DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Sarang Musuh


__ADS_3

Ivan menangis sejadinya. Menyesali apa yang sudah dia lakukan. Ivan berniat melukai Bowo. Hanya sebatas itu, tidak ada sedikit pun pikiran untuk menghabisi nyawanya. Namun, yang terjadi di luar keinginannya. Amarahnya mudah sekali tersulut jika siapapun berani menyentuh Shindy. Tunggu! Shindy.


Seketika Ivan teringat dengan gadis yang sedari tadi bersamanya. Ivan menoleh ke arah Shindy yang masih dalam posisi sama. Meringkuk memegangi perutnya. Rintihan kesakitan Shindy pun terdengar. Dengan perlahan, Ivan meletakkan kembali tubuh Bowo ke tanah. Berjalan tertatih mendekati gadis yang sangat dia cintai.


"Shindy. Bangunlah." Ivan menyandarkan kepala Shindy di pahanya. Mengusap perlahan rambut Shindy.


"Apa kau masih sanggup berjalan?" tanya Ivan


"Sakit Van." lirih Shindy


Disingkapnya kaos yang Shindy kenakan. Tampak bekas luka jahitan yang belum kering itu kembali mengeluarkan darah. Ivan mengusap luka Shindy perlahan.


"Kita harus kembali Shin. Kita tidak bisa melanjutkannya dalam keadaan seperti ini."ujar Ivan bersiap untuk mengangkat tubuh Shindy


"Tidak Van! Jika kita pergi, mereka akan membawa putriku kabur dari sini. Dan aku tidak ingin kehilangan dia." tolak Shindy


"Aarrrgh.." keluh Shindy ketika berusaha untuk bangun.


"Shin. Biar ku bawa kau ke mobil. Nanti, aku yang akan masuk menolong putrimu." ujar Ivan namun kepala Shindy menggeleng.


"Aku akan berjuang bersamamu Van. Kita harus merebut putri kita kembali." ucapan Shindy terdengar begitu tulus. Menghantarkan kehangatan tersendiri bagi Ivan. Letupan-letupan kecil mulai menggelitik hatinya. Perlahan namun pasti, wajah mereka kembali mendekat. Ivan sedikit memiringkan kepalanya dan mencium Shindy perlahan. Menggerakkan bibirnya untuk sebuah penyatuan yang luar biasa. Bukan. Belum sejauh itu. Hanya sebatas meyakinkan perasaan masing-masing lewat ciuman singkat.


"Aku mencintaimu Shindy." Entah ke berapa kalinya Ivan berucap. Shindy hanya tersenyum. Menatap pria di hadapannya dengan air mata beruraian.


"Putri kita membutuhkan kita sekarang. Kita harus bergegas sayang." tukas Shindy


"Bisakah kau mengulanginya lagi?" tanya Ivan


Blush.. Pipi Shindy memerah akibat pertanyaan Ivan. Malu luar biasa, menyebutkan panggilan itu tanpa kejelasan status diantara keduanya.


"I love You Shindy." Ivan mengecup sekilas dahi Shindy


Ivan mencoba berdiri. Menahan perih yang menjalar di kakinya. Lalu sekuat tenaga berusaha memapah Shindy. Dua orang yang terluka berjalan beriringan dalam gelapnya hutan. Ivan membungkuk pada jasad Bowo yang tergeletak. Memberi penghormatan terakhir untuk teman seperjuangannya itu. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju rumah megah berlampu redup yang menjadi tempat persembunyian Tommy.

__ADS_1


Ivan berjalan pincang, sedikit terseok menahan beban tubuhnya dan juga Shindy. Namun tekad membulat diantara keduanya. Kekuatan cinta lahir untuk saling melindungi dan berkorban satu sama lain. Dengan penuh harap, kemenangan akan berada di pihak mereka. Ivan melongok ke halaman rumah yang tampak sepi. Pancaran obor berkobar menerangi beberapa sudut rumah.


"Shindy, aku akan masuk lebih dulu untuk memastikan keadaan. Jika sudah aman, aku akan bukakan gerbangnya untukmu." ujar Ivan


"Apa kau akan memanjat dinding ini?" tanya Shindy melihat sebuah dinding tinggi berlapis kawat berduri yang ditata secara melintang.


"Harus ku lakukan agar kita berdua bisa masuk ke dalam." ujar Ivan


"Tapi, bagaimana jika kau harus terluka lagi?" tanya Shindy. Ada perasaan cemas di dalam pertanyaannya.


