DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)

DIUJUNG PEMBALASAN (Sang Mantan)
Merindukan Seseorang


__ADS_3

Shindy mengakhiri harinya yang melelahkan, dia berjalan seorang diri sambil menenteng beberapa kue yang sedikit hangus di bagian bawahnya. Sayang sekali jika kue seenak itu harus dibuang begitu saja. Shindy melewati gang kecil yang diterangi oleh lampu rumah warga.


"Baru pulang ya Gek?" sapa Bu Ajeng yang tengah memilah-milah bunga di nampan besar


"Iya bu. Baru pulang kerja nih." ujar Shindy melepaskan flatshoesnya


"Istirahat Gek. Jangan kecapekan, kan lagi hamil." ujar Bu Ajeng menasehati.


"Iya nih Bu, belum terbiasa kali ya, jadi pegal-pegal kakinya." Shindy mengurut pelan betisnya.


"Kakimu bengkak semua Gek, nggak pernah dikasih minyak urut ya?" tanya Bu Ajeng


"Nggak kok Bu, cuma dipijat pelan-pelan aja. Saya mual kalau nyium bau minyak yang menyengat gitu." ujar Shindy dengan dahi berkerut tanda tak suka


"Ya sudah, pake bantal yang agak tinggi ya Gek. Kalau perlu kasih guling biar peredaran darahnya lancar." ujar Bu Ajeng menasehati


Shindy tersenyum, sejenak dia merasa rindu dengan sosok Bu Wulan yang dulu selalu hangat dan memperhatikan Shindy. Tak terasa air mata Shindy menetes.


"Loh kok nangis Gek?" tanya Bu Ajeng menyudahi kegiatannya

__ADS_1


"Kangen sama mamaku Bu. Dia juga baik seperti ibu, dia sayang banget sama Shindy bu." tukas Shindy mengusap kembali air matanya yang jatuh


"Memangnya mama kamu dimana? Kalau kangen kenapa nggak ke rumahnya saja?" saran Bu Ajeng


Andai hidup yang Shindy jalani sesederhana itu. Mungkin dia akan kabur dari pulau ini dan merengek minta perhatian untuk kehamilannya pada sang ibu. Shindy menanggapi kalimat Bu Ajeng dengan seulas senyum.


"Nanti, setelah anak saya lahir. Saya akan pulang ke rumah orang tua saya." terang Shindy


"Memang baiknya begitu. Wanita hamil jangan bepergian jauh dulu. Kasihan nanti bayinya." ujar Bu ajeng membenarkan ucapan Shindy


"Ya sudah Bu, saya masuk dulu ya." Shindy pun membawa serta flatshoesnya masuk ke dalam kamar.


Sementara di tempat tinggal Rama, seorang pria dengan luka bakar yang hampir mengering tampak terjaga di dalam kamar yang dulu Shindy tempati. Pria itu bersandar pada bantal besar di punggungnya. Tampak bosan setelah menghabiskan hari-harinya di rumah itu. Ivan menatap ke arah nakas, tampak nasi bebek yang sudah mulai dingin. Entah kenapa dia enggan menyentuhnya. Pikirannya masih kacau. Belum lagi kondisi fisiknya yang masih dalam tahap pemulihan. Ivan termangu dalam diamnya, setiap hari Rama akan datang membawakan makanan dan obat. Sesekali dokter juga datang untuk memeriksa kondisinya. Dia yakin betul, ini bukan keinginan Rama. Pastilah Tommy yang meminta Rama untuk merawatnya. Ivan teringat pada Shindy, sosok istri Rama yang berhasil menguras pikirannya belakangan ini. Ya, dia merindukan gadis itu. Bagaimana kondisinya? Dimana dia sekarang dan apa kandungannya baik-baik saja? Banyak pertanyaan bermunculan tiap kali satu nama itu dia ingat. Ivan menghela napas gusar. Ingin rasanya segera sembuh dan keluar dari kurungan ini. Namun sulit untuk memastikan hal itu.


CEKLEK.. Pintu kamarnya terbuka menampilkan siluet Rama di tengah kegelapan. Rama menekan sakelar lampu. Tampak di hadapannya, Ivan yang bertelanjang dada menatap ke arahnya.


"Kau belum makan juga?" tanya Rama begitu menyadari nasi bebek yang dia belikan masih terbungkus rapi di tempatnya


"Aku tidak lapar." balas Ivan singkat

__ADS_1


"Ku rasa kau harus tetap memakannya, kau harus sembuh dulu untuk menghadapiku lagi. Ck.. Sayang sekali, tuan menginginkanku untuk merawatmu. Padahal waktu itu aku sudah menang darimu." sesal Rama yang masih memperhitungkan pertikaiannya dengan Ivan


"Aku tidak akan mati secepat itu. Tidak, sebelum aku bisa menghabisimu." Ivan menatap tajam ke arah Rama


"Apa karena aku telah menghabisi keluargamu, jadi kau memutuskan untuk membenciku hingga akhir? Atau.. Owh, karena kau menginginkan istriku!" ujar Rama


Ivan terdiam. Dendamnya pada Rama nyaris tidak ada lagi, tapi fakta bahwa Rama menyakiti Shindylah yang membuatnya tidak terima. Mungkin benar yang Rama katakan, perasaan itu lebih dari sekedar kasihan melainkan cinta?


"Ku rasa kau ingin membunuhku agar kau bisa mendapatkannya dengan mudah. Bukan begitu Van?" tanya Rama setengah meledek


"Ingat, dia istriku Van. Aku sudah menghabiskan banyak waktu dengannya. Dia tidak mungkin punya ruang sedikit pun untukmu." ujar Rama.


"Ku rasa, kau sedang cemburu Ram. Kau mencintainya, meski kau bahkan tidak bisa menerima kenyataan itu. Kau juga merindukannya atau.. Kau mulai merasa bersalah atas semua perlakuanmu padanya?" balas Ivan santai


"Kau! Tutup mulutmu itu!" Rama mengepalkan tangannya. Ingin rasanya memukul wajah Ivan yang dingin itu. Namun dia masih menahannya, dia tidak mau lagi berlama-lama tinggal di rumah ini dengan orang yang terang-terangan dia benci.


"Semua yang ku katakan benar kan Ram? Kau ingin bayimu dan Shindy kembali. Sayang sekali kau payah dalam pencarianmu" lanjut Ivan.


"Aku akan menemukannya! Aku pasti mendapatkannya! Akan ku balas setiap perkataanmu hari ini Van! Kau lihat saja nanti!"

__ADS_1


__ADS_2