
Mobil jeep dengan kencang melaju ke arah mereka, Ivan terpaksa banting setir ke arah kiri hingga membentur pembatas jalan. Mobil Andrian ringsek seketika.
Ivan menoleh ke arah Shindy yang tidak sadarkan diri, segera dia mengambil ponsel untuk menghubungi Andrian agar menjemput mereka. Darah segar mengalir dari pelipisnya, rasa sakit di kepalanya membuat telinga Ivan berdengung. Nyaris tidak bisa mendengar apapun yang Andrian katakan.
"Jemput kami di dekat pertigaan utama rumah Shindy. Kami diserang. Panggil polisi." ujar Ivan sebelum seorang pria yang dia kenali menariknya keluar.
Tubuhnya dilempar ke aspal sengan tatapan nyalang lawan bicaranya.
"Jadi kau memilih melindungi gadis ini? Daripada tuan Tommy yang membantumu dari dulu?" ujar Bowo dengan kaki yang menginjak dada Ivan
"Dia tidak membantuku sama sekali." ujar Ivan
"Beraninya kau bicara begitu." Tommy menendang kepala Ivan yang tergeletak
"Kita habisi saja dia Bos." ujar Rony mengisi ulang pelurunya
"Dia yang memaksa kita menghabisi Rama, juga kedua orang tuanya. Dia banyak merugikan kita. Dia harus membayar mahal atas semuanya." gumam Tommy yang berjongkok menatap wajah tidak berdaya Ivan
"Kalian telah menghabisi orang tua Rama dan menciptakan kesalahpahaman diantara kami." gumam Ivan
"Kenapa? Bukankah, kau membencinya?" tanya Tommy
"Dia sudah membunuh kakak tercintamu dan keluargamu juga kan?" lanjut Tommy dengan gelak tawa
Ivan menatap bengis ke arah mereka, sisa-sisa tenaganya dia gunakan untuk memukul rahang Tommy dengan keras. Tommy tergeletak dengan hidung berdarah.
"Kau!" Sebuah tembakan diluncurkan ke arah Ivan. Ivan menggulirkan tubuhnya dan berhasil menghindar.
Bowo yang berusaha menyerangnya dengan membabi buta, tidak satu pun mengenainya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup!" teriak Ivan menerjang ke arah kepala Bowo
Bowo terhuyung dengan telinga yang mengeluarkan darah.
"Sial kau!" Rony berusaha menembak beberapa kali ke arah Ivan, namun dengan sigap Ivan menendang pistol itu hingga terhempas ke atas. Ivan mencekal pergelangan tangan Rony dan memelintirnya ke belakang. Suara remukan tulang yang dipatahkan terdengar disertai dengan teriakan kesakitan dari Rony.
__ADS_1
"Mati kau!" Sebuah pisau lipat menghunus ke perut Ivan
Tommy berdiri dengan seringai di bibirnya. Tangannya masih memegang gagang pisau itu
"Akhirnya aku mengalahkanmu."
Ivan menatapnya tajam dengan senyuman yang aneh. Hingga Tommy merasa heran dengan ekspresi yang Ivan tunjukkan. Tak lama kemudian, samar terdengar dari kejauhan, suara tembakan bertubi-tubi diikuti suara sirine.
"Ada polisi datang Tuan? Ayo kita kabur!" ajak Bowo berbalik kembali ke arah jeep
Dor.. Sebuah tembakan melesat ke arah mobil jeep. Seketika ledakan terdengar. Rony yang berada di dekatnya, terkena semburan api. Tommy mundur perlahan dan berlari menjauh. Beberapa petugas bersama Andrian turun dari mobil. Berpencar mencoba menangkap Tommy yang berusaha kabur. Andrian menghampiri Ivan yang terkapar dengan setengah sadar.
"Terima kasih. Maaf soal mobilmu." ujar Ivan lirih
"Mana Shindy?" tanya Andrian
Tangan Ivan menunjuk ke arah mobil Andrian yang sudah tak berbentuk. Andrian bergegas bangkit dan meminta beberapa petugas membantunya. Shindy dikeluarkan dari mobil dengan beberapa luka gores di lengan dan kakinya.
