
Masih dengan Ivan yang harus menelan emosi dalam dirinya. Ivan mengendarai mobil pinjamannya dari Tommy, berhenti menuju jalanan rumahnya. Hiruk pikuk aktivitas warga samar terdengar dari kejauhan. Ivan melangkah masuk ke dalam gang. Tampak lelaki yang dikenalinya tengah membersihkan teras rumahnya dan menggelar tikar.
"Made? Kamu.. ?" tanya Wayan dengan tak percaya
"Iya Uwa. Ini aku." ucap Ivan tersenyum
Pelukan hangat mendarat di tubuhnya.
"Keponakanku telah kembali. Syukurlah kau tidak apa-apa." ucap Pak Wayan menatap ke lengan Ivan
"Ini, bekas luka bakar? Jadi, suami wanita itu benar-benar telah membakarmu? Bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Pak Wayan secara beruntun
"Ceritanya panjang Uwak. Kita bicarakan di dalam saja." ajak Ivan masuk ke rumahnya.
Rumah itu masih sama. Bahkan tidak satu benda pun bergeser dari tempatnya. Hanya saja suasanya cukup lembab dan redup.
"Wanita yang kamu tolong pergi dengan meninggalkan ini. Sejak itu, saya tahu kamu masih hidup." terang Pak Wayan menyerahkan selembar surat.
Ivan membaca sekilas tulisan tangan Shindy. Ivan menyentuh detail tulisan itu, tak terasa air matanya menetes. Entah kenapa, dia begitu merindukan Shindy. Sambil terus mendengarkan Pak Wayan bercerita tentang segalanya yang terjadi di rumah itu selama Ivan tidak ada.
"Saya heran, kenapa dia minta saya mencabut laporannya di kantor polisi? Sedang akan lebih aman jika pihak berwajib tahu dan menangani suaminya itu." ujar Pak Wayan
Ivan terdiam tampak berpikir. Jika Shindy sudah sejauh itu mengambil keputusan, maka tidak mungkin tiba-tiba dia membatalkannya.
"Dia pasti diancam." gumam Ivan
"Siapa? Suaminya? Apa dia pergi untuk kembali pada suaminya?" terka Pak Wayan
Ivan terdiam kembali. Entah bagaimana Shindy bisa bersama lagi dengan Rama. Mengingat pesan yang dituliskan, dia pergi sendiri dari rumahnya. Ivan mengurut pelan tengkuknya. Bingung harus mulai dari mana mengurai kasus seperti ini.
"Kita pikirkan lagi soal itu nanti Uwa. Sekarang, aku ingin merundingkan sesuatu." tukas Ivan meletakkan lembaran kertas itu di meja
"Apa Made? Mungkin saya bisa bantu kamu." balas Pak Wayan
"Aku ingin menjual rumah ini!"
Seketika suasana mendadak hening. Keterkejutan di wajah Pak Wayan tidak bisa dia sembunyikan. Keponakannya pergi cukup lama dan kembali hanya untuk menjual rumah.
"Aku tahu ini sangat mendadak Uwa. Aku berhutang pada bosku untuk biaya perawatanku selama di rumah sakit." terang Ivan
"Memangnya berapa yang kamu butuhkan Made?" tanya Pak Wayan
__ADS_1
"60 juta. Gajiku selama setahun, aku harus mengembalikannya dalam waktu seminggu. Aku ingin berhenti bekerja dari sana." ucap Ivan menatap serius ke arah Pak Wayan
"Saya tidak bisa memutuskan apapun Made, ini rumah biyangmu. Peninggalan nenekmu. Jika kamu menjualnya, sejarah keluarga ini akan hilang dan kamu pun tidak punya tempat tinggal. Kenapa tidak mencoba mencari pinjaman saja?" tanya Pak Wayan
"Masalahnya Uwa, belum tentu bank mau memberikan pinjaman sebanyak itu dalam waktu seminggu. Akan ada survei lebih lanjut nantinya." terang Ivan
Pak Wayan menghela napas, mencoba memahami situasi keponakannya.
"Ya sudah, saya akan bicara pada Bendesa agar mengurusi penjualan rumahmu ini. Siapa tahu, dia mau membelinya dengan harga yang tinggi. Kamu bisa tinggal sementara di rumah Uwa." ujar Pak Wayan
"Terima kasih Uwa." Ivan menyalami tangan pamannya dengan penuh haru. Satu-satunya keluarga yang Ivan miliki setelah kepergian ibunya. Ivan mencoba memaksakan senyumnya. Dalam hati tertanam harapan untuk memulai hidup baru setelah terlepas dari belenggu Tommy.
...****************...
Belum genap seminggu, Ivan berhasil mendapatkan seratus juta dari penjualan rumahnya. Kini tujuannya jelas, dia berniat menyambangi tuannya untuk mengakhiri masa kerjanya. Rumah yang pernah dia tinggali saat pertama kali ke sini tampak tutup dan sepi. Namun mobil jeep dan limousin Tommy ada di halaman, menandakan rumah ini tidak kosong.
Ivan melangkah masuk dengan membuka paksa pintu kayu besar itu. Suara langkah kaki Ivan menggema di seluruh ruangan. Aroma pengap tercium di hidungnya. Tampak Tommy sedang duduk di kursi santai dan membelakanginya.
