DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sebuah Kelicikan


__ADS_3

Ivan yang kesal membawa motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan gang sempit yang baru saja dia lewati. Rama turun dari lantai dua seseorang. Berguling seolah jarak teras lantai dua dan tanah hanya satu atau dua meter. Rama mendarat dengan baik. Dengan santai, Rama masuk ke dalam garasi rumah seseorang, mengeluarkan mobil merah kesayangannya dan mengemudi kembali.


Mobil itu keluar ke jalan raya. Setelah memastikan tidak ada lagi sosok Ivan, Rama memutuskan untuk kembali ke rumah.


Sore hari, waktu yang sangat Shindy benci. Karena sebentar lagi, dia akan bertemu kembali dengan suaminya. Shindy mondar mandir di dalam kamarnya. Berpikir keras, agar dia bisa keluar dari kamar yang membosankan itu.


Deru mesin terdengar di halaman depan. Shindy menatap di balik tirai. Rama berjalan dengan langkah sempoyongan masuk ke dalam rumah. Shindy pun masuk ke dalam selimutnya dan berpura tertidur.


Ceklek.. Sakelar lampu dinyalakan. Kamar yang tadinya gelap menjadi terang. Rama duduk di sisi ranjang dengan sebotol wine di tangannya.


"Kau tidak memakannya lagi?" tanya Rama menyadari bungkusan nasi itu masih utuh di atas nakas


"Apa kau berniat bunuh diri secara perlahan? Menjadikanku tersangka atas kematianmu? Hahahaha." Rama masih bisa meledek istri yang membelakangi dirinya.


"Kenapa tidak menjawabku? Hah! Apa kau tuli? Atau... Kau benar-benar ingin ku tulikan?" pertanyaan Rama sontak membuat Shindy berbalik


"Aku.. Tidak enak badan." ujar Shindy singkat


"Berhentilah minum. Aku tidak kuat dengan bau alkohol." Shindy menutup hidung kecilnya.


Ting.. Botol Wine itu di letakkan di nakas. Rama melepas jaket hitam miliknya dan melemparnya asal. Kaos hitamnya juga terlepas begitu saja. Abs Rama terlihat begitu indah di mata Shindy. Shindy menutup kedua matanya dan kembali menghadap jendela.


Rama membalikkan tubuh Shindy. Membuatnya terlentang di bawah kungkungannya.


"Aku merindukanmu Shindy Paramitha."


Kedua tangan Shindy tergenggam penuh dalam jemari Rama. Rama menciumi wajah Shindy, Shindy memejamkan matanya. Bukan menikmati, justru dia merasa jijik dengan sentuhan suaminya.


"Lepas Ram. Lepaskan aku." ucapnya berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir Rama


Rama menatap ke dalam manik mata Shindy yang terpejam


"Kau cantik , kau jauh lebih cantik saat seperti ini Shin."


"Kau mabuk Ram? Tidak bisakah kau berhenti?" tanya Shindy menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan.

__ADS_1


"Aku akan berhenti, setelah aku selesai denganmu."


Rama meraup bibir tipis Shindy. Mel*m*tnya dalam mulutnya yang basah. Aroma Wine tersebar di seluruh penciuman Shindy. Shindy menahan mual di perutnya. Perlahan kemudian ciuman itu memabukkan Shindy, Shindy larut dalam hangatnya suasana. Entah siapa yang memulai pakaian mereka telah teronggok di lantai.


"Kapan terakhir kali kita seperti ini Shin? Eungh.." sebuah lenguhan terdengar saat Rama berhasil kembali mendapatkan Shindy.


Shindy hanya menggigit bibir bawahnya. Menahan setiap des*h*an agar tidak keluar. Sore itu Rama melepaskan segala hasr*t terpendamnya.


Shindy menarik selimut tipis itu guna menutupi tubuhnya yang polos, dia berlari ke kamar mandi. Mual di perutnya tidak bisa di tahan lagi. Shindy memuntahkan cairan bening, karena sedari kemarin dia memang tidak makan apapun. Shindy mengguyur tubuhnya dengan air bak mandi. Membersihkan sisa aktivitasnya dan memakai kembali gaun putih pemberian Bu Nyoman. Shindy berjingkat mendekati Rama. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya.