"Shindy.. Bangun." Andrian menepuk-nepuk pipi Shindy.
Andrian diminta ikut ke kantor untuk dimintai keterangan. Sedangkan Shindy dan Ivan dalam tahap perawatan. Begitu juga dua orang yang tidak dia kenali. Andrian duduk di ruang tunggu sambil terus berbicara dengan istrinya via telepon.
"Anda yang bernama Andrian?" tanya seorang perawat
"Iya, saya sendiri." balas Andrian
"Pasien atas nama Ivan sudah sadar, dia ingin bertemu anda." lanjut perawat itu
"Baik." Andrian mematikan teleponnya, bergegas masuk ke ruang tempat Ivan dirawat
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Andrian
"Ceritanya panjang, yang jelas mereka bukan orang baik. Kau tau suami Shindy? Dia seorang pengedar, bosnya adalah Tommy, lelaki yang kabur tadi. Apa dia sudah tertangkap?" tanya Ivan
"Belum, polisi kehilangan jejak." balas Andrian
__ADS_1
"Sudah ku duga. Shindy dalam bahaya." ujar Ivan
"Tunggu! Apa hubungannya dengan Shindy? Bukankah, hanya Rama yang berurusan dengan bosnya itu?" tanya Andrian semakin tak mengerti
"Rumit untuk dijelaskan." Ivan mengurai satu per satu permasalahan yang terjadi antara mereka. Hingga sampai kejadian beberapa jam lalu saat Rama meninggal terkena tembakan dan penyergapan oleh Tommy di rumah Shindy. Juga alasan meninggalnya Pak Anton dan mama Shindy diamankan di rumah Pak Parmin. Ivan menceritakannya secara rinci.
"Jika Tommy tidak juga tertangkap. Besar kemungkinan, dia akan kembali membunuh Shindy untuk merebut harta papanya." terang Ivan di akhir kalimatnya
"Tapi, polisi sudah menangkap dua orang itu. Mereka juga sedang dirawat. Aku akan meminta mereka mengamankan rumah Shindy." ujar Andrian
"Boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Ivan
"Jika aku bisa membantumu, akan ku lakukan." balas Andrian
"Tolong, bawa Shindy bersamamu. Setelah dia sembuh, bawa dia ke Bali. Tinggal di rumahmu, sampai aku mendapatkan informasi tentang keberadaan bayinya." ujar Ivan
Andrian terdiam, menatap Ivan dengan serius. Ivan hanya bisa berharap pada pertolongan Andrian, untuk saat ini hanya Andrianlah yang dia percayai untuk menjaga Shindy.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Kau harus pikirkan baik-baik. Bicaralah pada istrimu agar ke depannya tidak menimbulkan salah paham diantara kalian." ujar Ivan
Andrian menghela napasnya, mengingat Retha yang belakangan ini cemburu terhadap Shindy dan kehamilan istrinya yang menginjak bulan ke tujuh membuatnya semakin sulit dalam mengambil keputusan.
"Ini, ambilah. PINnya 987654. Ini cukup untuk membeli mobil baru." ujar Ivan menyodorkan sebuah ATM pada Andrian
"Terima kasih." balas Andrian dengan seulas senyum
"Aku yang harusnya berterima kasih. Apa hasil autopsinya sudah keluar?" tanya Ivan
"Sudah, katanya Pak Anton dibunuh. Ada sidik jari Rama di sendok dan gelas kopi Pak Anton." terang Andrian
"Tapi, mereka bilang, apartemennya berantakan. Kacanya pecah, kursi dan mejanya juga seperti diserang seseorang." lanjut Andrian
"Memang, aku yang kesana bersama Shindy. Tapi bukan kami yang menembak Rama." balas Ivan
"Rama ditembak? Tapi kenapa jasadnya tidak ada?"
__ADS_1