkan cincin di jari manis masing-masing.
"Sayang, bagaimana jika kita titipkan Clara sebentar." bisik Ivan seusai acara
Shindy melirik ke arah Wulan yang senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Biarkan Clara bersamaku, kebetulan aku akan membawa Jonathan jalan-jalan." ujar Andrian seolah paham maksud tatapan Ivan
"Ayo sayang."