"Asal kau baik-baik saja. Bagiku sebanyak apapun lukanya, tidak akan terasa." Sempat-sempatnya Ivan menggombal. Shindy menarik tubuh pria itu mendekat. Mencium sekilas pipinya.


"Pergilah. Dan jemput aku secepatnya!" tukas Shindy


CUP.. Ivan mencuri satu ciuman lagi di bibir Shindy. Dengan senyum penuh kemenangan, dipanjatnya satu per satu rangkaian kawat itu hingga tiba di atas sana.


DOR.. Suara tembakan terdengar. Ivan merunduk perlahan. Membiarkan peluru itu menabrak kosong ke udara tanpa mengenai sedikit pun dari badannya.


"Sekarang giliranku!" Ivan melompat, menerjang ke arah seorang penjaga bermasker hitam dan bertopi itu.


"Katakan, ada berapa orang di dalam?" bisik Ivan nyaris tanpa suara


"Aku tidak akan memberitahumu!" tegas penjaga itu


"Benarkah?" Ivan menembakkan sebuah peluru, suara tembakan keras terdengar di telinga sang penjaga. Hingga dia pun berteriak kesakitan.


"Aku bahkan belum menembakmu!" Ivan tertawa mengejek


Memang benar, peluru itu melayang ke udara, tapi suara tembakan itu memecahkan gendang telinga sang penjaga.


"Kau masih punya satu telinga. Katakan, ada berapa orang disana?" tanya Ivan


"Empat, ada empat orang dan tahanan wanita di lantai atas. Banyak sekali." ujar pria itu ketakutan.

__ADS_1


"Lalu, dimana Tommy bersembunyi?" tanya Ivan


"Di.. Dia.." DOR.. Sebuah tembakan menembus kepala si penjaga. Darah segar mengalir membasahi kepalanya. Bahkan percikan darahnya mengotori sebagian baju dan wajah Ivan.


Ivan mendongak, melihat sang pemilik pistol tengah berdiri di atap dengan seringaian lebar.


"Rony!" gumam Ivan


DOR... Tembakan kedua terdengar. Ivan berguling ke samping, menghindari arah tembakan Rony. Dari segi kemampuan, hanya Rony yang bisa mengimbanginya. Dari kecepatan, kekuatan maupun ketepatan dalam menembak. Musuh terberat Ivan sudah keluar, bukankah ini berarti Ivan semakin dekat dengan tujuan?


Ivan menempel ke sisi dinding. Menutup jangkauan pandangan Rony, untuk terus menembakinya.


BLUG.. Suara sesuatu terjatuh dari atas terdengar. Tampak bayang-bayang seseorang tengah berjalan mendekati sisi dinding tempat Ivan bersembunyi. Langkah kaki berbalut sneakers mulai terdengar, Ivan mundur perlahan. Berusaha sebisa mungkin untuk pergi tanpa suara.


Srek srek.. Langkah kaki Rony semakin dekat, ditambah jejak darah Ivan yang mengarah padanya, mempermudah Rony untuk menemukannya.


"UHUK UHUK.." Terdengar suara seseorang terbatuk. Samar terlihat oleh Ivan, tubuh Surya tengah dibawa dua orang penjaga bertubuh besar. Tubuh tua itu jatuh tertelungkup dengan berlumuran darah. Dapat dilihat jelas, Surya telah melewati penyiksaan yang sadis. Rony berbalik arah menghampiri Surya yang sudah tidak berdaya.


"Bapak senior, Surya Irawan. Senang bertemu kembali dengan anda." ujar Rony mengangkat kepala Surya dengan ujung sepatunya


"Apa anda tidak menikmati masa pensiun yang menenangkan? Sehingga anda lebih memilih mati mengenaskan disini." ujar Rony menjambak kepala Surya


Tampak sederetan gigi Surya yang tertawa.


"Hidupku tidak akan tenang Rony Nadarama, selama Tommy masih hidup!" ujar pria tua itu tanpa rasa takut.


"Beraninya kau memanggil nama itu tanpa sebutan Tuan!" Rony menendang kasar tubuh Surya hingga terlentang


Masih dengan tawa yang sama. "Aku tidak takut mati di jalan yang benar Ron! Setidaknya, aku masih percaya pada surga yang Tuhan janjikan."


Kali ini Rony lah yang tertawa bersama dengan kedua anak buahnya.


"Pembunuh sepertimu, akan selamanya membusuk di neraka!" balas Rony

__ADS_1


Sibuk mengamati tiga orang itu, tiba-tiba seseorang menarik Ivan menjauh. Grep. Sepasang tangan menggapai jemarinya. Reflek pistol Ivan mengarah pada orang tersebut.


"Jangan.."


__ADS_2