DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Penyelidikan


__ADS_3

Tusukan pisau Shindy mendarat di ranjangnya. Shindy terjatuh dalam posisi tengkurap.


"Apa kau pikir semudah itu membunuhku? Kau yang harus mati lebih dulu!"


Rama menjambak rambut panjang Shindy hingga kepalanya mendongak. Tangan kiri Rama mencekik leher itu dan mendorongnya ke dinding. Kaki Shindy terayun tidak menapak di lantai.


"Le.. Pas Ram.." pekiknya kesakitan


"Apa? Aku tidak mendengarmu?" tanya Rama mendekatkan telinganya


"Le.. Pas.." pinta Shindy dengan air mata beruraian.


"Katakan lebih jelas sayang! Aku tidak mendengarmu." ledek Rama


Shindy menendang dada Rama hingga terdorong mundur. Kedua tangannya terlepas dari leher Shindy


"Uhukk.. Uhuk.. Hoek.." Cairan bening keluar dari hidung dan mulut Shindy. Shindy memegang lehernya yang masih terasa sakit.


"Kau.. Tidak bermoral Ram! Kau kejam!" pekik Shindy meluapkan amarahnya


Rama memegangi dadanya. Lalu bangkit menghampiri Shindy. Rama berjongkok di depan Shindy yang masih terbatuk sambil menahan sesak di dadanya.


"Ingat baik-baik. Jika kau ingin hidupmu tenang dan bayimu baik-baik saja. Maka jangan pernah mencoba melawanku!" ujar Rama


Rama berdiri, berjalan menjauhi Shindy.


"Satu lagi, akulah penyebab meninggalnya semua keluarga Ivan. Kakaknya, bapaknya, juga ibunya yang baru saja ku tabrak. Jika begitu mudah bagiku, membunuh mereka. Kurasa, membunuh gadis bodoh sepertimu.. bukanlah hal yang sulit!" Rama tersenyum dengan seringaian yang khas.


"Habiskan makananmu, kita bertemu lagi malam ini. Pastikan dirimu istirahat yang cukup." ujar Rama membanting pintu kamar Shindy


"Kakak? Mitha.. Bu Nyoman bilang pacar Mitha bernama Gibzon. Hah...Rama.. Nama lengkapnya Rama Gibzon Putra. Berarti Rama yang sudah meracuni Mitha dan bayinya.." Shindy kembali meneteskan air mata.


"Tidak.. Seluruh keluarga Ivan, mati di tangan Rama. Dia bahkan membunuh anak kandungnya, dan juga Mitha. Lalu aku? Aku juga sedang mengandung anaknya, apa mungkin.. Tidak. Aku tidak mau jadi korban selanjutnya. Tuhan.. Aku harus bagaimana?" Pekikan Shindy terdengar begitu memilukan.


"Jadi, Ivan.. Selama ini dia.. Hanya berniat membalas dendam pada Rama?" Shindy menutup mulutnya


Rumit. Hidupnya semakin runyam, satu per satu teka teki di otaknya mulai terjawab. Shindy mulai memahami situasi.


"Sekarang aku tahu, apa yang harus ku lakukan!" gumam Shindy


Di tempat lain. Ivan tengah termenung di kamarnya. Pikirannya menerawang entah kemana, proses pemakaman ibunya baru saja selesai. Ivan belum berniat mengadakan upacara pembakaran sampai dia menemukan pelaku yang telah menabrak ibunya. Ivan mendengar beberapa saksi, mobil merah itu naik ke trotoar dan menabrak Bu Nyoman dengan sengaja. Bu Nyoman sedang membeli sebungkus nasi dan berniat menyeberang jalan. Saat itu lampu hijau menyala, mobil merah melaju dari arah berlawanan dan menabraknya hingga terpental beberapa meter. Setelah itu, mobil itu memaksa pergi dan menabrak orang-orang yang menghalanginya.


"Sengaja. Ini bukan kecelakaan biasa. Mobil merah itu..." Ivan mencoba mengingat kembali.


Mobil merah batik, dia pernah melihat mobil itu beberapa kali. Tapi dimana?


"Made, kau tidak melapor polisi?" tanya pamannya yang masuk ke kamar Ivan dengan segelas teh hangat.

__ADS_1


Ivan menghela napas.


"Bagaimanapun ini kasus kecelakaan. Kau harus melapor karena penabrak lari dan tidak mau bertanggung jawab." lanjut pamannya


"Ini bukan kecelakaan biasa Uwa. Seseorang sengaja menabrak biyang." ujar Ivan


"Sengaja? Siapa? Dan kenapa?" tanya paman


"Entahlah Uwa. Aku baru saja kembali. Tapi Biyang meninggalkanku." Ivan tertegun. Hatinya terasa hampa. Kehilangan beberapa kali membuat otaknya tidak bisa berpikir lagi.


"Kuatkan hatimu Made. Dia tidak ingin meninggalkanmu. Tapi, Sang Hyang lebih menyayanginya dan membawanya pergi." tukas pamannya


Tiba-tiba Ivan teringat sesuatu.


"Rumah sakit, aku melihatnya di parkiran rumah sakit dan.. Mobil yang mengikuti di belakangku."


"Mungkinkah itu Tommy? Tapi untuk apa?" gumam Ivan


"Apa yang kau bicarakan?" tanya pamannya


"Uwa, aku harus pergi. Ada hal penting yang harus ku urus." pamit Ivan


"Jangan pergi dulu. Kau sedang berkabung." larang pamannya


"Justru karena itu. Aku harus mencari tahu, siapa pelakunya!" ujar Ivan


Ivan berniat menghampiri Tommy kembali. Meski tidak tahu dia ada dimana, Ivan memulainya dari rumah besar Rama. Motor itu diparkir dengan kunci yang masih menancap. Ivan masuk ke dalam rumah. Kali ini pintunya terkunci. Ivan menyelinap masuk ke halaman belakang. Pintu belakang juga sama.