"Aku sudah membawa uang yang kau minta." seloroh Ivan dengan lantangnya
"Kau cukup cerdas juga ternyata, tidak berhasil mendapat pinjaman uang, kau jual satu-satunya rumah peninggalan orang tuamu." Balas Tommy tanpa menoleh sedikit pun
Jangan heran darimana Tommy bisa tahu soal itu, anak buah dan mata-matanya ada dimana-mana.
"Terimalah uangmu dan biarkan aku pergi dari sini." lanjutnya melemparkan uang dalam amplop coklat itu di meja kecil di sisi Tommy
Tommy mengangkat uang itu mengeluarkannya lalu berdiri.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu membutuhkan uang ini Van! Kau bahkan tidak perlu mengembalikannya. Aku menolak permintaanmu untuk resign." ujar Tommy berjalan ke arahnya
"Apa maksudmu?" tanya Ivan masih tak mengerti
"Aku tidak menerima permintaanmu. Bawa kembali uang ini dan pergilah. Katakan padaku, kapan kau siap melakukannya!" ujar Tommy menyerahkan kembali uang itu pada Ivan
"Kau.. Menipuku lagi?" geram Ivan
"Apa aku tampak seperti penipu?" terka Tommy
"Kau biadab!" Ivan menerjang ke arah Tommy. Sebuah pukulan keras menghantam wajah Tommy hingga dia terhuyung ke belakang.
BUG.. Kepalan balasan dari Rony menyapa perut Ivan. Beberapa kali hingga Ivan mengerang, tak sempat menangkis serangan dadakan itu.
__ADS_1
"Kau! Kalian berdua." Ivan melayangkan tendangannya tepat di kepala Rony. Memutarkan badannya dan menendang untuk kedua kalinya. Rony tersungkur dengan darah keluar dari telinganya.
"Kau berani melukai orang kepercayaanku." Tommy berujar seraya menempelkan tongkat listrik pada leher Ivan.
"Aaaargh..." Ivan bergetar sebentar sebelum kemudian jatuh ke lantai. Tubuhnya meringkuk kesakitan, merasakan arus dari tongkat yang Tommy pegang.
"Apa itu sakit?" tanya Tommy meledeknya
"Kalian! Beraninya kalian menipuku dengan cara seperti ini. Kau tidak menepati janjimu Tom!" ucap Ivan tidak lagi memanggil tuan pada Tommy
"Kau sudah menipuku lebih dulu, kau yang bilang akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang demi gadis bodoh itu. Tapi sekarang kau justru menyukainya dan melupakan ucapanmu sendiri!" Ujar Tommy menendang kasar tubuh Ivan yang masih terbaring di lantai
"Aaaargh.." Ivan berguling sedikit ke samping.
"Jika kau tidak sanggup membunuh ayah gadis itu dan keluarganya. Maka biar Rama yang mengambil alih tugasmu, tapi untuk mengganti 60 juta yang ku berikan padamu. Kau harus menghabisi Shindy!" tukas Tommy memberikan penawaran lain pada Ivan
"Tidak! Tidak akan pernah.. Aku tidak akan membunuh gadis itu, dia.. Tidak bersalah." ujar Ivan menolak
"Tidak ada tawar menawar lagi Van. Ku rasa, aku sudah sampai pada keputusan finalku. Jadi, lakukan saja tugasmu, maka aku akan membebaskanmu!" ujar Tommy memberikan kode pada Rony untuk membawa pergi Ivan dari hadapannya
"Lepas.. Lepaskan!" ronta Ivan
"Bunuh saja aku. Tapi jangan pernah menyentuh Shindy. Dia tidak bersalah!" tegas Ivan
"Membunuhmu? Apa untungnya bagiku?" ujar Tommy
"Setidaknya tidak ada lagi yang memberontak padamu. Jika kau biarkan aku hidup, aku bisa membalasmu bahkan membunuhmu!" ancam Ivan dengan mata yang mulai memerah
"Owh jadi kau mengancamku? Bagaimana ini Ron? Aku takut sekali." balas Tommy meledek
Sedetik kemudian wajah bengis Tommy kembali. Dipukulkannya tongkat listrik itu berkali-kali hingga Ivan tak saanggup lagi menopang tubuhnya untuk berdiri.
"Sekarang, apa kau masih ingin membunuhku?" Ujar Tommy meletakkan sepatu mahalnya di kepala Ivan
"Aku.. Akan membalasmu." Kedua mata Ivan terpejam. Dia tidak sadarkan diri
Tommy mengangkat kakinya, menatap tubuh lemas Ivan yang terkulai membuatnya tersenyum puas.
"Bawa dia masuk Ron. Jangan biarkan dia pergi sebelum Rama menyelesaikan tugasnya." ujar Tommy
"Baik Tuan." Rony mengangkat tubuh Ivan seperti karung beras di punggungnya
__ADS_1
Tommy tampak menekan benda pipih di tangannya untuk menghubungi seseorang.
"Lakukan secepatnya Ram. Bunuh Anton Raharja! Jangan menunggu gadis itu melahirkan, itu terlalu lama untukku!"