"Dia tertidur." Shindy menoleh ke arah pintu kamar. Terbuka.


"Aku harus mencoba melakukan sesuatu."


Shindy keluar dari kamarnya. Membiarkan pintu itu terbuka dan berlari ke arah pintu depan. Ceklek.. Ceklek..


"Ck.. Kenapa harus terkunci?" Shindy masuk kembali ke dalam kamar. Mencari kunci di saku celana dan jaket Rama. Cring.. Suara dentingan kunci yang terjatuh di lantai terdengar.


"Jangan berisik. Biarkan aku tidur sejenak." gumanan Rama lalu melanjutkan tidurnya.


Shindy melangkah dengan hati-hati menuju pintu depan. Ceklek, pintu besar itu terbuka. Shindy bergegas keluar. Gelap. Perkebunan itu tampak menyeramkan. Tidak ada satu pun lampu jalan di sana.


"Aku tidak bisa menyetir, tapi.. Aku akan mencobanya." Shindy berlari masuk ke dalam mobil merah itu


Mobil itu menyala.


"Ini mobil matic, seharusnya tidak sulit. Aku akan mencobanya." ujar Shindy menekan gass dengan kaki kanannya.


Perlahan mobil itu mulai maju, Shindy memutar setir ke arah kanan berniat mengarahkan mobilnya keluar perkebunan. Pelan namun pasti mobil itu mulai meninggalkan halaman rumahnya. Cahaya lampu mobil tak cukup menerangi gelapnya rerimbunan pohon yang dia lewati. Mobil itu merayap membelah keheningan. Shindy melihat percabangan jalan tanah di depannya.


"Kemana ini? Kanan atau kiri?"


Shindy membelokkan mobilnya ke arah kanan.


BUG..

__ADS_1


"Aaaaa..." Teriak Shindy terkejut. Sebuah apel busuk jatuh di kap mobilnya.


"Tenang Shindy ini hanya apel." Shindy melanjutkan laju kendaraannya.


Di ujung jalan terdapat belokan lagi ke arah kanan. Hanya ada satu jalan. Shindy mengarahkan mobilnya kesana. Terus mengikuti jalan tanah di antara perkebunan. Dan..


"Ini halaman rumah lagi?" pekik Shindy


"Jadi, aku hanya memutari kebun. Ah. Sial! Bagaimana ini? Apa aku harus mencoba jalur kiri?"


Shindy kembali memundurkan mobilnya, dan kembali ke jalan yang pertama kali dia lewati. Kali ini dia berbelok ke arah kiri, Shindy merasa lega melihat beberapa lampu penerangan milik warga terlihat.


"Ini jalur yang benar." gumamnya senang


Namun tanpa dia duga.


"Aaaaah. Kembali ke rumah ini lagi! Apa-apan ini?" Shindy memukul setirnya dengan kesal


Sebuah siulan terdengar dari pintu rumah yang terbuka. Siluet Rama bertelanjang dada tampak tersenyum melihatnya.


"Sudah puas mengelilingi kebunku, Nona Shindy?" tanya Rama mendekat ke arah Shindy


Shindy memundurkan mobilnya. Jika Rama tahu rencananya, sudah pasti Rama akan membunuhnya.


"Mau kemana kau? Ingin ku temani jalan-jalan?" tanya Rama menawarkan.


"Pergi Ram! Atau aku akan menabrakmu!" ancam Shindy


Rama tertawa sekencangnya. "Kau ingin belajar jadi pembunuh sekarang? Ayo mari ku latih. Tekan gasnya dengan keras dan tabrak aku! Aku di depan sini."


"Aku benar-benar akan menabrakmu Rama!" teriak Shindy


"Lakukan. Aku senang melihatmu bersikap kejam! Ini membuatku, tertantang." Ejekan itu begitu menggelikan di telinga Shindy.


Shindy menekan gas kuat-kuat dan mengarahkan mobilnya pada Rama. Rama melebarkan tangannya seolah akan menerima pelukan dari seseorang.

__ADS_1


BRUK.. Shindy menabrak sesuatu. Rama tidak lagi tampak di hadapannya.


"Aku.. Menabraknya!" pekik Shindy


__ADS_2