"Mereka tidak ada disini." Ivan kembali berpikir, dimana mereka?


"Rumah sakit. Bowo juga tertembak waktu itu, ada kemungkinan mereka kesana untuk memastikan keadaannya."


Ivan bergegas mengendarai motornya menuju rumah sakit. Ivan melewati gang kecil sebagai pintasan agar cepat sampai. Setibanya di rumah sakit, Ivan segera memarkirkan sepeda motornya. Langkah panjangnya berlari menuju ruang informasi.


"Tolong dibantu cek, pasien atas nama Bowo Susanto yang masuk beberapa hari lalu. Dirawat dimana?" tanya Ivan pada petugas ruang informasi


"Pak Bowo, dia dirawat di ruang Dahlia. Lantai dua ya." balas petugas itu


"Terima kasih." Ivan tersenyum sekilas lalu melanjutkan langkahnya.


Ivan menaiki tangga memutar dan berpapasan dengan seseorang yang dia kenali.


GREP..


"Kau, tahu sesuatu tentang kematian ibuku?" tanya Ivan mendorong Rony masuk ke kamar mayat.


"Apa maksudmu?" tanya Rony tak mengerti

__ADS_1


"Seseorang telah menabrak ibuku dengan sengaja kemarin. Katakan apa Tommy yang memerintahkanmu?" tanya Ivan mencengkeram kerah baju Rony


Rony tersenyum miring dan menepis tangan Ivan. Dengan santai dia membenahi pakaian atasnya yang mulai kusut.


"Tidak ada perintah semacam itu Van. Lagi pula apa untungnya untuk kami? Ibumu bukan ancaman, dia juga bukan lawan yang sepadan untuk menghancurkan bisnis tuan Tommy. Kau salah sasaran." ucap Rony menepuk pundak Ivan dan berjalan keluar


"Tunggu!" ujar Ivan


"Mobil merah itu! Mobil yang mengikutiku tempo hari, kalian yang memakainya?" tanya Ivan penuh selidik


Rony tersenyum. "Ada banyak mobil seperti itu. Tapi.. Kau kenal bagaimana tuan Tommy. Dia hanya akan menggunakan limosinnya jika bepergian."


"Ku harap kau segera menemukan pelakunya. Dan jenguklah Bowo sesekali. Bedeb*h itu tidak pernah muncul lagi semenjak menembaknya." Rony mengakhiri perbincangan mereka.


Ivan terdiam, menatap dingin jasad-jasad tanpa nyawa yang ada di depannya.


"Jika bukan mereka, siapa lagi?"


Ivan keluar dari kamar mayat dan menuju ke ruangan Bowo. Bowo masih terbaring dengan infus yang menempel di lengannya.


"Kau.. Baik-baik saja?" tanya Ivan sedikit kaku


"Tidak ada orang tertembak yang baik-baik saja Van." balas Bowo mencoba mengajak Ivan bercanda


"Terima kasih sudah menolongku!" ujar Ivan


"Aku dikirim kesini karena sebuah tujuan. Tuan tahu hubunganmu dengan Rama seperti apa, dia memintaku mencegah kalian untuk saling membunuh." ujar Bowo


"Benarkah? Tapi.. Dia keterlaluan." umpat Ivan


"Aku tidak tahu apa masalahmu dengannya. Yang ku dengar hanya tentang dendam masa lalu kalian berdua. Apa Rama tahu soal ini?" balas Bowo memastikan sesuatu


"Aku yakin dia menyadari niatku, karena itu dia selalu membenciku. Tapi aku senang, karena dengan ini.. Permainan akan semakin menarik. Awalnya aku berniat memanfaatkan istri bonekanya, tapi .. Setelah tahu perlakuan Rama pada gadis itu. Aku sadar, Shindy juga korban dari perbuatan Rama." terang Ivan panjang lebar


"Kurasa kau menyukainya." balas Bowo asal


Ivan hanya tersenyum. "Cepatlah sembuh. Banyak tugas yang harus kita selesaikan."


Ivan meninggalkan kamar Bowo tanpa berpamitan. Ivan kembali menuruni tangga dan menuju ke parkiran. Ivan berniat ke lokasi kejadian kemarin untuk mengorek informasi tentang kecelakaan ibunya.


Ivan menghentikan motornya tepat di lampu merah. Tampak sebuah mobil merah dengan aksen batik di bodynya lewat begitu saja di depannya. Ivan menerobos lampu merah dan berbelok ke kiri. Mengikuti mobil batik yang menuju ke arah perkebunan. Ivan mempercepat laju kendaraannya, namun mobil itu dengan lincah menyalip mobil-mobil lain di depannya.


Mobil merah itu berbelok ke arah gang. Ivan lurus ke jalanan utama bersiap menghadang mobil itu. Namun pengemudi mobil itu tampaknya menyadari niat Ivan. 5 menit berselang mobil merah itu tidak juga lewat. Ivan memutuskan masuk ke gang sempit tempat mobil itu berbelok. Tidak ada jejak mobil merah itu.


"Sial! Aku kehilangan jejak!" umpat Ivan


Seseorang tersenyum dari lantai atas rumah berlantai dua. Menatap dengan penuh kemenangan ke arah Ivan yang kesal karena perbuatannya.

__ADS_1


"Bukankah ini semakin menarik Van?"


__ADS_2